Joni buru-buru menumpukan kedua tangannya di tepi meja bar marmer, sengaja memposisikan bagian bawah tubuhnya tetap terhalang partisi kayu. Ketegangan di balik celananya terasa begitu padat dan menyiksa, mengirimkan denyutan panas yang membuat pelipisnya basah oleh keringat dingin."Nggak apa-apa, Rin," sahut Joni cepat, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap datar meski napasnya masih agak berat. "Ini... uap mesin espresso panas banget pas tadi di-purge."Rina melangkah mendekat, matanya memindai wajah Joni yang tampak merah padam. Kening gadis itu berkerut tipis. Tanpa ragu, Rina meraih selembar tisu bersih, lalu berjinjit sedikit untuk mengusap pelipis Joni yang basah.Aroma losion buah manis menguar tajam dari tubuh Rina saat jarak mereka terpangkas tinggal sejengkal."Makanya jangan terlalu dekat-dekat corong steam," omel Rina pelan, suaranya terdengar lembut dan sarat perhatian. Jemarinya sempat menyentuh kulit kening Joni secara tidak sengaja. "Tuh kan, hangat banget kening
Última actualización : 2026-09-30 Leer más