Share

Bab 2

Author: Tedy
Mauren bangkit dengan perasaan hampa dan linglung, lalu perlahan melangkah keluar dari ruang VIP yang ramai itu.

Dari belakang, terdengar suara Sacha. "Mau kuantar?"

Mauren hendak menggeleng untuk menolak. Namun, Sacha malah melanjutkan perkataannya sendiri dengan santai, seolah semuanya sudah sewajarnya begitu.

"Sudahlah, aku mau jemput Maurah ke sini. Malam ini Roury terus memikirkan Maurah. Sebelum menikah, biarkan saja mereka bersenang-senang sekali. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Tanpa menunggu jawaban apa pun dari Mauren, Sacha berbalik dan kembali ke ruang VIP.

Tengah malam, Mauren berjalan sendirian di jalanan. Kesedihan dan rasa sakit yang datang terlambat membuatnya terus-menerus ingin muntah.

Saat SMA dulu, sepulang sekolah di tengah hujan deras, semua orang sudah pulang. Hanya Roury yang memegang payung besar dan berdiri di depan gedung sekolah, menunggunya selama setengah jam.

Setelah Mauren datang, dia langsung memiringkan payung ke arahnya dan mengambil tas sekolahnya dengan penuh perhatian.

Saat kuliah, ketika Mauren demam sampai seluruh tubuhnya panas membara, Roury menyusuri toko-toko obat di setengah penjuru kota sepanjang malam. Dia berjaga di bawah gedung asrama Mauren dan tidak pergi selangkah pun.

Ketika Mauren berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan dan akhirnya menangis dengan putus asa di pinggir jalan, Roury memeluknya dengan lembut dan berkata bahwa seumur hidup, dia akan selalu menjadi rumah bagi Mauren.

Pada ulang tahun Mauren di tahun pertamanya bekerja, Roury membuatkan kue untuknya dengan tangannya sendiri. Dia berkata bahwa mulai saat itu, dia akan menemani Mauren merayakan setiap ulang tahunnya.

Selama bertahun-tahun bersama, Roury memainkan perannya dengan begitu meyakinkan, begitu sempurna, sampai berhasil menipunya selama ini.

Akhirnya, air mata Mauren jatuh dan menetes ke punggung tangannya. Rasanya dingin sampai menusuk tulang.

Mauren terus berjalan dengan linglung. Kepalanya benar-benar kosong.

Hingga sebuah sorot lampu mobil yang menyilaukan menyala di hadapannya dan suara rem yang melengking terdengar, Mauren sontak tersadarkan.

Jendela mobil diturunkan. Sang pengemudi menjulurkan kepalanya dan memakinya dengan keras.

Dengan ekspresi hampa, Mauren buru-buru mundur beberapa langkah. Saat mendongak, dadanya langsung terasa berat.

Di hadapannya, sebuah mobil sport edisi terbatas yang masih baru dipajang di dalam etalase pelindung transparan. Di bagian luar etalase itu terpampang tulisan besar berwarna emas yang sangat mencolok.

[ Selamat ulang tahun ke-27, Maurah! Ayah dan Ibu berharap kamu selalu sehat dan bahagia! ]

Mauren tiba-tiba teringat pada ulang tahunnya sendiri. Sejak kecil hingga dewasa, orang tuanya hanya mengirimkan angpau sebesar 10 ribu, disertai ucapan selamat ulang tahun yang dingin dan sekadarnya. Setiap tahun selalu begitu, tidak pernah berubah.

Mauren berdiri terpaku di pinggir jalan cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan pulang dengan hati yang sudah mati rasa.

Saat membuka pintu dan masuk, ibunya mengangkat kepala ketika melihatnya. Kata-katanya hanya dipenuhi teguran.

"Kamu sudah mau nikah, tapi masih keluyuran sampai selarut ini. Kamu minum-minum juga? Benar-benar nggak tahu aturan."

Tanpa menunggu Mauren berbicara, ibunya kembali menambahkan dengan santai, "Oh ya, gaun pengantinmu sudah diantar. Ada di kamarmu. Kalau sempat, cepat dicoba. Jangan sampai ada masalah."

Tenggorokan Mauren terasa kering dan perih. Dengan secercah harapan terakhir yang tersisa, dia bertanya pelan, "Bu, gimana dengan hadiah ulang tahunku tahun ini?"

Ibunya sempat tertegun, lalu langsung melambaikan tangan dengan acuh tak acuh. "Kamu bisa nikah dengan Roury, itu sudah hadiah yang terbaik di hidupmu. Lihat saja kakakmu, hidupnya begitu menyedihkan. Jadi, bersyukurlah."

