Share

Bab 3

Author: Tedy
Keesokan harinya saat bangun tidur, Mauren mendapati dua pesan belum dibaca tersemat di bagian atas ponselnya. Pesan itu dikirim Roury pada dini hari.

[ Aku mencintaimu. ]

[ Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya kita bisa bersama. ]

Mauren menatap dua baris tulisan itu. Ungkapan cinta yang dikirim pada dini hari itu kemungkinan besar hanyalah penghiburan belaka. Pria itu mungkin asal mengirimkannya setelah bermesraan dengan Maurah dan merasa tenang.

Ketika membayangkan mereka tidur seranjang dan bermesraan dengan begitu intim, perut Mauren langsung terasa bergejolak. Rasa mual kembali menyerbu.

Dengan wajah tanpa ekspresi, Mauren menghapus percakapan itu, lalu bangkit dan keluar dari kamar.

Baru saja membuka pintu kamar, dia sudah melihat Roury duduk di sofa ruang tamu.

Saat melihat luka di telapak tangan Mauren, Roury sontak berdiri dan berjalan cepat menghampiri. "Kenapa tanganmu bisa luka?"

Dia memegang pergelangan tangan Mauren yang terluka dengan lembut. Suaranya terdengar penuh penyesalan.

"Semalam aku kebanyakan minum. Banyak hal yang nggak bisa kuingat dengan jelas. Maaf. Setelah kita menikah, aku nggak akan begitu lagi."

Mauren menarik sudut bibirnya. Dia membiarkan pria itu mengambil salep, lalu menunduk untuk mengobati luka di telapak tangannya.

Maurah duduk diam di sofa. Tatapannya terpaku pada tangan mereka yang bersentuhan, sementara di matanya tersembunyi kesepian yang tak kunjung hilang.

Sepertinya sang ibu tidak tahan melihat ekspresi Maurah seperti itu. Dia pun segera memulai percakapan untuk mengalihkan topik.

"Sudah, sudah. Cuma luka kecil. Mauren memang dari dulu ceroboh. Roury, kamu sudah tahu seluruh rangkaian acara hari ini, 'kan? Mulai dari mencoba gaun pengantin sampai pemotretan foto pernikahan."

Gerakan tangan Roury saat mengoleskan salep perlahan melambat. Dia menoleh ke samping dan mengiakan.

Mauren menarik tangannya, lalu menunduk melihat luka di telapak tangannya yang baru setengah diolesi salep.

Dia menarik sudut bibirnya, tidak mengatakan apa pun, lalu bangkit dan pergi ke kamar mandi.

Setelah bersiap, dia langsung keluar rumah.

Mobil Roury sudah terparkir di depan. Mauren langsung membuka pintu kursi belakang, membungkukkan tubuh, lalu duduk di dalam.

Roury meliriknya melalui kaca spion dan mengangkat alis dengan sedikit kaget. "Dulu kamu selalu suka berebut kursi depan dengan kakakmu. Hari ini kamu malah mengalah."

Mauren tidak menanggapi. Dulu, setiap kali dia membuka pintu kursi depan dengan penuh semangat, Roury selalu punya berbagai alasan untuk menyuruh Maurah duduk di sana.

"Kakakmu hari ini pakai sepatu hak tinggi, nggak nyaman kalau duduk di belakang."

"Kakakmu bisa mabuk perjalanan, mengalah saja padanya."

"Kursi belakang lebih luas, kamu duduk di belakang saja supaya bisa istirahat."

Posisi yang seharusnya menjadi tempat duduk sang pacar itu, selama bertahun-tahun tidak pernah ditempati olehnya, melainkan selalu oleh kakaknya.

Dulu Mauren masih mengira Roury menyayangi keluarganya karena mencintainya. Kini, setelah memahami semuanya, mana mungkin dia masih mau mempermalukan dirinya sendiri?

Mauren menunduk. Tanpa sengaja, matanya menyapu kaca spion di dalam mobil. Di dalam pantulan cermin, terlihat beberapa bekas merah samar yang penuh makna ambigu di leher Roury.

Mauren segera memalingkan pandangannya. Hatinya terasa sedingin es.

Setelah masuk ke butik, para pegawai langsung mengerumuni Maurah. Mereka membawa satu demi satu gaun pengantin yang mewah, bergantian mencocokkannya di depan tubuh Maurah sambil ramai-ramai mengajukan berbagai pertanyaan.

Melihat Mauren yang tertinggal di belakang, Roury meninggalkan kerumunan sebentar dan berjalan menghampirinya. "Ada model yang kamu suka?"

