Matahari pagi menyusup tipis melewati celah jendela koridor, menyinari lorong Rumah Sakit Medika yang sepi. Kinara berjalan perlahan di samping Radit menuju taman belakang. Di tangannya, sebotol air mineral terasa dingin, sedingin pikirannya yang kalut sejak insiden penyerangan tempo hari. "Kinara, kamu kelihatan pucat sekali," tutur Radit lembut seraya menghentikan langkahnya di dekat deretan kursi taman. Pria itu menatap Kinara dengan raut wajah penuh keprihatinan yang tulus. "Duduklah dulu. Aku ambilkan teh hangat untukmu." Kinara menarik napas panjang, lalu mendudukkan dirinya di bangku kayu. "Terima kasih banyak, Mas Radit. Maaf kalau aku jadi merepotkanmu beberapa hari ini." Radit menyunggingkan senyum hangat. Ia melangkah sebentar ke kantin rumah sakit dan kembali membawa secangkir teh manis hangat. Dengan hati-hati, Radit menyerahkan cangkir itu ke genggaman Kinara. "Aku tahu situasi saat ini sangat berat dan menakutkan buat kamu, Kinara," ujar Radit lembut, menatap lurus
Last Updated : 2026-10-13 Read more