"Shhh..." Pandangan itu buyar saat Malik meringis, mengikis kembali kesadaran Sheila. "Jawab, Malik, ini kenapa? Apa kamu dipukul seseorang? Oh astaga, kasihan banget! Pasti kamu bertingkah bodoh kan, sampai membuat orang lain kesal dan memukulmu? Astaga, Malik!" Sheila terus mengoceh, bertanya sekaligus menebak-nebak apa yang terjadi. Malik hanya terkekeh pelan sambil meringis. Entah kenapa, tiba-tiba lukanya terasa begitu perih, padahal tadi ia biasa-biasa saja seolah lupa kalau bibirnya terluka. "Ayo cepat jalan, berhenti di apotek! Aku akan membeli obat dan mengobatimu," ucap Sheila lagi dengan nada tajam, berusaha tak menunjukkan kepeduliannya. "Tapi Mbak, gak usah. Ini cuma pecah sedikit, nanti juga..." "Cepat!" desak Sheila tak mau mendengar alasan pria itu. Malik menghela napas. Mau tak mau ia mengangguk patuh. Sepanjang perjalanan, Sheila mencuri-curi pandang. Wajah cemas itu tak bisa disembunyikan; mata belonya terus terlihat gelisah, benar-benar menggemaskan
Last Updated : 2026-09-08 Read more