Share

Bab 5

Author: Tedy
Setelah akhirnya selesai dengan latihan permainan penjemputan pengantin, mereka mulai berdiskusi mau makan di restoran mana.

Saat sudah sampai di lantai bawah, Mauren tiba-tiba berhenti dan meremas ujung pakaiannya.

"Eh, gelangku ketinggalan di meja ruang tamu. Gelang itu sangat penting."

Roury menoleh dan melirik jendela rumah di lantai atas, lalu kembali memandang Mauren. "Mauren, gimana kalau kamu ambilkan untuk kakakmu? Kakakmu nggak tahu kode sandinya."

Mauren berdiri di tempat dan menatapnya. Dia tahu, mungkin mereka ingin memanfaatkan waktu saat dia naik ke atas. Mungkin untuk sebuah pelukan, mungkin beberapa kata penghiburan sebelum pernikahan, atau mungkin sebuah janji yang seharusnya tidak dia dengar.

Namun, Mauren tidak mengatakan apa pun, hanya mengangguk pelan. Lagi pula, dia memang berencana kembali ke rumah itu untuk mengambil beberapa foto seluruh ruangan dan mengirimkannya kepada agen properti.

Mauren berbalik dan kembali ke lantai atas. Baru saja dia memasukkan kode sandi, sebuah kekuatan besar dari belakang tiba-tiba mencengkeram lengannya, membantingnya dengan keras ke dinding. Brak!

Pandangan Mauren seketika berkunang-kunang.

"Dasar jalang!" Sebelum Mauren sempat sadar sepenuhnya, sebuah tamparan sudah mendarat di wajahnya. Kepalanya terpukul hingga menoleh ke samping, sementara bau amis darah memenuhi mulutnya.

"Baru saja cerai, kamu sudah menggoda pria lain ya? Benar-benar nggak tahu malu!"

Akhirnya, Mauren bisa melihat dengan jelas pria di hadapannya. Matanya merah, seluruh tubuhnya berbau alkohol. Dia adalah mantan suami Maurah, pria yang gemar melakukan KDRT.

Dengan susah payah, Mauren menopang tubuhnya. Mulutnya masih dipenuhi darah, sementara tenggorokannya terasa menegang.

"Kamu salah orang. Aku bukan Maurah."

Pria itu tertegun sesaat, lalu langsung mencekik leher Mauren dan menekannya ke dinding. Dengan gigi terkatup, dia berkata, "Kamu masih mau bohong? Kalau bukan karena dua hari lalu kamu keceplosan waktu mengirim pesan dan bilang kalau malam ini kamu akan datang ke sini, mana mungkin aku bisa menunggumu di sini!"

Mauren hampir tidak bisa bernapas karena dicekik. Kukunya mencengkeram punggung tangan pria itu. Karena kesakitan, pria itu melepaskannya, tetapi segera membalas dengan sebuah tamparan keras.

Tubuh Mauren terhuyung hingga jatuh ke lantai. Bagian belakang kepalanya membentur sudut meja. Darah hangat perlahan mengalir dari belakang lehernya.

Pria itu mengangkat kakinya dan langsung menendangnya. Mauren meringkuk di lantai. Dengan jari-jari yang gemetar, dia berhasil meraba ponsel di sakunya dan menghubungi nomor Roury. Namun, panggilannya langsung ditolak.

Napas pria itu memburu. Dia berjongkok, lalu menjambak rambut Mauren dan mengangkatnya dari lantai. Dengan tangan yang lain, dia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan menempelkannya di sisi leher Mauren.

"Masih berani manggil orang?"

Mauren berkata, "Aku ulangi sekali lagi, aku bukan Maurah. Aku adiknya, Mauren."

Setelah terlalu lama menunggu dan Mauren tidak juga turun, Roury mulai merasa tidak tenang. Dia mengajak Maurah kembali naik ke lantai atas.

Setelah pintu dibuka, mereka melihat Mauren yang meringkuk di lantai dalam keadaan mengenaskan dan seorang pria asing yang memegang pisau seperti orang gila.

Roury langsung menerjang ke depan. "Lepaskan dia!"

Dia menerjang pria itu, berusaha menahan pergelangan tangannya. Namun, tubuh pria itu jauh lebih besar. Dengan sekali dorongan, dia berhasil melempar Roury. Pisau di tangannya ikut terayun.

Ujung pisau yang tajam menyayat leher Mauren, meninggalkan garis luka merah dalam sekejap. Seluruh tubuh Mauren bergetar karena kesakitan.

Pria itu mengubah arah pisaunya dan langsung menunjuk Maurah yang berdiri di dekat pintu. "Bagus! Pantas saja dia bilang aku salah orang. Ternyata kamu ada di sini!"

