"Kamu yakin, nggak mau ikut aku?" tanya Maya memastikan sekali lagi.Aira menatap temannya itu dengan pandangan dalam, lalu mengangguk pelan. "Yakin, ini resiko dari jalan yang aku ambil." "Baiklah, aku pamit dulu." Maya mengusap lengan temannya itu dengan lembut, mencoba menyakinkan Aira bahwa dia tidak sendirian menghadapi ini semua. "Kabari kalau suamimu bertindak kurang ajar. Nanti aku akan datang sambil membawa parang." Aira terkekeh pelan mendengar penuturan Maya. Semenjak mengenal wanita itu, dia jadi tidak sendirian lagi, ada teman untuk di ajak berbagi cerita. Walaupun Aira tahu, jika Maya hadir karena tugas Devan."Terima kasih sudah datang," ucap Aira terdengar tulus.Maya tersenyum, lalu berpamitan pulang. Rumah kembali hening, menyisakan Aira dengan perasaan yang kembali hampa. Matanya menyapu sekitar yang sudah kembali rapi dan bersih, tidak ada jejak amukan siapapun di tempat ini."Baiklah, mari mulai rencana ke dua," bisik Aira terlihat bersemangat. Wanita itu mulai
Última actualización : 2026-09-25 Leer más