Keheningan ruang tengah yang luas itu seketika terasa menyesakkan, sarat akan ketegangan yang membakar akal sehat. Kata-kata Devan berputar liar di kepala Aira, merayapi setiap jengkal kulitnya hingga meremang hebat."Kamu terlalu lancang, Devan," bisik Aira, suaranya bergetar parau seraya bangkit dari sofa dan melangkah perlahan menuju kamarnya di lantai atas."Lancang?" Devan mendengus pelan, kekehan rendahnya terdengar begitu dekat, seolah pria itu tengah berbisik tepat di tengkuk Aira. "Lalu kenapa kamu tidak menutup panggilannya, Aira? Kenapa napasmu terdengar seberat itu sekarang?"Aira menutup pintu kamar tidurnya rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Ia berjalan gontai ke arah cermin rias, menatap pantulan dirinya yang tampak berantakan, kaus tipis yang sedikit basah oleh keringat, dan rona merah pekat yang membakar kedua pipinya."Aku ... hanya kelelahan," dalih Aira lemah."Bohong," potong Devan serak. Di seberang sana, suara hembusan napas pria itu terdengar semaki
Última actualización : 2026-09-09 Leer más