Mauren menatapnya dan merasa linglung untuk sejenak. Dia seolah kembali ke masa lalu. Tatapan semua orang selalu tertuju pada kakaknya, tetapi hanya Roury yang akan secara khusus memandang dirinya yang diabaikan.

Saat ini, Roury tiba-tiba mengernyit dan memandang pipinya. "Kenapa alergimu kambuh? Wajahmu sampai dipenuhi ruam merah."

Orang tua Mauren juga datang dengan penuh semangat. Mereka menarik Roury, mendesaknya untuk mencoba jas.

"Cepat coba jas itu. Cocok sekali dengan gaun pengantin Maurah." Setelah berkata demikian, barulah mereka melirik wajah Mauren yang memerah. Seketika, lalu alis mereka berkerut.

"Kenapa alergimu kambuh lagi? Manja sekali." Sang ibu berpikir sejenak. "Untungnya bentuk tubuhmu hampir sama dengan kakakmu. Biar Maurah saja yang coba gaun pengantin dan melakukan pemotretan. Nanti tinggal edit wajahmu ke fotonya. Kamu ke rumah sakit saja."

Bibir Mauren bergerak sedikit, tetapi dia tidak mengatakan apa pun.

Melihat itu, Roury mengulurkan tangan dan menggenggam pergelangan tangannya. "Kamu kenapa? Dari tadi kamu terus bersikap aneh. Apa semalam aku melakukan sesuatu?"

Rasa sakit hati dan kesedihan yang telah lama dia pendam hampir saja lolos dari tenggorokannya. Mauren nyaris melontarkan semua pertanyaannya sekaligus.

Namun tepat pada saat itu, Maurah yang sudah mengenakan gaun pengantin berjalan perlahan menghampiri mereka. Ujung gaunnya menyapu lantai, sementara tubuhnya tampak anggun saat melangkah.

Perhatian Roury seketika tertarik kepadanya. Tanpa sadar, dia melepaskan tangan Mauren dan langsung terpaku pada Maurah.

Mauren menunduk melihat pergelangan tangannya yang kini tak digenggam lagi. Ketika kembali mengangkat kepala, Roury sudah berada di sisi Maurah. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya untuk mendengarkan apa yang sedang dikatakannya.

Mauren menyipitkan mata. Tiba-tiba, dia merasa dirinya telah mengalami hal seperti ini ribuan kali.

Setiap kali, Roury selalu melepaskan tangannya dan berjalan menuju orang lain. Hanya saja, dulu Mauren selalu mengira bahwa suatu hari nanti, Roury akan kembali kepadanya.

Namun sekarang, dia tidak ingin lagi mempermalukan diri sendiri. Dia berbalik dan langsung keluar dari pintu butik gaun pengantin itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 15

    Setelah lembur, Mauren pulang ke rumah. Anzel sedang memasak mi di dapur.Beberapa pot tanaman di balkon tumbuh dengan subur. Daun-daun mint mulai tumbuh, sementara tanaman sirih gading menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.Mauren mengganti sandal, lalu meletakkan tasnya di atas lemari dekat pintu masuk.Anzel menjulurkan setengah tubuhnya dari dapur. "Mau makan mi?""Mau."Mereka duduk berhadapan. Masing-masing mendapat semangkuk mi kuah bening dengan telur mata sapi di atasnya.Setelah menyuap sedikit mi, Anzel berkata, "Hari ini ada yang datang cari kamu di kantor.""Siapa?""Sacha," jawab Anzel. "Dia menunggu di lobi selama dua jam dan bilang ingin ketemu kamu. Resepsionis tanya aku harus gimana, aku bilang nggak usah ditemui."Tangan Mauren yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. "Oh.""Dia bilang dia salah."Mauren tidak menanggapi dan terus makan. Anzel juga tidak membahasnya lagi.Saat mangkuk-mangkuk dibawa ke dapur, suara air mengalir terdengar deras. Mauren berdiri

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 14

    Setelah kembali ke kantor dan memasuki ruang kerja, Roury langsung merasa ada yang tidak beres.Orang-orang yang melihatnya di ruang pantri segera bubar. Rekan-rekan di dekat meja kerja bahkan tanpa sadar menggeser kursi mereka menjauh saat dia lewat.Atasannya memanggilnya ke ruangan. Meski tidak mengatakannya secara terang-terangan, setiap kata yang diucapkan menyiratkan hal yang sama."Kamu istirahat dulu untuk sementara waktu."Entah sejak kapan, hanya alkohol yang bisa membuat Roury tertidur. Malam itu, dia minum jauh lebih banyak daripada biasanya.Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seseorang masuk dari pintu. Rambutnya diikat dengan kuncir rendah, dia mengenakan mantel abu-abu muda dan sepatu datar.Mauren. Sama seperti setiap kali dulu dia datang menjemput setelah Roury lembur.Roury langsung bangkit dari kursinya. Gelas anggur di tangannya terjatuh ke lantai, sementara tubuhnya sempoyongan menerjang ke arah pintu dengan kedua tangan terbuka."Mauren."Namun, yang dipelu

