“Apa kabar, Tante?”Sapaan ramah bergelombang hangat itu menghentikan pergerakan tangan Ranti yang hendak menghitung uang kembalian di balik meja kasir. Ia mendongak, menatap pemuda berpostur tegap di hadapannya yang baru saja membeli beberapa potong kue jajanan pasar. Kening Ranti sontak berkerut penuh perhatian.Garis wajah tegas dan senyum tipis pemuda itu mendadak mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Namun, ingatan itu terasa sedikit samar oleh kikisan waktu.Menyadari wanita paruh baya di hadapannya kesulitan mengenali dirinya, Bara memperlebar senyum lalu mengingatkan perlahan, “Bar—”“Ya, Tuhan! Bara?!” potong Ranti cepat begitu memorinya mengaitkan garis wajah dan senyum manis itu milik Maira—mantan tetangga depan rumahnya dulu. “Benar ini kamu, Bara?!”Bara mengangguk antusias saat Ranti bergegas bangkit dari kursi dan mendekat ke arahnya. “Apa kabar, Tante?” ulangnya ramah.“Astaga, sehat, Bara! Sini, duduk dulu! Sebentar, Rihana baru saja pergi mengantar pesa
Last Updated : 2026-10-03 Read more