Di sudut ruangan, Erni begitu geram pada Indra. Namun ia mati-matian menahan diri agar tak menunjukkan sikap emosi di depan Nindiya. Dalam hati, Erni sangat berharap saat ingatan Nindiya pulih nanti, kenangan manis di masa lalulah yang muncul pertama kali, bukan pengkhianatan menyakitkan dari pria ini.Sore berganti malam. Usai azan Maghrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumah sakit, Erni langsung berdiri dan menghampiri Indra. "Mas, kamu pulang saja sekarang," tegas Erni.Awalnya Indra enggan beranjak. Namun Erni menarik lengannya sedikit memaksa hingga mereka keluar pintu."Berbuat sewajarnya saja, Mas. Nggak usah berlebihan," bisik Erni yang mungkin ini terdengar kejam. "Sikapmu yang seperti ini cuma bakal bikin Nindiya makin curiga dan banyak pikiran. Kasihan dia, jika yang diingat pertama kalinya adalah rasa sakitnya."Indra menarik napas panjang. Rasa pedih menusuk hati. "Siapa yang memindahkan Nindiya ke ruang VIP ini, Mbak? Kemarin Ibu menolak tawaranku.""Kakaknya Nin
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-28 อ่านเพิ่มเติม