Share

Bab 6

Author: Tedy
Mauren tidak sempat mendapatkan jawaban. Dia sudah didorong oleh tenaga medis masuk ke ambulans.

Tak lama kemudian, kedua orang tuanya bergegas datang ke rumah sakit. Mereka berdua berlari ke sisi ranjang rumah sakit. Rasa sakit hati sempat terlihat di mata mereka.

Namun pada detik berikutnya, sang ibu menepuk dadanya dengan rasa lega, lalu berulang kali menghela napas sambil menangis.

"Untung yang terluka kamu, bukan Maurah. Kakakmu itu lemah sekali. Mana mungkin dia sanggup dipukul dan ditusuk seperti ini?"

Ayahnya ikut menyetujui dari samping dengan wajah penuh rasa iba. "Ya. Kalau mengingat penderitaan Maurah dulu di rumah suaminya, hati ini rasanya sakit. Hidupnya benar-benar nggak mudah."

Perawat yang sedang mengganti perban di samping benar-benar tidak tahan mendengarnya. Tangannya berhenti sejenak, lalu dia tak mampu menahan diri untuk menyela dengan nada kesal, "Bu, Pak, yang sekarang terbaring di rumah sakit dengan tubuh penuh luka dan hampir kehilangan nyawa ini putri bungsu kalian. Kok kalian bisa bicara begitu?"

Ibu Mauren terpaku di tempat dengan ekspresi canggung. Demi menebus "rasa bersalahnya", sang ibu menawarkan diri untuk mengurus seluruh makanan bergizi Mauren selama seminggu dirawat di rumah sakit.

Namun, selama satu minggu penuh, semua makanan yang dikirimkan adalah makanan dengan rasa yang disukai Maurah. Tidak satu pun yang bisa dimakan Mauren.

Setiap waktu makan, ibunya selalu berjaga di kamar rawat. Sambil mengambilkan makanan untuk Maurah yang duduk di samping, dia juga terus menenangkannya dengan suara pelan, "Maurah, jangan merasa bersalah. Ini bukan salahmu."

Setelah beristirahat seminggu, Mauren keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah.

Pada hari pernikahan, ibunya membawa semangkuk sup manis yang masih mengepul ke kamar Mauren. Itu adalah sup jamur kuping putih dengan kurma merah, makanan favorit Mauren sejak kecil.

Sepanjang tahun, ibunya jarang sekali membuatkan hidangan itu untuknya. Sambil memegang mangkuk, sang ibu berkata dengan lembut, "Mauren, makan sup ini. Hari ini, menikahlah dengan bahagia. Mulai sekarang, kamu akan jadi istri orang."

Tanpa ragu, Mauren mendongak dan menghabiskan seluruh isi mangkuk itu.

Melihatnya menghabiskan sup itu, kedua orang tuanya saling memandang dan diam-diam mengembuskan napas lega.

Tak lama kemudian, setelah memperkirakan efek obat itu, Mauren sedikit menunduk dan membiarkan tubuhnya bergoyang. Dia perlahan jatuh di sepanjang sisi kasur, berpura-pura kehabisan tenaga dan pingsan.

Dengan hati-hati, mereka mengangkat Mauren yang "pingsan" ke kamar bagian dalam, lalu mengunci pintunya dari luar.

Mauren langsung membuka matanya. Dia segera memiringkan tubuh, membungkuk di sisi tempat tidur, lalu memuntahkan seluruh sisa sup yang masih ada di dalam mulutnya ke tempat sampah.

Suara dari luar pintu terdengar dengan jelas. Itu suara ibunya yang tergesa-gesa sekaligus gembira. "Maurah, cepat pakai gaun pengantinmu. Waktu baiknya hampir tiba, jangan sampai acaranya tertunda."

Dengan sedikit gelisah, Maurah bertanya pelan, "Ayah, Ibu, gimana kalau Mauren bangun dan tahu aku menggantikannya?"

Tiba-tiba, suara Roury terdengar dari dekat pintu. "Nggak apa-apa, kita akan bersenang-senang untuk terakhir kalinya. Setelah menikah, aku akan menebus semuanya padanya. Aku punya cara untuk menjelaskannya. Dia baik hati, dia pasti akan memaafkan kita."

Setelah berkata demikian, suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, sementara keramaian kembali terdengar dari lantai bawah.

Mauren mengangkat tangan, mengambil ponsel yang sejak tadi merekam, lalu menekan tombol berhenti.

Dia menelepon tukang kunci dan menyebutkan alamatnya dengan tenang. Dalam beberapa menit singkat sambil menunggu, dia membuka percakapan dengan agen properti dan mengirimkan pesan dengan tenang.

