Share

Bab 92. Kedatangan Deren

Penulis: Min Ye-Rin
last update Tanggal publikasi: 2026-10-13 11:43:06

Tangan Lucien menyentuh dada Helena, meremasnya pelan, sambil sesekali mencubitnya.

Helena yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Lucien hanya terkekeh ringan. “Hey, kita sudah melakukannya tadi,” katanya menggoda. “Kita tidak mungkin melakukannya lagi.”

Lucien tidak menjawab. Dia justru mencium dan menghisap leher jenjang Helena, membuat wanita itu mendesah halus.

“Aku tidak akan pernah bosan melakukannya denganmu, sayang…” katanya berbisik. Tangan Lucien menyentuh bekas merah di leher He
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 93. Hanya Masalalu

    Tawa hambar dari Deren membuat Helena dan Lucien menoleh ke arahnya. “Jadi kalian menjalin hubungan dengan kebohongan?” tanya Deren rendah. Lucien sudah mengepalkan kedua tangannya. Tapi dia masih menahan diri, dia lebih memilih menahan diri. “Baiklah. Selesaikan saja prahara rumah tangga yang tidak jelas ini. Aku akan menunggu keputusanmu secepatnya.” Deren mengangkat kedua bahunya, kemudian pergi. Setelah kepergian itu, momen dingin diantara Lucien dan Helena terasa semakin mencekam. Helena tidak bergerak, dia masih menatap kosong ke depan, berusaha mencerna kenyataan baru yang dia dengar. Helena bersimpuh di atas lantai marmer. Dia teringat tentang ucapan Ayah Lucien lima tahun lalu, saat pemakanan Adrian sudah selesai. Ancaman yang selama bertahun-tahun tidak memiliki alasan, kini mulai mendapat titik terang. “Kenapa kamu tidak bicara masalah ini padaku?” tanya Helena, suaranya serak menahan sesak. “Aku sudah bilang, jangan ada lagi yang kamu sembunyikan. Ini masalah besar,

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 92. Kedatangan Deren

    Tangan Lucien menyentuh dada Helena, meremasnya pelan, sambil sesekali mencubitnya. Helena yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Lucien hanya terkekeh ringan. “Hey, kita sudah melakukannya tadi,” katanya menggoda. “Kita tidak mungkin melakukannya lagi.”Lucien tidak menjawab. Dia justru mencium dan menghisap leher jenjang Helena, membuat wanita itu mendesah halus. “Aku tidak akan pernah bosan melakukannya denganmu, sayang…” katanya berbisik. Tangan Lucien menyentuh bekas merah di leher Helena yang baru saja dia tinggalkan. “Sudah cukup,” kata Helena pelan. Dia berbalik badan menatap Lucien, membelai rahang tegas pria itu, lalu mengecup bibirnya singkat. “Aku mau mandi, dan tidur. Hari ini begitu melelahkan. Aku tidak bertenaga untuk melakukannya.” Ada raut kecewa di wajah Lucien, dan itu berhasil membuat Helena ikut merasa bersalah. Helena menjatuhkan wajahnya di dada Lucien, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu. “Aku lelah…” rengeknya pelan. Lucien tidak menjaw

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 91. Setelah Tekanan

    Selepas pertemuan itu, baik Lucien atau Helena tidak ada yang bergerak. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepala masing-masing. Hanya suara ponsel Lucien yang membuat keduanya mengerjap pelan. “Siapa?” tanya Helena, nyaris tanpa suara. Dia menatap ponsel di tangan Lucien. “Anak buahku,” katanya. “Mereka sudah mengamankan Deren.” Hening menyapa kembali. Helena memejamkan matanya sebentar, lalu menatap lurus kedepan. “Apa yang akan kamu lakukan pada Deren? Dia sepupumu, Lucien,” kata Helena serak, ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi di kantor. “Kalau kamu menghukumnya, kamu pasti akan mendapatkan masalah baru dari keluargamu—”“Aku tidak peduli,” potong Lucien. Pria itu berdiri, lalu merapikan jasnya. “Orang yang bersalah, tetap harus dihukum. Sekalipun itu keluarga, dia tetap harus menerima konsekuensi dari semua yang dia lakukan.”Helena menunduk sebentar, lalu kembali menatap Lucien dalam. “Iya, tapi jangan gegabah. Kamu dikuasai emosi, sekarang,” ujar Helena pelan. Pri

