“Aku kira mataku saja yang minus, ternyata matamu juga minus, toh?” Tera mendengkus. Suaminya berdiri beberapa meter di hadapan. Melihatnya sampai melotot, bahkan tak berkedip sama sekali. “Aku serius, Ra. Sudah, jangan main tebak-tebakan. Di mana kamu?” Suma membuang pandangan. Dia harus menjaga matanya. Inggit akan mengamuk andai mengetahui tatapannya liar dan melirik gadis lain. Kekasihnya sangat pencemburu. “Kamu sengaja, ‘kan?” Tera kesal. Suaminya sudah di depan mata, tetapi masih saja mengelak kalau tidak melihat kehadirannya. Entah harus sedih atau kecewa. “Apa sebenci itu kamu padaku? Sampai-sampai sudah melihatku dengan jelas, kamu masih mengelak.” Suma terkejut. Ucapan lirih Tera mengusik perasaannya. Dia tidak sedang berpura-pura. Bahkan, pria muda itu tak berniat dengan sengaja menyakiti istrinya. “Kamu yang mana? Demi Tuhan, Ra. Aku tidak melihatmu. Aku sudah di depan pintu kedatangan. Kaus putih, celana cokelat.” Suma menurunkan intonasi bicaranya. “Aku tahu.” Te
Last Updated : 2026-09-22 Read more