Bab 50 Nara meletakkan penanya, lalu menatap Arkan yang duduk di sofa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. "Arkan, kalau besok Papamu benar-benar datang dan langsung masuk ke ruang sidang Lord Sterling, kalimat pertama apa yang harus aku ucapkan?" Arkan mendongak, matanya yang setajam elang menatap Nara dengan tatapan yang begitu tenang. "Jangan ucapkan maaf, Nara. Itu yang pertama." "Tapi dia orang tua, Arkan. Secara kebiasaan di Indonesia ...," "Kita sedang tidak berada di Indonesia, Kandidat Nara," potong Arkan cepat, suara baritonnya terdengar sangat tegas. "Di Oxford, kamu adalah kepala analis proyek Eropa. Begitu kamu menunjukkan sikap sungkan atau meminta maaf karena masalah keluarga, dia akan langsung tau di mana letak kelemahanmu," tutur Arkan. Nara menghembuskan nafas panjang, sambil bersandar di tepian meja. "Lalu aku harus bagaimana? Langsung menyodorkan draf ini?" "Iya," Arkan menggeser satu map tebal ke hadapan Nara. "Begitu dia duduk dan mulai meny
Last Updated : 2026-09-30 Read more