Beranda / Romansa / Rahasia Satu Malam / Bab 27. Ancaman di Tikungan Jalan

Share

Bab 27. Ancaman di Tikungan Jalan

Penulis: Oh Hana
last update Tanggal publikasi: 2026-10-14 22:01:48

​“Bujuk Rihana untuk datang ke rumah Nyonya Diana besok, Ran!”

​Kalimat paksaan bernada memerintah dari Nenek Saidah itu terus terngiang berulang-ulang di kepala Ranti bagai kaset rusak. Hatinya meringis pedih. Ia masih tak rela, dan sudah pasti tak akan pernah rela Rihana—putri sulungnya yang selalu mengalah—harus mengorbankan harga dirinya lagi demi memuluskan jalan perselingkuhan Nita.

​Bahkan hingga malam makin larut dan Rihana sudah pulang dari kantor sejak sore tadi, Ranti masih memilih t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rahasia Satu Malam   Bab 31. Rahasia Berdarah

    ​“Nita sakit,” kata Nyonya Diana pendek.​Alih-alih melihat empati atau penyesalan di wajah wanita berblazer merah menyala itu, Rihana justru menemukan raut congkak yang memuakkan. Dagu Nyonya Diana terangkat menantang, memamerkan keangkuhan yang tak tersentuh.​“Tadi temannya telepon Marcel, katanya Nita hampir pingsan di kampus. Makanya langsung saya bawa ke dokter keluarga Wijaya,” lanjutnya dengan nada santai tanpa beban.​Dengan gaya pongahnya, Nyonya Diana kembali merogoh tas mewahnya, mengeluarkan selembar amplop tebal lalu menggesernya di atas meja ke arah Nenek Saidah.​“Beli makanan bergizi untuk mempercepat pemulihannya. Jangan cuma dikasih roti pasar yang hambar.” Matanya mengerling sinis ke arah Ranti yang duduk bersisian dengan Rihana di sofa.​Rihana mendengkus pelan seraya membuang muka. Ia tahu betul Nyonya Diana sedang sengaja meremehkan usaha kuliner jajanan pasar yang menjadi sumber penghidupan ibunya selama bertahun-tahun.​Paham putri sulungnya mulai tersulut emo

  • Rahasia Satu Malam   Bab 30. Kepulangan yang Mencurigakan

    Ranti mengepalkan tangannya erat-erat di atas pangkuan. Ponsel di tangan kanannya masih menempel rapat di telinga, berharap laki-laki di seberang saluran sana sudi berubah pikiran.​“Bagaimanapun kamu itu ayah Rihana sekarang, Mas. Apa kata orang-orang nanti kalau kamu tidak datang di hari pernikahan putri kita?” bujuk Ranti dengan nada memohon.​“Ck! Kamu lupa kalau Rihana itu anakmu sama Almarhum Gunawan? Aku nggak datang pun nggak bakal jadi masalah!”​Decakan bernada meremehkan itu terdengar teramat menyakitkan. Ranti memejamkan mata rapat-rapat, dadanya terasa seperti diremas sembilu. Ia semakin menyadari kenyataan pahit bahwa sejak Gunawan—suami pertama sekaligus ayah kandung Rihana—berpulang belasan tahun lalu, hanya ia seorang diri yang selalu bertarung memperjuangkan hidup Rihana.​Rudi—suami keduanya saat ini—tak pernah sedikit pun berniat menjadi sosok ayah yang mengayomi bagi Rihana.​Menyadari hal itu, penyesalan dalam melingkupi benak Ranti. Ia merasa sangat salah karena

  • Rahasia Satu Malam   Bab 29. Putra Saya Bukan Barang Dagangan

    Suasana di dalam restoran privat berbintang lima itu tampak begitu kaku dan dingin, seolah memuat atmosfer es yang membekukan darah. Dua manik kelam Bara menatap tajam dan sengit ke arah jajaran kursi di seberang meja. Laki-laki itu masih berusaha setengah mati menahan diri dengan mengetatkan rahang serta mengepalkan kedua tangan di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.​Dadanya yang bergemuruh panas terasa sangat kontras dengan senyum manis kebahagiaan yang tersungging di bibir seorang gadis bergaun pastel di sisi Oma Suhita. Emosi Bara seketika meledak begitu ia menyadari makan malam ini dari awal hanyalah sebuah jebakan licik yang menjengkelkan. Pasalnya, Oma Suhita dan Pradipta—sang ayah—ternyata tidak datang berdua saja.​Di sana, duduk anggun Bela bersama kedua orang tuanya. Dan tepat di belakang kursi Oma Suhita, berdiri tegak seorang asisten kepercayaan bersanding dengan kepala bagian hukum alias pengacara utama Keluarga Kalingga.​Sebuah pemandangan mengerikan tentang