Mauren menarik sudut bibirnya, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun lagi. Dia berbalik dan kembali ke kamarnya.

Gaun pengantin putih itu diletakkan di atas kasur. Namun, bagian ujung roknya sudah kusut, kerudungnya berantakan, dan di bagian ikat pinggang ada bekas seperti pernah dipakai seseorang.

Dengan kaku, Mauren mengangkat tangannya dan perlahan mengenakan gaun pengantin itu. Dia berdiri di depan cermin dan menatap dirinya sendiri dalam pantulan.

Wajahnya dan Maurah memang mirip. Sesaat, Mauren merasa linglung. Selama bertahun-tahun ini, ketika Roury menatap wajahnya, apakah ada sedikit saja ketulusan yang benar-benar hanya diberikan untuk Mauren?

Mauren tiba-tiba mengangkat tangannya dan menghantam cermin di hadapannya dengan keras.

Prang! Pecahan kaca yang tajam menggores telapak tangannya. Darah merah segar langsung mengucur dan terus menetes dari ujung jarinya, bahkan memercik ke bagian bawah gaun pengantin putih itu.

Mendengar keributan itu, kedua orang tuanya segera mendorong pintu dan masuk.

Ayahnya melirik pecahan kaca yang berserakan di lantai, lalu mengernyit. "Ada apa lagi? Kenapa kamu tiba-tiba bikin ulah?"

Wajah ibunya juga langsung terlihat tidak senang. Pandangannya pertama kali tertuju pada beberapa tetes darah merah di bagian bawah gaun pengantin. Tiba-tiba, dia melambaikan tangan.

"Bagus juga. Kebetulan Maurah tadi lihat gaun pengantin ini dan bilang dia kurang suka modelnya. Besok kita pesan yang baru saja."

Usai mengatakan itu, seolah baru menyadari wajah Mauren yang pucat pasi, dia berhenti sejenak, lalu buru-buru menambahkan, "Memang ini pernikahanmu, tapi pendapat kakakmu juga sangat penting. Kamu nurut saja. Nggak mungkin ayah dan ibumu mencelakaimu, 'kan?"

Keduanya bahkan tidak memperhatikan luka di tangan Mauren yang masih terus mengeluarkan darah. Mereka langsung berbalik dan pergi.

Mauren berdiri diam di tempat. Air matanya sudah mengering, tetapi lubang di dalam hatinya justru semakin besar.

Dia mengangkat ponselnya. Tanpa ragu sedikit pun, dia mengajukan pengunduran diri. Dia tidak ingin tinggal di kota ini sedetik pun lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 15

    Setelah lembur, Mauren pulang ke rumah. Anzel sedang memasak mi di dapur.Beberapa pot tanaman di balkon tumbuh dengan subur. Daun-daun mint mulai tumbuh, sementara tanaman sirih gading menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.Mauren mengganti sandal, lalu meletakkan tasnya di atas lemari dekat pintu masuk.Anzel menjulurkan setengah tubuhnya dari dapur. "Mau makan mi?""Mau."Mereka duduk berhadapan. Masing-masing mendapat semangkuk mi kuah bening dengan telur mata sapi di atasnya.Setelah menyuap sedikit mi, Anzel berkata, "Hari ini ada yang datang cari kamu di kantor.""Siapa?""Sacha," jawab Anzel. "Dia menunggu di lobi selama dua jam dan bilang ingin ketemu kamu. Resepsionis tanya aku harus gimana, aku bilang nggak usah ditemui."Tangan Mauren yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. "Oh.""Dia bilang dia salah."Mauren tidak menanggapi dan terus makan. Anzel juga tidak membahasnya lagi.Saat mangkuk-mangkuk dibawa ke dapur, suara air mengalir terdengar deras. Mauren berdiri

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 14

    Setelah kembali ke kantor dan memasuki ruang kerja, Roury langsung merasa ada yang tidak beres.Orang-orang yang melihatnya di ruang pantri segera bubar. Rekan-rekan di dekat meja kerja bahkan tanpa sadar menggeser kursi mereka menjauh saat dia lewat.Atasannya memanggilnya ke ruangan. Meski tidak mengatakannya secara terang-terangan, setiap kata yang diucapkan menyiratkan hal yang sama."Kamu istirahat dulu untuk sementara waktu."Entah sejak kapan, hanya alkohol yang bisa membuat Roury tertidur. Malam itu, dia minum jauh lebih banyak daripada biasanya.Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seseorang masuk dari pintu. Rambutnya diikat dengan kuncir rendah, dia mengenakan mantel abu-abu muda dan sepatu datar.Mauren. Sama seperti setiap kali dulu dia datang menjemput setelah Roury lembur.Roury langsung bangkit dari kursinya. Gelas anggur di tangannya terjatuh ke lantai, sementara tubuhnya sempoyongan menerjang ke arah pintu dengan kedua tangan terbuka."Mauren."Namun, yang dipelu

