Selasa malam pukul 20.30 WIB, Andin mengetuk pintu kamar Lina dengan tas kanvas di bahu. Sesuai aturan baru, dia tidak lagi keluar kos diam-diam.Lina membuka pintu dengan masker hijau di wajah dan pensil gambar terselip di telinga, lalu melirik tas kanvas di bahu Andin."Ke klinik?" tebak Lina."Iya, kayaknya aku nginep dan baru pulang besok pagi sebelum kuliah," jawab Andin pelan."Kabarin kalau udah sampai, terus pakai jaket, di luar dingin. Kalau jam sepuluh belum ada kabar, aku telepon dokter itu langsung. Aku serius, Din.""Kamu kan nggak punya nomornya, Lin," protes Andin.Lina mengulurkan ponselnya ke depan wajah Andin. "Makanya kirim nomornya sekarang."Andin tertawa kecil, lalu mengetik nomor Javier di ponsel Lina. Lina menyimpannya dengan nama Dokter Laptop."Kok Dokter Laptop, Lin?" protes Andin."Biar kalau Mbak Wiwid ngintip HP aku, dia nggak curiga. Udah, sana berangkat. Inget, jam sepuluh."Lina menutup pintu kamarnya sambil mengacungkan jempol dari celah pintu.Di dal
Terakhir Diperbarui : 2026-10-12 Baca selengkapnya