Share

Bab 4

Author: Tedy
Ponselnya bergetar. Ada pesan dari agen properti.

[ Bu Mauren, klien sangat menyukai lokasi dan renovasi apartemen yang Anda pasang untuk dijual. ]

[ Saya ingin memastikan sekali lagi, Anda benar-benar yakin ingin apartemen ini segera dijual? Katanya apartemen ini rumah pernikahan Anda. Renovasinya begitu bagus, sayang sekali kalau dijual. ]

Mauren hanya membalas dengan satu kata.

[ Ya. ]

Agen itu segera membalas.

[ Kalau begitu, saya langsung atur proses selanjutnya ya? Kapan Anda ada waktu untuk serah terima? ]

[ Lusa. Langsung ajak kliennya ke sana saja. ]

Setelah mengirim pesan itu, Mauren menelan dua butir obat alergi. Rumah itu adalah rumah pernikahan yang dia tata sendiri sedikit demi sedikit. Namun sekarang, semua itu sudah tidak diperlukan lagi.

Mauren naik taksi dan tiba di bawah gedung rumah pernikahan itu. Dia memasukkan kode sandi, membuka kunci, lalu masuk.

Setelah mendorong pintu, dia langsung mengernyit. Di sofa ruang tamu, pakaian Maurah tergeletak berserakan.

Sandal pasangan yang dulu dia pesan khusus dan diletakkan di atas lemari sepatu dekat pintu masuk, kini ditendang sembarangan hingga tergeletak di pinggir karpet ruang tamu.

Di atas meja ada permen kesukaan Maurah, pakaian dalamnya tergantung di balkon, sementara produk perawatan kulitnya tertata di kamar mandi.

Dengan kaki telanjang menginjak lantai yang dingin, Mauren perlahan memandangi seluruh rumah. Hatinya terasa mati dan sunyi.

Dia membuka sistem rekaman kamera pengawas rumah dan memutar rekaman selama sebulan terakhir.

Setiap akhir pekan, setiap malam ketika Roury mengatakan bahwa dia harus lembur, dia selalu membawa Maurah ke rumah ini.

Mereka memasak bersama, berpelukan di sofa sambil menonton film, juga menata berbagai hiasan rumah. Hubungan mereka begitu mesra, persis sepasang pengantin baru.

Ternyata, kesibukan yang selama ini Roury katakan hanyalah alasan agar bisa bersembunyi di sini dan menghabiskan waktu bersama Maurah.

Tanpa ekspresi, Mauren menyalin dan menyimpan seluruh rekaman kamera pengawas itu, lalu diam-diam membereskan semua barang di rumah yang bukan miliknya.

Pada sore hari, tiba-tiba terdengar suara seseorang menekan kode sandi di pintu masuk.

Mauren menghentikan pekerjaannya dan membuka pintu kamar. Terlihat Roury, Maurah, Sacha, serta sekelompok teman dekat yang telah bersama mereka selama bertahun-tahun berdiri memenuhi lorong.

Ketika melihat Mauren berdiri di dalam rumah tanpa alas kaki, semua orang langsung terpaku. Senyuman di wajah mereka seketika membeku.

Kepanikan sempat melintas di mata Roury, tetapi dia segera menyembunyikannya dan menjelaskan dengan lembut, "Kakakmu nggak punya tempat tinggal, jadi untuk sementara dia tinggal di sini. Aku ajak teman-teman ke sini juga untuk membahas rangkaian acara penjemputan pengantin."

Sacha segera ikut berbicara untuk mencairkan suasana, "Ya, benar. Kami datang hari ini untuk latihan beberapa permainan saat acara penjemputan pengantin. Takutnya nanti ada yang salah pas hari-H."

Mauren memandang sekelompok orang di hadapannya yang telah bersekongkol dan menyembunyikan semuanya darinya selama bertahun-tahun. Perlahan, dia tersenyum pahit.

Bagus sekali. Jika hari ini dia tidak datang ke sini, jika dia tidak memutuskan untuk menjual rumah ini, dia mungkin tidak akan pernah tahu.

Semua orang saling memandang dengan canggung, lalu satu per satu masuk ke rumah dan langsung bersiap memulai latihan permainan penjemputan pengantin.

Permainan pertama adalah mengenali orang. Aturannya sangat sederhana. Mata ditutup, lalu menyentuh tangan untuk menemukan pengantin sendiri di antara semua orang.