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 13

    Mauren turun dari pesawat dan langsung naik taksi menuju rumah sakit.Aroma disinfektan menyeruak dari ujung lorong. Setelah menanyakan nomor kamar, langkahnya sempat terhenti sesaat ketika sampai di depan pintu. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk.Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya hampir tidak berwarna, dan jarum infus masih tertancap di tangannya.Saat melihat Mauren, mata ibunya seketika berbinar. Dia menopang tubuhnya di sisi ranjang, berusaha duduk, sementara tangan satunya terulur gemetar ke arah Mauren."Mauren, kamu datang."Mauren berdiri di ambang pintu, menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia tidak menghampiri ibunya. Sebaliknya, dia malah mundur dua langkah.Tangan ibunya membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.Ayahnya yang berada di samping mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Suaranya lemah, tetapi terdengar tergesa-gesa."Jangan tegur Mauren. Sudah l

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 12

    Mauren menunduk dan melirik pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram. Dia mengernyit, lalu menarik tangannya."Kalau kamu nggak mau orang tuamu tahu kamu ada di sini ...." Suara Roury terdengar dari belakangnya. "Beri aku sepuluh menit."Langkah Mauren terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia berbalik dan berjalan menuju kafe di samping gedung kantornya.Mereka duduk di dekat jendela. Roury meletakkan kotak berwarna biru muda itu di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Mauren."Aku sudah menerimanya. Semua ini kamu yang siapkan." Suara Roury rendah dan serak. "Mauren, aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maurah. Kalau kamu mau, kita bisa memulai semuanya dari awal ...."Mauren mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Roury."Segelas minuman keras waktu itu masih membuatmu mabuk? Kalau begitu, dengan segelas kopi ini, semoga kamu cepat sadar." Dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Jangan bi

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 11

    Angin di kota baru terasa sedikit dingin saat menerpa wajahnya. Mauren menarik koper keluar dari bandara, lalu mendongak menatap langit.Dia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengembuskan napas sesak yang memenuhi dadanya. Setelah itu, dia naik taksi menuju apartemen yang sudah dipesan sebelumnya.Apartemen itu memiliki satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Perabotannya sederhana, jendelanya menghadap ke utara, tetapi tempat itu bersih.Pemilik apartemen adalah seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun. Melihat Mauren datang sendirian sambil menarik koper, wanita itu tidak banyak bertanya. Dia hanya menerima uang jaminan dan biaya sewa bulan pertama.Saat menyerahkan kunci, dia hanya berkata, "Nak, supermarket di bawah jual semuanya. Kalau ada yang kurang, beli saja di bawah."Mauren mengangguk. Dia menghabiskan dua hari untuk membereskan barang-barangnya. Setelah menggantung beberapa pakaian ganti ke lemari, dia pergi ke supermarket membeli seprai, sarung selimut, dan perlengkapan

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 10

    Di paling atas ada sebuah foto. Sudut-sudutnya sudah sedikit menguning. Foto itu diambil saat mereka masih SMA.Di dalam foto, Roury mengenakan kaus lama yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan tertiup angin. Dia berdiri di bawah pohon pagoda di tepi lapangan sekolah.Mauren berdiri di sampingnya dengan rambut dikuncir ekor kuda. Jaketnya diikat di pinggang. Dia mendongak menatap Roury. Sudut bibirnya terangkat, sementara matanya melengkung seperti bulan sabit.Keduanya tersenyum dengan wajah yang masih begitu muda dan polos.Ujung jari Roury perlahan menyentuh permukaan foto, lalu mengusap wajah Mauren. Di dalam foto itu, Mauren masih berusia 17 tahun, masih gadis yang suka tertawa dan bercanda. Di dalam tas sekolahnya selalu terselip permen susu yang diam-diam dia masukkan.Dia membalik foto itu. Di bagian belakangnya ada sebuah kalimat, ditulis dengan tulisan tangan Mauren yang rapi.[ Roury, aku menyukaimu. ]Tenggorokan Roury langsung terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status