LOGINSetelah mendapat perintah itu, Lucien tidak membuang waktu. Dia mengajak Helena untuk pergi bersamanya. Helena menarik tangan Lucien. “Kamu bilang, Deren sudah dilepaskan. Lalu kenapa kita sendiri yang harus menjemputnya?” tanya Helena. Dia menyipit bingung menatap punggung Lucien. Pria itu menoleh. “Ayah memang membebaskannya. Tapi dia masih terkurung di gudang bawah tanah yang ada di rumahku.”Tubuh Helena menegang. Gudang bawah tanah? Penjara macam apa yang dimiliki keluarga Sinclair?Helena refleks meremas jemari Lucien yang menggenggamnya. Pupilnya menyusut membayangkan beberapa kemungkinan yang kini mengganggu isi kepalanya. “Ayo, aku ingin masalah ini cepat selesai—”“Kenapa aku harus ikut?” tanya Helena memotong. Dia melepaskan genggamannya, dan refleks mundur selangkah. “A-aku tidak bisa ketempat seperti itu.”Lucien menghela napas panjang. Dia menghadap Helena sepenuhnya, tangan terlipat di depan dada, dengan wajah yang sedikit dimiringkan. “Jangan terlalu liar imajinasi
Lucien hanya mengangguk datar. Dia mempererat pelukannya. Hembusan napas kasar Helena berhasil membuat pria itu mengendurkan pelukan, dan perlahan melepaskannya.“Aku sudah percaya padamu,” kata Helena, begitu Lucien menatapnya dalam. “Kalau aku tidak percaya, tidak mungkin aku mau melakukan ini berulang kali.” “Tapi kecelakaan itu—”“Adrian memilihnya sendiri. Bahkan jika kamu berhasil menyelamatkannya saat itu, dia mungkin akan mengulanginya lagi sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.”Helena menunduk, mengingat kembali sosok Adrian yang akan selalu tunduk pada pendiriannya, sekalipun itu mengancam nyawa. “Jadi berhentilah menyalahkan dirimu,” lanjut Helena, mengangkat dagu perlahan, dan mengulas senyum untuk Lucien. Keheningan menyapa di kabin mobil itu. Namun perlahan, hati mereka justru menghangat. Ternyata tidak ada yang salah dengan berterus terang. Justru semuanya terasa jauh lebih ringan daripada terus menutupi kebenaran.*** Setelah kembalinya Roy Sinclair, kantor ca
Mereka masih duduk berdekapan di dalam mobil. Napas belum sepenuhnya teratur ketika ponsel Lucien yang tergeletak di dashboard tiba-tiba bergetar.Helena bisa merasakan tubuh Lucien menegang. Pria itu segera meraih ponselnya, menatap layar selama beberapa detik dengan kening berkerut.“Siapa? Ada masalah lagi?” tanya Helena. Dia membelai pipi Lucien, membuat pria di depannya menoleh padanya. “Katakan, Lucien. Apa ada masalah yang lebih serius?”Lucien tidak langsung menjawab. Dia menatap Helena dalam, lalu menggeleng pelan. Lucien mengecup kening Helena, berusaha menenangkan wanita yang kini sudah gelisah. “Lalu, ada apa dengan wajah tegang itu?” tanyanya, menempelkan kembali kepalanya di dada Lucien. “Kamu tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresi itu dariku, Lucien.”Lucien terkekeh pelan. Dia menepuk puncak kepala Helena, lalu mengecupnya. “Iya, aku tahu,” katanya. “Ada anak buahku yang bilang, kalau Deren sudah dibebaskan. Dia akan dibawa ke rumah malam ini.”Helena langsung menj
Helena membiarkan kerinduan yang selama ini mereka pendam menemukan jalannya. Namun, ketika Lucien mulai menariknya semakin dekat, wanita itu teringat bahwa mereka masih berada di lorong yang bisa dilewati siapa saja. “Lucien, jangan. Kita tidak bisa melakukan ini di sini—” Helena menahan bahu pria itu, berusaha mengingatkannya pada keadaan sekitar. Namun, tatapan Lucien membuat kalimat berikutnya tertahan di ujung lidahnya. “Lucien,” desah Helena. “Aku menginginkanmu…” Lucien melepaskan pelukannya. Matanya mengunci tatapan Helena. Tangannya membelai lembut pipi wanita itu yang sudah memerah. “Aku juga menginginkanmu, sayang,” katanya serak. Lucien melirik mobilnya yang terparkir di ujung garasi. Ia kembali menatap Helena, seolah menunggu keputusan wanita itu. “Ikut aku,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Helena memandang tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Ia tahu keputusan tersebut bisa membawa konsekuensi, tapi ada begitu banyak hal di antara mereka yang belum sempat
Belum sempat Lucien menjawab, Roy sudah berlalu pergi. Dia berjalan tegas menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Lucien masih memperhatikan tanpa melepaskan pelukannya. Barulah saat mendengar suara pintu tertutup, pelukannya yang semua rapat kini langsung mengendur. Helena meraup napas sebanyak yang dia bisa, lalu mendongak menatap Lucien. “Kenapa kamu melawan ayahmu?” suara Helena yang lirih membuat Lucien menunduk menatapnya. Wanita itu sudah kembali menangis. Pria itu menangkup wajah Helena, menghapus air matanya dengan ibu jari. “Aku lebih memilih melawannya daripada aku harus kehilanganmu,” katanya. Pria itu tersenyum, lalu mengecup kening Helena. Ekspresi Lucien tidak lagi terlihat tegang seperti ketika berhadapan dengan Roy. “Dan kamu sudah membuatku marah, Helena,” katanya. Kedua alisnya saling bertaut, tapi wajahnya masih mengulas senyum. Dia menempelkan keningnya dengan kening Helena. “Kamu menyakitiku karena sudah mengusirku dari hidupmu.”Helena berkedip ringan
Helena masih menatap wajah Lucien yang begitu tegang. Tangannya yang gemetar sedikit menarik ujung kemeja Lucien sampai membuat pria itu tersentak lalu menoleh padanya.“Bukan apa-apa. Kamu tenang saja,” kata Lucien, seolah menjawab pertanyaan hanya dari sorot mata Helena saja. “Aku akan melindungimu. Itu janjiku.”Pria itu membelai pipi Helena, sebelum akhirnya kembali menatap sang ayah. “Aku akan melepaskan Deren,” katanya. “Dan karena ini masalahku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya.” Roy tidak menjawab. Dia berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan kedua tangan terlentang di sandaran sofa. Matanya masih memperhatikan Lucien dan Helena silih berganti. “Itu memang sudah seharusnya,” ujar Roy datar. “Kami juga tahu bagaimana Sinclair membersihkan pengacau. Jangan pernah membuang waktu lagi. Aku tidak suka bermain-main.”Helena bisa merasakan Lucien menahan napasnya. Bahkan genggaman tangan pria itu kian menguat, seolah memberi tahu kalau ini bukan hanya sekedar peringatan biasa