[ Hari ini silakan datang jam berapa pun untuk cek rumah. Kode sandinya sudah kuubah menjadi delapan angka nol. ]

Tukang kunci datang. Hanya dalam beberapa gerakan, dia berhasil membuka kunci pintu.

Setelah selesai, tukang kunci menerima pembayaran melalui pemindaian kode. Dia tak mampu menahan diri untuk menoleh dan melihat Mauren yang berdiri diam. Sosoknya tampak kesepian. Mendengar suara petasan pernikahan yang meriah dari bawah, dia pun menghela napas dengan prihatin.

"Keluarga sedang mengadakan pesta bahagia, tapi kamu dikurung di sini. Jarang sekali ada yang seperti ini."

Jari Mauren berhenti sejenak, lalu dia hanya mengangguk pelan.

Di perjalanan naik taksi menuju bandara, dia membuka galeri di ponselnya. Dalam rekaman kamera pengawas, kejadian kekerasan itu terekam jelas, begitu pula percakapan tentang rencana pertukaran pengantin di hari pernikahan.

Dengan beberapa sentuhan jarinya, dia mengirim semuanya ke grup besar keluarga dan grup semua panitia persiapan pernikahan.

Dengan wajah tanpa ekspresi, Mauren keluar dari semua grup percakapan satu per satu, lalu memblokir semua kontak kedua orang tuanya, Roury, Maurah, dan Sacha.

Sinar matahari jatuh menyelimuti tubuhnya. Sambil menarik koper, Mauren mengangkat kepala dan memandang langit biru yang luas.

....

Di sisi lain, rombongan mobil tiba dengan meriah. Rangkaian acara hari ini adalah mengantar Roury dan Maurah ke rumah pernikahan.

Roury berjalan ke depan dan memasukkan kode sandi lama dengan terbiasa. Salah. Dia tidak percaya dan memasukkan kode sandi lagi dua kali, tetapi hasilnya tetap salah.

Saat mencoba sidik jarinya, aksesnya bahkan sudah tidak berlaku.

Para pendamping pria dan kerabat di belakangnya mulai panik. "Waktu baiknya nanti terlewat!"

Roury baru saja hendak menelepon Mauren, tetapi sebuah suara yang sopan terdengar dari luar kerumunan. "Permisi, tolong beri jalan. Kami mau lihat rumah."

Agen properti datang bersama kliennya, lalu berjalan lurus melewati rombongan pengiring pengantin yang kebingungan, dan menuju ke depan pintu.

Di depan tatapan terkejut semua orang, dia memasukkan kode sandi dengan cekatan. Bip .... Pintu rumah langsung terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 15

    Setelah lembur, Mauren pulang ke rumah. Anzel sedang memasak mi di dapur.Beberapa pot tanaman di balkon tumbuh dengan subur. Daun-daun mint mulai tumbuh, sementara tanaman sirih gading menjuntai hingga hampir menyentuh lantai.Mauren mengganti sandal, lalu meletakkan tasnya di atas lemari dekat pintu masuk.Anzel menjulurkan setengah tubuhnya dari dapur. "Mau makan mi?""Mau."Mereka duduk berhadapan. Masing-masing mendapat semangkuk mi kuah bening dengan telur mata sapi di atasnya.Setelah menyuap sedikit mi, Anzel berkata, "Hari ini ada yang datang cari kamu di kantor.""Siapa?""Sacha," jawab Anzel. "Dia menunggu di lobi selama dua jam dan bilang ingin ketemu kamu. Resepsionis tanya aku harus gimana, aku bilang nggak usah ditemui."Tangan Mauren yang sedang memegang sumpit berhenti sejenak. "Oh.""Dia bilang dia salah."Mauren tidak menanggapi dan terus makan. Anzel juga tidak membahasnya lagi.Saat mangkuk-mangkuk dibawa ke dapur, suara air mengalir terdengar deras. Mauren berdiri

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 14

    Setelah kembali ke kantor dan memasuki ruang kerja, Roury langsung merasa ada yang tidak beres.Orang-orang yang melihatnya di ruang pantri segera bubar. Rekan-rekan di dekat meja kerja bahkan tanpa sadar menggeser kursi mereka menjauh saat dia lewat.Atasannya memanggilnya ke ruangan. Meski tidak mengatakannya secara terang-terangan, setiap kata yang diucapkan menyiratkan hal yang sama."Kamu istirahat dulu untuk sementara waktu."Entah sejak kapan, hanya alkohol yang bisa membuat Roury tertidur. Malam itu, dia minum jauh lebih banyak daripada biasanya.Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seseorang masuk dari pintu. Rambutnya diikat dengan kuncir rendah, dia mengenakan mantel abu-abu muda dan sepatu datar.Mauren. Sama seperti setiap kali dulu dia datang menjemput setelah Roury lembur.Roury langsung bangkit dari kursinya. Gelas anggur di tangannya terjatuh ke lantai, sementara tubuhnya sempoyongan menerjang ke arah pintu dengan kedua tangan terbuka."Mauren."Namun, yang dipelu

