“Ingat, kalau kamu masih mau ruko ini, terus bujuk Rihana untuk segera menikah dengan Marcel!”Satu kalimat peringatan penuh tekanan itu sudah Nenek Saidah ulang berkali-kali sejak pagi. Ranti hanya bisa diam sambil menahan air mata saat mertuanya itu kembali melayangkan ancaman.“Kamu tahu, kan, selama ini Nyonya Diana sudah cukup banyak membantu kita, Ran? Uang kuliah Nita, Nyonya Diana yang kasih. Cicilan ruko ini yang kurang tiga kali lagi, Nyonya Diana juga yang menyelesaikan. Masih tahu cara balas budi, kan, kamu?!”Nenek Saidah berujar seraya menghitung lembaran uang di laci kasir dengan sigap. Sebuah kebiasaan yang sebenarnya sangat membuat Ranti keberatan.Jika jajanan pasar di ruko laku keras, uang hasil penjualan akan langsung masuk ke kantong Nenek Saidah. Namun, jika sepi dan hanya ada uang receh, mertuanya itu akan membiarkannya begitu saja—enggan ikut membantu berdagang, apalagi menyingsingkan lengan baju untuk membuat produk makanan.Padahal, sejak Rihana mulai bekerja
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-30 Mehr lesen