Langkah kaki tergesa-gesa, empunya terlihat gelisah. Selesai bertelepon dengan Cleverly, Suma dilanda bimbang. Cemburu membunuh logika, mengempas akal sehatnya hingga ke titik terendah. “Aku tidak boleh kalah. Oke, kalau hanya proyek, itu kecil.” Semakin memikirkan kata-kata Cleverly, dia makin sakit hati. “Oke, tidak ada masalah. Kalau hanya proyek, bukan hal sulit untukku.” Bibir komat-kamit, kakinya terpaku saat berdiri di depan televisi. Pandangan mengedar, menyapu setiap sudut ruang keluarga. “Suma, minggir! Kenapa berdiri di sana?” Mama Caca mengibaskan tangan dan meminta putranya menyingkir. “Mama mau nonton.” Sinetron kesayangan tengah mengudara. Di tengah serunya acara, Suma mendadak muncul dan berdiri menghalangi sembari berkacak pinggang. Wajah gusar, pikiran berkelana ke mana-mana. Suma bergeming. Dia masih sibuk mencari keberadaan papanya. Tadi, pria tua itu ikut berbagi sofa dengan sang mama. Sekarang, Papa Tama bak hilang ditelan bumi. “Suma, awas!” Mama Caca kem
Last Updated : 2026-10-06 Read more