"Awas, Pak! Pelan-pelan nurunin kasurnya, jangan sampai lecet! Hati-hati juga sama kardus piring keramik bergambar kucing itu, harganya mahal tahu!" instruksi Adi dengan gaya khasnya yang heboh, mondar-mandir mengarahkan dua orang kuli angkut selepas maghrib.Di dalam rumah, Cita dan Rayhan tak kalah sibuk dengan kue-kue buatan Cita. Cita masih menggoreng kue gabin, sementara Rayhan dengan sabar mengibaskan sehelai kipas bambu ke arah kue-kue yang masih mengepulkan uap panas agar cepat dingin sembari menggendong Zain dengan gendongan jarik."Kalau sudah selesai, biar nanti aku yang lanjutin semuanya," ujar Rayhan lembut, menatap sang istri yang tampak peluh tipisnya mulai menghiasi kening."Tapi ini banyak, Mas. Kalau Mas bungkus sendiri nanti capek," balas Cita sembari tersenyum manis."Jangan gitu. Daripada–"Ucapan Rayhan terpotong saat tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar."Astaghfirullahaladzim! Ya ampun, ya Rabbi! Ngapain kamu muncul di depan rumahku?!" Suara melengking itu
Terakhir Diperbarui : 2026-10-22 Baca selengkapnya