Dengan raut wajah cemas, Bu Mira memutar gagang pintu dan masuk.Di atas pembaringan, dilihatnya sang putri sedang duduk menepi di sudut kasur, memeluk erat kedua lututnya dengan tubuh yang gemetar hebat."Nin, ada apa?" tanya Bu Mira panik. Wanita paruh baya itu bergegas mendekat, lalu merangkul bahu rapuh putrinya.Nindiya menarik napas panjang yang terputus-putus. Dadanya naik turun memburu, hembusan napasnya terasa panas. Ia membiarkan kepalanya bersandar di pundak sang ibu, terdiam cukup lama untuk menata hatinya."Bu, aku sudah ingat semuanya." Suara Nindiya bergetar.Bu Mira kaget. Tangannya mengusap kepala Nindiya dengan haru. "Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya ingatanmu kembali, Nin. Anak Ibu sudah pulih.""Ternyata semuanya begitu menyakitkan, Bu. Hubunganku yang kandas dengan Mas Khaisar. Aku ingat pernikahanku dan bagaimana sakitnya dikhianati, aku ingat bagaimana hancurnya pernikahan itu. Kenapa rasanya sama perihnya seperti saat pertama kali terjadi, Bu?"Air mata Bu Mir
최신 업데이트 : 2026-10-06 더 보기