Selepas pertemuan itu, baik Lucien atau Helena tidak ada yang bergerak. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepala masing-masing. Hanya suara ponsel Lucien yang membuat keduanya mengerjap pelan. “Siapa?” tanya Helena, nyaris tanpa suara. Dia menatap ponsel di tangan Lucien. “Anak buahku,” katanya. “Mereka sudah mengamankan Deren.” Hening menyapa kembali. Helena memejamkan matanya sebentar, lalu menatap lurus kedepan. “Apa yang akan kamu lakukan pada Deren? Dia sepupumu, Lucien,” kata Helena serak, ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi di kantor. “Kalau kamu menghukumnya, kamu pasti akan mendapatkan masalah baru dari keluargamu—”“Aku tidak peduli,” potong Lucien. Pria itu berdiri, lalu merapikan jasnya. “Orang yang bersalah, tetap harus dihukum. Sekalipun itu keluarga, dia tetap harus menerima konsekuensi dari semua yang dia lakukan.”Helena menunduk sebentar, lalu kembali menatap Lucien dalam. “Iya, tapi jangan gegabah. Kamu dikuasai emosi, sekarang,” ujar Helena pelan. Pri
Dernière mise à jour : 2026-10-12 Read More