Andin memutar kunci dan membuka pintu sedikit. Tika berdiri di lorong dengan jaket yang dipakai terbalik dan napas yang masih memburu, sedangkan rambutnya hanya diikat asal-asalan.Tanpa menunggu dipersilakan, Tika masuk dan menutup pintu di belakangnya. Dia duduk di lantai semen, tepat di depan kasur lipat, lalu menatap Andin dari bawah."Dengerin aku dulu, Din. Hari ini aku jadi temen kamu dulu, dan marahnya aku lanjutin nanti kalau semua ini udah kelar. Aku serius."Andin mengangguk pelan. Tenggorokannya terlalu kering untuk menjawab."Satu lagi, soal om-om itu jangan cerita sekarang. Kalau aku denger sekarang, aku bakal ikut panik, terus kita berdua sama-sama nggak bisa mikir," lanjut Tika sambil mengangkat tangan.Dari kamar sebelah, dengkur halus Lina masih terdengar menembus dinding triplek. Andin bersyukur dalam hati, karena dia belum sanggup menghadapi dua sahabat sekaligus pagi ini.Tika berdiri, membuka lemari plastik Andin, lalu mengobrak-abrik isinya. Dia menarik keluar b
Last Updated : 2026-10-10 Read more