Roury terhuyung sebelum akhirnya berhasil menstabilkan tubuhnya. Kemudian, dia langsung merentangkan kedua lengannya dan melindungi Maurah di belakang tubuhnya.

"Sudah cukup, Maurah! Jangan bicara omong kosong!" bentaknya keras kepada Mauren yang tergeletak di lantai. "Kamu masih mau menjebak adikmu dan menyeretnya ke dalam masalah ini juga?"

Pria itu memandang Maurah yang dilindungi di belakang Roury, lalu melihat Mauren yang meringkuk di dekat kakinya dengan tubuh berlumuran darah. Dia menyeringai dengan ganas.

"Dasar jalang, sampai sekarang kamu masih mau membohongiku?" Amarahnya benar-benar tersulut. Pisau di tangannya tiba-tiba terangkat dan dihujamkan dengan keras ke arah tenggorokan Mauren.

Mauren menggertakkan giginya dan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk berguling ke samping. Pada saat yang sama, dia meraih dan mencengkeram erat pergelangan tangan pria yang memegang pisau itu.

Keduanya berguling dan bergumul di lantai. Mauren meraba pecahan yang tadi terjatuh di dekat kaki meja. Dia menggenggam sisi tajamnya di telapak tangan, lalu menghujamkannya dengan keras ke bahu pria itu.

Pria itu menjerit kesakitan dan terhuyung mundur. Pisau di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

Polisi menerobos masuk dan segera maju untuk membekuk pria itu. Mereka menekan kedua tangannya ke belakang, memborgolnya, lalu mengendalikannya.

Suara sirene polisi masih bergema dari bawah gedung. Rumah itu sudah berantakan, dengan pecahan kaca dan noda darah di mana-mana.

Roury tersentak, seolah baru akhirnya tersadar. Dia terhuyung dan bergegas menghampiri Mauren, lalu berjongkok di sisinya. Dia mengulurkan tangan, ingin mengangkat tubuh Mauren.

"Mauren ...." Suaranya serak hingga hampir tak terdengar. "Aku cuma nggak ingin dua orang terluka sekaligus. Dalam situasi seperti tadi, aku ... aku terpaksa melindungi satu orang dulu. Aku benar-benar takut dia melukai lebih banyak orang."

Mauren terbaring di atas genangan darah dengan mata setengah terpejam. Dia tidak memandang Roury dan sudah tidak memiliki tenaga untuk menjawab.

Petugas medis bergegas masuk sambil membawa tandu dan memindahkannya ke atas tandu dengan hati-hati.

Saat Mauren dibawa keluar, dia melewati Maurah yang berdiri dengan gelisah di dekat dinding. Dengan susah payah, Mauren mengangkat tangannya yang berlumuran darah dan mengulurkannya dengan gemetar.

Ujung jarinya perlahan mencengkeram lengan baju Maurah. Seluruh tubuh Maurah langsung menegang.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Mauren mengucapkan beberapa patah kata, "Kak ... gimana dia bisa tahu alamat rumahku ini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 15

    Setelah lembur, Mauren pulang ke rumah. Anzel sedang memasak mi di dapur.Beberapa pot tanaman di balkon tumbuh dengan subur. Daun-daun mint mulai tumbuh, sementara tanaman sirih gading menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.Mauren mengganti sandal, lalu meletakkan tasnya di atas lemari dekat pintu masuk.Anzel menjulurkan setengah tubuhnya dari dapur. "Mau makan mi?""Mau."Mereka duduk berhadapan. Masing-masing mendapat semangkuk mi kuah bening dengan telur mata sapi di atasnya.Setelah menyuap sedikit mi, Anzel berkata, "Hari ini ada yang datang cari kamu di kantor.""Siapa?""Sacha," jawab Anzel. "Dia menunggu di lobi selama dua jam dan bilang ingin ketemu kamu. Resepsionis tanya aku harus gimana, aku bilang nggak usah ditemui."Tangan Mauren yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. "Oh.""Dia bilang dia salah."Mauren tidak menanggapi dan terus makan. Anzel juga tidak membahasnya lagi.Saat mangkuk-mangkuk dibawa ke dapur, suara air mengalir terdengar deras. Mauren berdiri

