LOGINPada malam lajang sebelum pernikahan, Sacha, sahabat Mauren, tiba-tiba mengusulkan untuk bermain permainan cosplay. Semua perempuan harus berdandan menjadi sosok yang paling disukai oleh mempelai pria, sedangkan semua laki-laki harus berdandan menjadi sosok yang paling disukai oleh mempelai wanita. Mauren dan Roury telah bersama sejak masa sekolah. Kini, akhirnya mereka akan melangkah ke jenjang pernikahan dan akan menemani satu sama lain selamanya. Demi memberikan kejutan kepada Roury, Mauren sengaja mencari seragam sekolah mereka saat SMA. Saat dia tiba di ruang VIP, Roury sudah dicekoki minuman hingga mabuk berat. Roury bersandar sendirian di sofa, dengan beberapa kaleng minuman kosong tergeletak di depannya. Dengan langkah ringan, Mauren berjalan menghampirinya. Dia membungkukkan tubuh sambil tersenyum, hendak memanggil Roury. Namun, Roury yang matanya sedikit terpejam, tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Lengannya melingkari bahu Mauren dengan erat, sementara mulutnya berulang kali memanggil nama Maurah. "Maurah, akhirnya kamu datang. Bisa kamu tinggal malam ini? Setelah pernikahan minggu depan selesai, aku nggak akan bisa lagi memelukmu dan menciummu seperti sekarang." Senyum Mauren langsung membeku di wajahnya. Maurah ... adalah kakaknya.
View MoreSetelah lembur, Mauren pulang ke rumah. Anzel sedang memasak mi di dapur.Beberapa pot tanaman di balkon tumbuh dengan subur. Daun-daun mint mulai tumbuh, sementara tanaman sirih gading menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.Mauren mengganti sandal, lalu meletakkan tasnya di atas lemari dekat pintu masuk.Anzel menjulurkan setengah tubuhnya dari dapur. "Mau makan mi?""Mau."Mereka duduk berhadapan. Masing-masing mendapat semangkuk mi kuah bening dengan telur mata sapi di atasnya.Setelah menyuap sedikit mi, Anzel berkata, "Hari ini ada yang datang cari kamu di kantor.""Siapa?""Sacha," jawab Anzel. "Dia menunggu di lobi selama dua jam dan bilang ingin ketemu kamu. Resepsionis tanya aku harus gimana, aku bilang nggak usah ditemui."Tangan Mauren yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. "Oh.""Dia bilang dia salah."Mauren tidak menanggapi dan terus makan. Anzel juga tidak membahasnya lagi.Saat mangkuk-mangkuk dibawa ke dapur, suara air mengalir terdengar deras. Mauren berdiri
Setelah kembali ke kantor dan memasuki ruang kerja, Roury langsung merasa ada yang tidak beres.Orang-orang yang melihatnya di ruang pantri segera bubar. Rekan-rekan di dekat meja kerja bahkan tanpa sadar menggeser kursi mereka menjauh saat dia lewat.Atasannya memanggilnya ke ruangan. Meski tidak mengatakannya secara terang-terangan, setiap kata yang diucapkan menyiratkan hal yang sama."Kamu istirahat dulu untuk sementara waktu."Entah sejak kapan, hanya alkohol yang bisa membuat Roury tertidur. Malam itu, dia minum jauh lebih banyak daripada biasanya.Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seseorang masuk dari pintu. Rambutnya diikat dengan kuncir rendah, dia mengenakan mantel abu-abu muda dan sepatu datar.Mauren. Sama seperti setiap kali dulu dia datang menjemput setelah Roury lembur.Roury langsung bangkit dari kursinya. Gelas anggur di tangannya terjatuh ke lantai, sementara tubuhnya sempoyongan menerjang ke arah pintu dengan kedua tangan terbuka."Mauren."Namun, yang dipelu
Mauren turun dari pesawat dan langsung naik taksi menuju rumah sakit.Aroma disinfektan menyeruak dari ujung lorong. Setelah menanyakan nomor kamar, langkahnya sempat terhenti sesaat ketika sampai di depan pintu. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk.Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya hampir tidak berwarna, dan jarum infus masih tertancap di tangannya.Saat melihat Mauren, mata ibunya seketika berbinar. Dia menopang tubuhnya di sisi ranjang, berusaha duduk, sementara tangan satunya terulur gemetar ke arah Mauren."Mauren, kamu datang."Mauren berdiri di ambang pintu, menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia tidak menghampiri ibunya. Sebaliknya, dia malah mundur dua langkah.Tangan ibunya membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.Ayahnya yang berada di samping mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Suaranya lemah, tetapi terdengar tergesa-gesa."Jangan tegur Mauren. Sudah l
Mauren menunduk dan melirik pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram. Dia mengernyit, lalu menarik tangannya."Kalau kamu nggak mau orang tuamu tahu kamu ada di sini ...." Suara Roury terdengar dari belakangnya. "Beri aku sepuluh menit."Langkah Mauren terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia berbalik dan berjalan menuju kafe di samping gedung kantornya.Mereka duduk di dekat jendela. Roury meletakkan kotak berwarna biru muda itu di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Mauren."Aku sudah menerimanya. Semua ini kamu yang siapkan." Suara Roury rendah dan serak. "Mauren, aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maurah. Kalau kamu mau, kita bisa memulai semuanya dari awal ...."Mauren mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Roury."Segelas minuman keras waktu itu masih membuatmu mabuk? Kalau begitu, dengan segelas kopi ini, semoga kamu cepat sadar." Dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Jangan bi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.