Udara pagi terasa sejuk di desa Sukasari. Aira terlihat termenung di teras rumah, tangannya sibuk merajut benang wol berwarna krem lembut, mengabaikan pola yang sesekali meleset karena pikirannya melayang jauh.Di hadapannya, kabut tipis perlahan terangkat dari pucuk-pucuk daun teh yang basah oleh embun. Aroma tanah basah dan kesegaran daun hijau yang khas membuncah ke udara, menghadirkan aroma masa kecil yang dulu selalu membuatnya merasa aman. Namun, damai yang ditawarkan langit Sukasari pagi ini belum sepenuhnya mampu menambal rongga hampa di dadanya."Merajut itu pakai rasa, Ra, bukan pakai lamunan kosong," tegur sebuah suara renyah dari arah samping.Aira tersentak pelan. Ia menoleh dan mendapati Maya sudah berdiri di ambang pintu kayu jati, membawa baki kecil berisi dua cangkir teh melati panas yang masih mengepulkan uap tipis serta sepiring pisang goreng hangat.Aira tersenyum tipis, meletakkan jarum rajutnya di atas pangkuan. "Cuma melamun sedikit, May. Rasanya aneh saja,
Last Updated : 2026-09-30 Read more