LOGINKeheningan melingkupi kamar utama mansion Elvano yang diterangi cahaya lampu hangat. Di atas ranjang king size, Zea bersandar lemas pada tumpukan bantal empuk. Wajah cantiknya masih sedikit pucat, namun binar lega mulai terpancar dari matanya.Daren melangkah mendekat sembari membawa mangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Pria itu duduk di tepi ranjang, menarik sendok lalu meniup busa uap tipis di atasnya sebelum mengarahkannya ke bibir sang istri."Ayo buka mulutmu, Sayang," ujar Daren dengan nada suara yang teramat lembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasa dingin dan dominan.Zea menatap suaminya dengan cemberut tipis, namun tetap menerima suapan tersebut. "Aku bisa makan sendiri, Daren. Aku bukan anak kecil.""Diamlah dan makan saja," potong Daren santai. Pria itu kembali menyendokkan bubur dan mengarahkannya lagi."Tubuhmu masih lemas setelah prosedur medis tadi. Tugas suami adalah melayani istrinya sampai pulih total."Zea mengunyah pelan, menatap lekat garis waj
Denting bel darurat bergema pelan di dalam area kamar steril. Tak berapa lama kemudian, pintu tebal berbahan khusus itu bergeser terbuka secara otomatis. Dokter Aris melangkah masuk ke dalam ruangan bersama tiga asisten pria dari tim medis senior yang mengenakan pakaian pelindung steril.Daren yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan sigap menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuh Zea. Hanya lengan kiri mulus istrinya yang dibiarkan menyembul keluar. Daren merengkuh bahu Zea, mendekap wanita itu erat-erat ke dalam dadanya.Wajah Zea membara merah padam, menyembunyikan paras mewarnainya tepat di leher Daren karena rasa malu yang teramat sangat. Daren terkekeh pelan, menunduk sedikit untuk membisikkan sesuatu di telinga istrinya."Kenapa menyembunyikan wajahmu, Hm? Mereka hanya ingin mengambil darah," goda Daren dengan nada rendah."Daren, diamlah," bisik Zea sangat pelan seraya mencubit pinggang suaminya di balik selimut.Dokter Aris melangkah mendekati sisi ranjang semb
"Kita masih punya banyak waktu, Sayang."Daren menarik keluar alat itu dengan satu sentakan lembut, menimbulkan suara pop yang basah. Zea merasa kehilangan sesuatu, ia merasa hampa seketika. Namun, sebelum ia sempat memprotes, Daren mengubah posisinya. Ia mengangkat kaki Zea yang tidak cedera dan menyampirkannya di bahunya, sementara kaki yang terkilir tetap bersandar nyaman di atas bantal.Kini, Daren mengeluarkan kejantanannya sendiri. Tongkat kebanggaannya sudah menegang sempurna, urat-uratnya menonjol, berdenyut meminta pelepasan."Lihat ini, Zea. Dia juga sudah tidak sabar ingin menyapamu."Zea menatap milik Daren dengan tatapan lapar. Tanpa menunggu lama, Daren mengarahkan ujung kejantanannya yang sudah basah oleh pre-cum ke lubang Zea yang masih terbuka lebar dan berdenyut akibat permainan alat tadi."Ahhh!" Zea menjerit pelan saat Daren menghujam masuk dalam satu gerakan mantap.Rasanya jauh lebih hangat, lebih keras, dan lebih nyata. Zea merasakan dinding-dindingnya men
Zea mematung. Jemarinya yang mungil masih menggenggam ujung kemeja Daren, sementara matanya tidak bisa lepas dari deretan benda silikon berwarna pastel dan transparan yang berkilau tertimpa lampu ruangan. Ada yang berbentuk lonjong dengan tekstur bintik-bintik, ada yang melengkung aneh menyerupai bulan sabit, dan ada pula yang memiliki kabel kecil terhubung ke sebuah modul kendali."Daren, kau gila ya? Sejak kapan kau mengumpulkan benda-benda aneh seperti ini?"Daren terkekeh. Suara beratnya bergema di ruangan yang kedap suara itu. Ia mengambil salah satu benda berbentuk oval dengan permukaan yang sangat halus."Bukan mengumpulkan, Sayang. Aku menyediakannya. Ini semua kelas medis, bahan silikon premium yang paling lembut di dunia. Tidak akan melukai kulitmu yang sensitif."Zea melangkah mundur satu tindak, wajahnya semakin merah padam."Tapi bentuknya... kenapa ada yang punya tonjolan seperti itu? Dan yang itu, kenapa terlihat seperti... ah! Aku tidak mau menyebutnya. Daren, i
Matahari sore baru saja terbenam saat deretan mobil serba hitam memasuki pelataran fasilitas laboratorium isolasi Elvano Group. Udara dingin di lorong utama terasa begitu pekat, diiringi dentang langkah kaki Daren yang mantap sembari merengkuh pinggang Zea. Di sepanjang koridor, puluhan anggota tim medis berjas putih sibuk berlalu-lalang menyiapkan peralatan medis tingkat tinggi.Dokter Aris yang berdiri di depan pintu kaca tebal langsung melangkah maju menyambut kedatangan mereka. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang, namun ada selarik rasa lega yang terpancar dari matanya."Selamat sore, Tuan Daren, Nyonya Zea," sapa Dokter Aris ramah seraya menundukkan kepala sedikit."Bagaimana kesiapannya, Aris?" tanya Daren langsung tanpa membuang waktu.Dokter Aris membetulkan posisi kacamatanya, lalu melirik ke arah tim analisis di belakangnya. "Semua sudah siap, Tuan. Peralatan ekstraksi darah steril dan unit pemroses vaksin utama sudah terhubung langsung ke ruangan ini.""Berapa lama je
Pintu utama mansion terbuka pelan saat Daren melangkah masuk sembari menggendong Zea yang tertidur lelap. Seorang pelayan paruh baya yang sedang merapikan vas bunga di area lorong bergegas mendekat, berniat memberikan salam kepatuhan."Tuan Daren, selamat sore, apakah Nyonya—"Daren meletakkan satu jarinya di depan bibir, memberikan gestur dingin yang amat tegas. "Diam. Jangan bersuara," bisiknya dengan nada rendah namun tajam.Pelayan itu merapat ke dinding, langsung menundukkan kepala dalam-dalam. "Baik, Tuan. Maafkan saya.""Siapkan kompres hangat dan kotak obat ke kamar utama sekarang," perintah Daren pelan tanpa menghentikan langkah kakinya menuju tangga."Segera, Tuan Daren," jawab pelayan itu setengah berbisik.Daren melanjutkan langkahnya menyusuri lorong lantai dua, lalu membuka pintu kamar utama menggunakan siku tangannya. Ia melangkah masuk, mendekati ranjang berukuran king size yang tertata rapi. Dengan gerakan amat cermat, Daren membaringkan tubuh ramping istrinya di at







