Mauren bangkit dengan perasaan hampa dan linglung, lalu perlahan melangkah keluar dari ruang VIP yang ramai itu.Dari belakang, terdengar suara Sacha. "Mau kuantar?"Mauren hendak menggeleng untuk menolak. Namun, Sacha malah melanjutkan perkataannya sendiri dengan santai, seolah semuanya sudah sewajarnya begitu."Sudahlah, aku mau jemput Maurah ke sini. Malam ini Roury terus memikirkan Maurah. Sebelum menikah, biarkan saja mereka bersenang-senang sekali. Kamu nggak keberatan, 'kan?"Tanpa menunggu jawaban apa pun dari Mauren, Sacha berbalik dan kembali ke ruang VIP.Tengah malam, Mauren berjalan sendirian di jalanan. Kesedihan dan rasa sakit yang datang terlambat membuatnya terus-menerus ingin muntah.Saat SMA dulu, sepulang sekolah di tengah hujan deras, semua orang sudah pulang. Hanya Roury yang memegang payung besar dan berdiri di depan gedung sekolah, menunggunya selama setengah jam.Setelah Mauren datang, dia langsung memiringkan payung ke arahnya dan mengambil tas sekolahnya deng
Read more