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 90. Ketegangan

    “Aku sudah mengatur waktunya,” kata Helena. Dia tersenyum, tangannya membelai pipi Lucien. “Kita akan bertemu mereka nanti malam.”Lucien tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Helena. “Kamu banyak berubah, sayang…” bisiknya pelan. “Kamu lebih berani dan percaya diri. Aku sangat menyukainya.”Helena diam. Tatapannya lurus kedepan. Bukan karena dia berani, jantungnya justru sudah berdegup kencang. Hanya saja, dia memang harus melakukan itu. Dia tidak bisa membiarkan Lucien terus menanggung masalah karena kecerobohannya. “Itulah tugas sekretaris,” kata Helena, membuat Lucien mendongak menatapnya dengan mata merah. “Dan tugas orang yang sangat menyayangimu,” lanjutnya. Helena menepuk pundak Lucien, lalu melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. “Aku akan menyiapkan proposal itu,” kata Helena. “Aku kenal setiap detailnya lebih baik dari siapapun di timmu. Kalau kita harus meyakinkan investor itu untuk kembali, aku bisa membantu menje

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 89. Kegagalan

    Helena menatap punggung Lucien. Pria itu sedang serius menerima panggilan telepon, tidak banyak bicara, hanya mendengarkan. Tapi diamnya berhasil membuat jantung Helena berdegup kencang. “Ada apa? Siapa yang menghubungimu?” tanya Helena, ketika Lucien selesai menerima panggilan itu. Matanya mengikuti Lucien yang kini duduk di tepi ranjang. “Hey, katakan sesuatu?” tanya Helena, sedikit mengguncang tubuh pundak Lucien. Pria itu menoleh. Matanya merah, wajahnya tegang. Dia seperti hendak bicara, tapi masih ragu. Helena buru-buru menangkup wajah Lucien. “Ada apa? Apa terjadi masalah yang serius?” “Ayahku,” kata Lucien berat. “Dia bilang, investor ini jatuh ke tangan Dubois.” Pria itu menatap Helena sebentar, lalu membungkuk lemas. Helena menahan napas. Ini semua gara-gara map yang hilang itu. Lucien mendapat masalah karena kecerobohannya. “Jatuh ke tangan Dubois?” tanya Helena lirih. “M-maksudmu, investor itu sekarang kerja sama dengan mereka, bukan dengan Sinclair?”Lucien mengang

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 88. Bersekongkol

    “Kita keluarkan bersama, sayang…” ujar Lucien, suaranya pecah dengan napas yang semakin kasar. Tangannya tidak diam, terus memukul bokong Helena, membuat wanita itu semakin tersentak. Sampai akhirnya lenguhan panjang keduanya menjadi akhir dari puncak keintiman hari itu. Tubuh Helena ambruk, begitupun dengan Lucien, yang sudah mencabut miliknya dan jatuh ke samping Helena. “Maaf kalau hari ini aku terlalu kasar,” bisik Lucien, dia menarik Helena ke dalam pelukan. “Aku terbawa emosi.”Helena tidak menjawab. Namun dia ikut melingkarkan tangannya di pinggang Lucien, membuat tubuh keduanya saling menempel, hangat, dan nyaman. “Kamu marah padaku?” tanya Lucien, setelah sekian lama Helena tidak bicara. Helena mengangkat wajah, menatap Lucien, lalu tersenyum. Dia menggeleng. “Aku sangat menyukainya,” katanya lirih. “Semuanya… semua yang kamu lakukan hari ini, aku sangat menikmatinya.” Seulas senyum kembali terukir di wajah tegas Lucien. Dia menyeka keringat di kening dan pelipis Helena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status