“Sudah malam, Sayang,”Suara Alea pelan, tapi cukup untuk menghentikan Lukas. Ia menahan tangan pria itu dengan lembut.“Kamu akan capek. Besok kamu masih harus mengurus kontrak dengan Bu Tasya, kan?”Lukas menatapnya beberapa detik. Napasnya masih belum stabil.“Bersabarlah sampai saat itu, Lukas.”Nada suara Alea tenang. Telapak tangannya mengusap punggung pria itu. Akhirnya Lukas menghela napas.“Baik.” Tangannya terlepas. “Tapi, aku tetap tidur di ranjangmu, ya. Sama kamu.”Alea mengangkat alisnya. Itu permintaan yang tidak mungkin ia tolak.“Iya. Sudah sana, mandi dulu. Baju piyamamu ada di lemari,” Ia menjauhkan diri dari Lukas. “Aku buatkan jahe hangat dulu ya, biar tidurmu nyenyak.”Lukas mengangguk, berbalik meninggalkan Alea menuju kamar. Rumah itu milik orang tua Alea. Dan semenjak meninggalnya mereka, Alea mengalami depresi, diperparah tinggal sendiri di rumah itu.Begitu Lukas datang ke kehidupannya, ia hampir setiap hari bersama Alea di sana. Dengan sangat sabar menemani
Última actualización : 2026-09-20 Leer más