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 14

    Setelah kembali ke kantor dan memasuki ruang kerja, Roury langsung merasa ada yang tidak beres.Orang-orang yang melihatnya di ruang pantri segera bubar. Rekan-rekan di dekat meja kerja bahkan tanpa sadar menggeser kursi mereka menjauh saat dia lewat.Atasannya memanggilnya ke ruangan. Meski tidak mengatakannya secara terang-terangan, setiap kata yang diucapkan menyiratkan hal yang sama."Kamu istirahat dulu untuk sementara waktu."Entah sejak kapan, hanya alkohol yang bisa membuat Roury tertidur. Malam itu, dia minum jauh lebih banyak daripada biasanya.Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seseorang masuk dari pintu. Rambutnya diikat dengan kuncir rendah, dia mengenakan mantel abu-abu muda dan sepatu datar.Mauren. Sama seperti setiap kali dulu dia datang menjemput setelah Roury lembur.Roury langsung bangkit dari kursinya. Gelas anggur di tangannya terjatuh ke lantai, sementara tubuhnya sempoyongan menerjang ke arah pintu dengan kedua tangan terbuka."Mauren."Namun, yang dipelu

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 13

    Mauren turun dari pesawat dan langsung naik taksi menuju rumah sakit.Aroma disinfektan menyeruak dari ujung lorong. Setelah menanyakan nomor kamar, langkahnya sempat terhenti sesaat ketika sampai di depan pintu. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk.Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya hampir tidak berwarna, dan jarum infus masih tertancap di tangannya.Saat melihat Mauren, mata ibunya seketika berbinar. Dia menopang tubuhnya di sisi ranjang, berusaha duduk, sementara tangan satunya terulur gemetar ke arah Mauren."Mauren, kamu datang."Mauren berdiri di ambang pintu, menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia tidak menghampiri ibunya. Sebaliknya, dia malah mundur dua langkah.Tangan ibunya membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.Ayahnya yang berada di samping mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Suaranya lemah, tetapi terdengar tergesa-gesa."Jangan tegur Mauren. Sudah l

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 12

    Mauren menunduk dan melirik pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram. Dia mengernyit, lalu menarik tangannya."Kalau kamu nggak mau orang tuamu tahu kamu ada di sini ...." Suara Roury terdengar dari belakangnya. "Beri aku sepuluh menit."Langkah Mauren terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia berbalik dan berjalan menuju kafe di samping gedung kantornya.Mereka duduk di dekat jendela. Roury meletakkan kotak berwarna biru muda itu di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Mauren."Aku sudah menerimanya. Semua ini kamu yang siapkan." Suara Roury rendah dan serak. "Mauren, aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maurah. Kalau kamu mau, kita bisa memulai semuanya dari awal ...."Mauren mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Roury."Segelas minuman keras waktu itu masih membuatmu mabuk? Kalau begitu, dengan segelas kopi ini, semoga kamu cepat sadar." Dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Jangan bi

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 11

    Angin di kota baru terasa sedikit dingin saat menerpa wajahnya. Mauren menarik koper keluar dari bandara, lalu mendongak menatap langit.Dia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengembuskan napas sesak yang memenuhi dadanya. Setelah itu, dia naik taksi menuju apartemen yang sudah dipesan sebelumnya.Apartemen itu memiliki satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Perabotannya sederhana, jendelanya menghadap ke utara, tetapi tempat itu bersih.Pemilik apartemen adalah seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun. Melihat Mauren datang sendirian sambil menarik koper, wanita itu tidak banyak bertanya. Dia hanya menerima uang jaminan dan biaya sewa bulan pertama.Saat menyerahkan kunci, dia hanya berkata, "Nak, supermarket di bawah jual semuanya. Kalau ada yang kurang, beli saja di bawah."Mauren mengangguk. Dia menghabiskan dua hari untuk membereskan barang-barangnya. Setelah menggantung beberapa pakaian ganti ke lemari, dia pergi ke supermarket membeli seprai, sarung selimut, dan perlengkapan

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 10

    Di paling atas ada sebuah foto. Sudut-sudutnya sudah sedikit menguning. Foto itu diambil saat mereka masih SMA.Di dalam foto, Roury mengenakan kaus lama yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan tertiup angin. Dia berdiri di bawah pohon pagoda di tepi lapangan sekolah.Mauren berdiri di sampingnya dengan rambut dikuncir ekor kuda. Jaketnya diikat di pinggang. Dia mendongak menatap Roury. Sudut bibirnya terangkat, sementara matanya melengkung seperti bulan sabit.Keduanya tersenyum dengan wajah yang masih begitu muda dan polos.Ujung jari Roury perlahan menyentuh permukaan foto, lalu mengusap wajah Mauren. Di dalam foto itu, Mauren masih berusia 17 tahun, masih gadis yang suka tertawa dan bercanda. Di dalam tas sekolahnya selalu terselip permen susu yang diam-diam dia masukkan.Dia membalik foto itu. Di bagian belakangnya ada sebuah kalimat, ditulis dengan tulisan tangan Mauren yang rapi.[ Roury, aku menyukaimu. ]Tenggorokan Roury langsung terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status