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 13

    Mauren turun dari pesawat dan langsung naik taksi menuju rumah sakit.Aroma disinfektan menyeruak dari ujung lorong. Setelah menanyakan nomor kamar, langkahnya sempat terhenti sesaat ketika sampai di depan pintu. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk.Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya hampir tidak berwarna, dan jarum infus masih tertancap di tangannya.Saat melihat Mauren, mata ibunya seketika berbinar. Dia menopang tubuhnya di sisi ranjang, berusaha duduk, sementara tangan satunya terulur gemetar ke arah Mauren."Mauren, kamu datang."Mauren berdiri di ambang pintu, menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia tidak menghampiri ibunya. Sebaliknya, dia malah mundur dua langkah.Tangan ibunya membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.Ayahnya yang berada di samping mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Suaranya lemah, tetapi terdengar tergesa-gesa."Jangan tegur Mauren. Sudah l

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 12

    Mauren menunduk dan melirik pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram. Dia mengernyit, lalu menarik tangannya."Kalau kamu nggak mau orang tuamu tahu kamu ada di sini ...." Suara Roury terdengar dari belakangnya. "Beri aku sepuluh menit."Langkah Mauren terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia berbalik dan berjalan menuju kafe di samping gedung kantornya.Mereka duduk di dekat jendela. Roury meletakkan kotak berwarna biru muda itu di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Mauren."Aku sudah menerimanya. Semua ini kamu yang siapkan." Suara Roury rendah dan serak. "Mauren, aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maurah. Kalau kamu mau, kita bisa memulai semuanya dari awal ...."Mauren mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Roury."Segelas minuman keras waktu itu masih membuatmu mabuk? Kalau begitu, dengan segelas kopi ini, semoga kamu cepat sadar." Dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Jangan bi

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 11

    Angin di kota baru terasa sedikit dingin saat menerpa wajahnya. Mauren menarik koper keluar dari bandara, lalu mendongak menatap langit.Dia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengembuskan napas sesak yang memenuhi dadanya. Setelah itu, dia naik taksi menuju apartemen yang sudah dipesan sebelumnya.Apartemen itu memiliki satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Perabotannya sederhana, jendelanya menghadap ke utara, tetapi tempat itu bersih.Pemilik apartemen adalah seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun. Melihat Mauren datang sendirian sambil menarik koper, wanita itu tidak banyak bertanya. Dia hanya menerima uang jaminan dan biaya sewa bulan pertama.Saat menyerahkan kunci, dia hanya berkata, "Nak, supermarket di bawah jual semuanya. Kalau ada yang kurang, beli saja di bawah."Mauren mengangguk. Dia menghabiskan dua hari untuk membereskan barang-barangnya. Setelah menggantung beberapa pakaian ganti ke lemari, dia pergi ke supermarket membeli seprai, sarung selimut, dan perlengkapan

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 10

    Di paling atas ada sebuah foto. Sudut-sudutnya sudah sedikit menguning. Foto itu diambil saat mereka masih SMA.Di dalam foto, Roury mengenakan kaus lama yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan tertiup angin. Dia berdiri di bawah pohon pagoda di tepi lapangan sekolah.Mauren berdiri di sampingnya dengan rambut dikuncir ekor kuda. Jaketnya diikat di pinggang. Dia mendongak menatap Roury. Sudut bibirnya terangkat, sementara matanya melengkung seperti bulan sabit.Keduanya tersenyum dengan wajah yang masih begitu muda dan polos.Ujung jari Roury perlahan menyentuh permukaan foto, lalu mengusap wajah Mauren. Di dalam foto itu, Mauren masih berusia 17 tahun, masih gadis yang suka tertawa dan bercanda. Di dalam tas sekolahnya selalu terselip permen susu yang diam-diam dia masukkan.Dia membalik foto itu. Di bagian belakangnya ada sebuah kalimat, ditulis dengan tulisan tangan Mauren yang rapi.[ Roury, aku menyukaimu. ]Tenggorokan Roury langsung terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status