Mata Roury ditutup, lalu teman-temannya bergantian mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh tangan semua orang. Tanpa ragu sedikit pun, dia menggenggam pergelangan tangan Maurah, lalu berkata dengan suara rendah, lembut, dan penuh keyakinan, "Kamu."

Dia tersenyum sambil membuka penutup matanya. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Maurah. Namun, ketika dari sudut matanya dia melihat Mauren berdiri di samping dengan wajah tanpa ekspresi, senyuman di wajahnya langsung membeku.

Roury buru-buru melepaskan tangannya dan berkata dengan canggung untuk menutupi keadaan, "Pantas saja sentuhannya begitu mirip. Namanya kalian kakak beradik. Aku sampai nggak bisa bedain."

Permainan kedua adalah sesi tanya jawab untuk menguji seberapa mengenal pasangan masing-masing.

[ Apa makanan favorit pasanganmu dan makanan apa yang tidak dia makan? ]

Roury langsung menjawab, "Iga asam manis. Nggak makan daun bawang, jahe, dan bawang putih."

Makanan favorit Mauren adalah masakan yang ringan. Dia paling tidak suka rasa asam manis. Sementara daun bawang, jahe, dan bawang putih adalah makanan yang tidak dimakan Maurah.

Sacha yang berada di samping segera mencoba menutupi keadaan. "Aduh, wajar saja! Roury setiap hari sibuk mengurus pernikahan. Wajar kalau dia sampai tertukar. Lanjut ke pertanyaan berikutnya, ayo!"

Permainan ketiga adalah menjawab cepat kenangan di balik barang-barang lama. Cara bermainnya adalah mengeluarkan beberapa benda kecil yang menyimpan kenangan, lalu menceritakan kisah di balik benda itu dengan cepat.

Teman-teman mereka meletakkan beberapa barang di atas meja. Tiket bioskop, gelang tangan rajut, dan sebuah pulpen yang diberi ukiran.

Tatapan Roury tertuju pada gelang rajut itu. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mulai bercerita, "Waktu perayaan sekolah di SMA, saat belajar malam, Maurah bergadang membuatkannya untukku. Dia dua kali gagal sebelum berhasil."

Setelah kata-kata itu terlontar, Roury tiba-tiba tersadar. Dia segera mencoba memperbaiki ucapannya. "Tadi pagi aku terlalu sibuk, jadi barangnya tertukar."

Dada Mauren terasa sesak dan sakit. Setiap permainan itu dipilih sendiri olehnya, dengan harapan Roury bisa langsung mengenalinya.

Namun pada akhirnya, semuanya justru berubah menjadi adegan kemesraan antara Roury dan kakaknya. Dia tidak sanggup berada di sana bahkan satu detik lagi.

Mauren akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Dia berbalik dan mendorong pintu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 15

    Setelah lembur, Mauren pulang ke rumah. Anzel sedang memasak mi di dapur.Beberapa pot tanaman di balkon tumbuh dengan subur. Daun-daun mint mulai tumbuh, sementara tanaman sirih gading menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.Mauren mengganti sandal, lalu meletakkan tasnya di atas lemari dekat pintu masuk.Anzel menjulurkan setengah tubuhnya dari dapur. "Mau makan mi?""Mau."Mereka duduk berhadapan. Masing-masing mendapat semangkuk mi kuah bening dengan telur mata sapi di atasnya.Setelah menyuap sedikit mi, Anzel berkata, "Hari ini ada yang datang cari kamu di kantor.""Siapa?""Sacha," jawab Anzel. "Dia menunggu di lobi selama dua jam dan bilang ingin ketemu kamu. Resepsionis tanya aku harus gimana, aku bilang nggak usah ditemui."Tangan Mauren yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. "Oh.""Dia bilang dia salah."Mauren tidak menanggapi dan terus makan. Anzel juga tidak membahasnya lagi.Saat mangkuk-mangkuk dibawa ke dapur, suara air mengalir terdengar deras. Mauren berdiri

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 14

    Setelah kembali ke kantor dan memasuki ruang kerja, Roury langsung merasa ada yang tidak beres.Orang-orang yang melihatnya di ruang pantri segera bubar. Rekan-rekan di dekat meja kerja bahkan tanpa sadar menggeser kursi mereka menjauh saat dia lewat.Atasannya memanggilnya ke ruangan. Meski tidak mengatakannya secara terang-terangan, setiap kata yang diucapkan menyiratkan hal yang sama."Kamu istirahat dulu untuk sementara waktu."Entah sejak kapan, hanya alkohol yang bisa membuat Roury tertidur. Malam itu, dia minum jauh lebih banyak daripada biasanya.Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seseorang masuk dari pintu. Rambutnya diikat dengan kuncir rendah, dia mengenakan mantel abu-abu muda dan sepatu datar.Mauren. Sama seperti setiap kali dulu dia datang menjemput setelah Roury lembur.Roury langsung bangkit dari kursinya. Gelas anggur di tangannya terjatuh ke lantai, sementara tubuhnya sempoyongan menerjang ke arah pintu dengan kedua tangan terbuka."Mauren."Namun, yang dipelu

