Bab 53 Tepat jam satu siang, Nara dan Arkan memilih keluar sejenak untuk melepas penat, setelah seharian berkutik dengan berkas-berkas hukum. Mereka duduk di sebuah kafe kecil yang hangat di seberang gedung, menikmati roti lapis dan kopi hangat. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ponsel Nara di atas meja kembali bergetar. Layar ponsel memunculkan nama yang sama, tetapi kali ini Nara tidak merasa setegang biasanya. "Mama," gumam Nara. Namun gumaman itu terdengar tenang, Nara menatap Arkan yang sedang memotong roti lapisnya. "Arkan, Mama menghubungiku lagi." Arkan melirik ponsel itu, lalu menatap Nara dengan tenang. "Angkat saja. Nyalakan pengeras suaranya seperti biasa, kita lihat apa dia masih punya sisa amarah setelah semua kartunya kita batasi." Nara pun menggeser tombol hijau. Namun, begitu suara dari seberang terdengar, tidak ada lagi lengkingan amarah atau makian, yang terdengar hanyalah helaan nafas yang sangat berat dan putus asa. "Nara ..." panggil Ratna,
Last Updated : 2026-10-01 Read more