"Hmmpptt ..." Aira memukul dada Devan sekuat tenaga saat ciuman pria itu begitu dalam dan membuatnya hampir tenggelam. "Ini salah, tidak seharusnya kita melakukan hal ini," bisik Aira mengingatkan, "ingatlah pada tujuan awal kita datang kemari." "Aku tidak peduli," bisik Devan serak, memutus keraguan yang sempat menggantung di antara mereka.Pria itu kembali menunduk, tak membiarkan Aira membangun jarak sedikit pun. Kali ini pagutannya tidak lagi terburu-buru, melainkan lambat, dalam, dan menuntut balasan.Setiap penolakan yang sempat terlintas di benak Aira perlahan menguap, tergilas oleh dominasi Devan yang kian membakar. Aira mencengkeram kain kemeja di punggung Devan saat tubuh liat pria itu menindihnya kian rapat di atas ranjang. Desah napas berat keduanya saling beradu di keheningan kamar 303 yang temaram, menenggelamkan sisa peringatan moral yang sempat Aira suarakan."Tatap aku, Aira," desis Devan parau di sela napasnya yang memburu, jemarinya menyelusup ke sela helai r
Última actualización : 2026-09-20 Leer más