Zea berdiri terpaku di balik dinding kaca pembatas ruangan steril, menatap nanar ke arah sang ayah yang terbaring kaku. Di hadapannya, Dokter Aris berdiri dengan napas tertahan, sementara Daren melipat tangan di dada dengan rahang mengeras penuh ketidakpercayaan."Aku akan mencobanya," ucap Zea pelan, memecah keheningan yang sejak tadi mencekam ruangan tersebut.Daren langsung menoleh tajam ke arah istrinya, sorot mata pria itu menyiratkan penolakan mentah-mentah. "Jangan gila, Zea. Kau baru saja mendengar risikonya. Aris sendiri bilang itu hanya teori liar yang belum tentu terbukti.""Tapi kita tidak punya pilihan lain, Daren," balas Zea dengan suara bergetar namun tegas. "Papa semakin memburuk setiap detik. Kalau kita tidak mengambil risiko ini sekarang, kita akan kehilangan dia selamanya.""Aku tidak peduli," potong Daren dingin, suaranya sarat akan mutlaknya kekuasaan seorang CEO yang tidak ingin dibantah. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi objek percobaan atas asumsi yang belu
Terakhir Diperbarui : 2026-09-25 Baca selengkapnya