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 13

    Mauren turun dari pesawat dan langsung naik taksi menuju rumah sakit.Aroma disinfektan menyeruak dari ujung lorong. Setelah menanyakan nomor kamar, langkahnya sempat terhenti sesaat ketika sampai di depan pintu. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk.Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya hampir tidak berwarna, dan jarum infus masih tertancap di tangannya.Saat melihat Mauren, mata ibunya seketika berbinar. Dia menopang tubuhnya di sisi ranjang, berusaha duduk, sementara tangan satunya terulur gemetar ke arah Mauren."Mauren, kamu datang."Mauren berdiri di ambang pintu, menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia tidak menghampiri ibunya. Sebaliknya, dia malah mundur dua langkah.Tangan ibunya membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.Ayahnya yang berada di samping mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Suaranya lemah, tetapi terdengar tergesa-gesa."Jangan tegur Mauren. Sudah l

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 12

    Mauren menunduk dan melirik pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram. Dia mengernyit, lalu menarik tangannya."Kalau kamu nggak mau orang tuamu tahu kamu ada di sini ...." Suara Roury terdengar dari belakangnya. "Beri aku sepuluh menit."Langkah Mauren terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia berbalik dan berjalan menuju kafe di samping gedung kantornya.Mereka duduk di dekat jendela. Roury meletakkan kotak berwarna biru muda itu di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Mauren."Aku sudah menerimanya. Semua ini kamu yang siapkan." Suara Roury rendah dan serak. "Mauren, aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maurah. Kalau kamu mau, kita bisa memulai semuanya dari awal ...."Mauren mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Roury."Segelas minuman keras waktu itu masih membuatmu mabuk? Kalau begitu, dengan segelas kopi ini, semoga kamu cepat sadar." Dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Jangan bi

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 11

    Angin di kota baru terasa sedikit dingin saat menerpa wajahnya. Mauren menarik koper keluar dari bandara, lalu mendongak menatap langit.Dia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengembuskan napas sesak yang memenuhi dadanya. Setelah itu, dia naik taksi menuju apartemen yang sudah dipesan sebelumnya.Apartemen itu memiliki satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Perabotannya sederhana, jendelanya menghadap ke utara, tetapi tempat itu bersih.Pemilik apartemen adalah seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun. Melihat Mauren datang sendirian sambil menarik koper, wanita itu tidak banyak bertanya. Dia hanya menerima uang jaminan dan biaya sewa bulan pertama.Saat menyerahkan kunci, dia hanya berkata, "Nak, supermarket di bawah jual semuanya. Kalau ada yang kurang, beli saja di bawah."Mauren mengangguk. Dia menghabiskan dua hari untuk membereskan barang-barangnya. Setelah menggantung beberapa pakaian ganti ke lemari, dia pergi ke supermarket membeli seprai, sarung selimut, dan perlengkapan

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 10

    Di paling atas ada sebuah foto. Sudut-sudutnya sudah sedikit menguning. Foto itu diambil saat mereka masih SMA.Di dalam foto, Roury mengenakan kaus lama yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan tertiup angin. Dia berdiri di bawah pohon pagoda di tepi lapangan sekolah.Mauren berdiri di sampingnya dengan rambut dikuncir ekor kuda. Jaketnya diikat di pinggang. Dia mendongak menatap Roury. Sudut bibirnya terangkat, sementara matanya melengkung seperti bulan sabit.Keduanya tersenyum dengan wajah yang masih begitu muda dan polos.Ujung jari Roury perlahan menyentuh permukaan foto, lalu mengusap wajah Mauren. Di dalam foto itu, Mauren masih berusia 17 tahun, masih gadis yang suka tertawa dan bercanda. Di dalam tas sekolahnya selalu terselip permen susu yang diam-diam dia masukkan.Dia membalik foto itu. Di bagian belakangnya ada sebuah kalimat, ditulis dengan tulisan tangan Mauren yang rapi.[ Roury, aku menyukaimu. ]Tenggorokan Roury langsung terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status