  • Rahasia Satu Malam   Bab 28. Manisan Mangga dan Tangis Rihana

    “Enak?”​Rihana mengangguk pelan seraya tetap mengunyah dan menangis. Sesekali punggung tangannya bergerak cepat menyapu lelehan air mata yang tak henti-hentinya meluncur di pipinya.​Laki-laki di sisinya tersenyum lembut memperhatikan penampilan perempuan yang malam itu mengenakan jaket hoodie oversize miliknya. Saking besarnya ukuran jaket itu di tubuh irit Rihana, kedua tangannya tenggelam sepenuhnya—hanya menyisakan ujung-ujung jemari lentiknya yang menyembul dari lubang lengan.​Keduanya duduk berdampingan di salah satu bangku taman kota pukul sebelas malam, ditemani satu paper cup berisi manisan mangga muda yang segar.​Bara memenuhi permintaan konyol itu meski tadi sempat pusing tujuh keliling memutari kota untuk mencari penjual manisan mangga yang masih buka tengah malam. Ketika Bara menelepon tadi, Rihana mendadak mengajaknya bertemu dan merengek ingin makan manisan mangga, tetapi syaratnya harus Bara sendiri yang membelikan.​Sebenarnya, Bara sendiri juga berniat menemui Rih

  • Rahasia Satu Malam   Bab 27. Ancaman di Tikungan Jalan

    ​“Bujuk Rihana untuk datang ke rumah Nyonya Diana besok, Ran!”​Kalimat paksaan bernada memerintah dari Nenek Saidah itu terus terngiang berulang-ulang di kepala Ranti bagai kaset rusak. Hatinya meringis pedih. Ia masih tak rela, dan sudah pasti tak akan pernah rela Rihana—putri sulungnya yang selalu mengalah—harus mengorbankan harga dirinya lagi demi memuluskan jalan perselingkuhan Nita.​Bahkan hingga malam makin larut dan Rihana sudah pulang dari kantor sejak sore tadi, Ranti masih memilih tetap bungkam. Ia merenung seorang diri di meja ruang makan yang temaram, ditemani secangkir kopi hitam yang mulai dingin. Lampu-lampu utama rumah sudah dimatikan secara sepihak oleh Nenek Saidah sejak pukul setengah 9 malam tadi.​“Lho, Bu? Kok belum tidur?”​Suara lembut Rihana yang baru saja turun dari kamar atas memecah keheningan. Gadis itu mendekat dengan pakaian santai rumahannya.​Senyum getir Ranti terukir menyambut kedatangan putri sulungnya. “Sini duduk, Ri. Mau Ibu buatkan kopi?”​Rih

  • Rahasia Satu Malam   Bab 26. Syarat Licik Nyonya Diana

    ​“Bara menyayangi Rihana, Ran. Dia … mau menikahi putrimu secepatnya.” Maira menatap penuh kesungguhan pada wanita yang terdiam kaku di seberang meja ruko.​Di balik permukaan kayu meja, jemari Maira meremas kuat tali tas bahu di pangkuannya. Ada getar hebat yang merayapi sekujur tubuhnya setiap kali teringat bahwa di dalam tas itu tersembunyi bukti kehadiran sesosok bayi. Sebuah janin yang seharusnya disambut dengan suka cita. Namun, Maira sadar, ia belum berani mengungkap rahasia raksasa itu detik ini juga di tempat ini.​Ranti tersenyum gamang. Bersama senyum tipis yang dipaksakan itu, riak-riak air di pelupuk matanya mulai menggenang.​“Mai, aku sungguh senang dan terharu mengetahui Bara begitu serius ingin membersamai Rihana. Tapi … sepertinya kurang bijak kalau mereka harus menikah dalam waktu sedekat ini. Rihana baru saja mengalami kegagalan besar, Mai. Pertunangannya dengan Marcel baru saja hancur. Aku takut keputusasaan ini berimbas buruk pada nama baik putramu dan Rihana.”​

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status