Aris menoleh, dahinya mengerut. Namun senyum lebar tiba-tiba terpancar di wajahnya. "Kamu serius, Lik?" tanyanya sumringah. Malik mengangguk pelan. Aris bahkan tahu bahwa sahabatnya itu sedang memiliki pekerjaan, tetapi ia memilih untuk tidak menanyakan alasan Malik ingin bekerja dengannya. "Kamu jadi, Lik, pergi dari rumahku?" tanya Aris tiba-tiba, membuat Malik tertegun. Ia bingung harus menjawab apa, namun karena niatnya membungkus pakaian sudah ketahuan semalam, akhirnya ia mengangguk ragu. Aris kembali menoleh ke depan, netranya menatap lurus pada jalanan yang sedang ramai. "Lik, kamu kan mau kerja di tempatku nih... bagaimana kalau aku sewakan saja kamu rumah di sebelah rumahku? Kebetulan rumah itu kosong beberapa bulan lalu, penghuninya pindah ke Australia," ucapnya, sukses membuat Malik terbelakak. "Enggak usah, Ris. Kamu sudah banyak membantuku." "Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai bosmu! Dan mulai besok kamu bisa kerja di kantorku, sekalian menempati rumah itu
Last Updated : 2026-08-29 Read more