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 13

    Mauren turun dari pesawat dan langsung naik taksi menuju rumah sakit.Aroma disinfektan menyeruak dari ujung lorong. Setelah menanyakan nomor kamar, langkahnya sempat terhenti sesaat ketika sampai di depan pintu. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk.Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya hampir tidak berwarna, dan jarum infus masih tertancap di tangannya.Saat melihat Mauren, mata ibunya seketika berbinar. Dia menopang tubuhnya di sisi ranjang, berusaha duduk, sementara tangan satunya terulur gemetar ke arah Mauren."Mauren, kamu datang."Mauren berdiri di ambang pintu, menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia tidak menghampiri ibunya. Sebaliknya, dia malah mundur dua langkah.Tangan ibunya membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.Ayahnya yang berada di samping mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Suaranya lemah, tetapi terdengar tergesa-gesa."Jangan tegur Mauren. Sudah l

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 12

    Mauren menunduk dan melirik pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram. Dia mengernyit, lalu menarik tangannya."Kalau kamu nggak mau orang tuamu tahu kamu ada di sini ...." Suara Roury terdengar dari belakangnya. "Beri aku sepuluh menit."Langkah Mauren terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia berbalik dan berjalan menuju kafe di samping gedung kantornya.Mereka duduk di dekat jendela. Roury meletakkan kotak berwarna biru muda itu di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Mauren."Aku sudah menerimanya. Semua ini kamu yang siapkan." Suara Roury rendah dan serak. "Mauren, aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maurah. Kalau kamu mau, kita bisa memulai semuanya dari awal ...."Mauren mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Roury."Segelas minuman keras waktu itu masih membuatmu mabuk? Kalau begitu, dengan segelas kopi ini, semoga kamu cepat sadar." Dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Jangan bi

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 11

    Angin di kota baru terasa sedikit dingin saat menerpa wajahnya. Mauren menarik koper keluar dari bandara, lalu mendongak menatap langit.Dia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengembuskan napas sesak yang memenuhi dadanya. Setelah itu, dia naik taksi menuju apartemen yang sudah dipesan sebelumnya.Apartemen itu memiliki satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Perabotannya sederhana, jendelanya menghadap ke utara, tetapi tempat itu bersih.Pemilik apartemen adalah seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun. Melihat Mauren datang sendirian sambil menarik koper, wanita itu tidak banyak bertanya. Dia hanya menerima uang jaminan dan biaya sewa bulan pertama.Saat menyerahkan kunci, dia hanya berkata, "Nak, supermarket di bawah jual semuanya. Kalau ada yang kurang, beli saja di bawah."Mauren mengangguk. Dia menghabiskan dua hari untuk membereskan barang-barangnya. Setelah menggantung beberapa pakaian ganti ke lemari, dia pergi ke supermarket membeli seprai, sarung selimut, dan perlengkapan

  • Pernikahan yang Direbut Kakakku   Bab 10

    Di paling atas ada sebuah foto. Sudut-sudutnya sudah sedikit menguning. Foto itu diambil saat mereka masih SMA.Di dalam foto, Roury mengenakan kaus lama yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan tertiup angin. Dia berdiri di bawah pohon pagoda di tepi lapangan sekolah.Mauren berdiri di sampingnya dengan rambut dikuncir ekor kuda. Jaketnya diikat di pinggang. Dia mendongak menatap Roury. Sudut bibirnya terangkat, sementara matanya melengkung seperti bulan sabit.Keduanya tersenyum dengan wajah yang masih begitu muda dan polos.Ujung jari Roury perlahan menyentuh permukaan foto, lalu mengusap wajah Mauren. Di dalam foto itu, Mauren masih berusia 17 tahun, masih gadis yang suka tertawa dan bercanda. Di dalam tas sekolahnya selalu terselip permen susu yang diam-diam dia masukkan.Dia membalik foto itu. Di bagian belakangnya ada sebuah kalimat, ditulis dengan tulisan tangan Mauren yang rapi.[ Roury, aku menyukaimu. ]Tenggorokan Roury langsung terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status