Elia diajak Theo ke restoran Chinese Food. Di meja terdapat beberapa jenis dimsum. “Eli, makan yang kenyang, ya. Aku lihat kamu sepertinya kurusan,” kata Theo. Dia duduk di hadapan Elia. Mereka menempati meja persegi, di samping tembok. “Jujur saja, Eli, kalau saja aku orangnya nyinyir pasti sudah menganggapmu bodoh.” Theo meraih sebutir pao dan membelahnya menggunakan tangan. “Ada seorang pria mapan dan setia yang sangat mencintaimu, kamu malah menunggu cinta pertama yang entah kapan baru bisa berkumpul bersamamu.”Elia menjepit lumpia udang menggunakan sumpit, mengirimnya ke mulut. “Kamu sangat benar, Theo, aku mengaku memang sangat bodoh.”Theo langsung mengoreksi pernyataannya, “Eh, maaf, Eli, aku hanya berandai-andai, bukan beneran menyindirmu.”“Tidak apa-apa, Theo, aku mengakuinya,” ujar Elia, tidak tersinggung karena kenyataannya dia memang bodoh. “Tapi, ini mungkin yang dinamakan cinta sejati, dan berjodoh. Bayangkan, kalian sudah berpisah selama itu tanpa tahu k
Last Updated : 2026-11-02 Read more