LOGINKeheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.
Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.
Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen P*F bertajuk resmi.
"Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan datar, setenang telaga. "Namun seluruh tindakan, keputusan, dan sajian di meja makan ini sudah sepenuhnya sesuai dengan pasal-pasal legal yang berlaku di rumah ini."
Nyonya Sofia mengerutkan dahi dalam-dalam. Keanggunan khas bangsawan yang dibawanya sejak melangkah masuk mulai menunjukkan retakan panik. "Pasal apa maksudmu, Arlan? Jangan mulai berakting konyol dan melantur di depan Ibu!"
"Saya tidak pernah bercanda dalam urusan regulasi rumah tangga, Bu," balas Arlan tanpa mengedipkan mata. "Ini adalah dokumen SOP Rumah Tangga Devan, Lampiran C, Bab Nutrisi dan Waktu Istirahat. Poin A menyebutkan bahwa pihak istri berhak mengelola menu sarapan bersama tim dapur demi menjaga efisiensi ritme sirkadian tubuh dan kesehatan mental."
Nyonya Sofia mendengkus tak percaya, tetapi Arlan terus melanjutkan pembacaan pasalnya tanpa memberikan celah sedikit pun untuk disela.
"Lalu Poin B," lanjut Arlan sambil menggeser layar ponselnya, "menyebutkan bahwa variasi menu utama sarapan pagi disesuaikan dengan kesepakatan tertulis bersama pihak suami. Piring pancake pisang madu bergizi ini dibuat khusus oleh Maya subuh tadi, lalu disajikan secara profesional oleh Pak Joko bertaraf hotel bintang lima. Saya telah meratifikasi menu ini sejak kemarin malam pukul sembilan lewat lima belas menit."
Aku menahan napas sekuat tenaga. Rahangku hampir saja jatuh menyentuh lantai parket. Pria kaku ini benar-benar membela istrinya di depan ibu kandungnya sendiri menggunakan draf dokumen hukum konyol yang kami buat beberapa hari lalu! Penjelasan Arlan yang memadukan masakan buatan tanganku dengan pelayanan rapi dari Pak Joko membuat tuduhan Nyonya Sofia mentah seketika.
Nyonya Sofia melotot tak percaya. "Arlan! Kamu ini bicara apa sebenarnya?! Ibu ini datang jauh-jauh begini untuk mengajari istrimu cara menjadi menantu yang pantas di keluarga Devan! Bukan untuk mendengarkan bacaan pasal konyolmu itu!"
"Tata cara dan kriteria menantu di rumah ini sudah dibakukan dalam dokumen resmi berkekuatan hukum internal yang telah kita sepakati bersama di atas materai sepuluh ribu, Bu," balas Arlan dengan nada sedatar petugas upacara. "Jika Ibu berencana mengubah standar menu sarapan atau memprotes kriteria Maya, Ibu diwajibkan mengajukan draf revisi SOP minimal tiga hari kerja sebelum rapat pleno keluarga diselenggarakan."
Nyonya Sofia memegang pelipisnya. Cincin berlian lima karat di jarinya berkilauan diterpa cahaya lampu gantung ruang makan. "Rapat... pleno?"
"Benar. Dan untuk evaluasi kinerja pagi ini, Maya sudah memenuhi seratus persen Indikator Kinerja Utama atau KPI sebagai seorang istri," lanjut Arlan santai. Tanpa ragu, ia memotong sepotong pancake pisang madu buatan tanganku, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan penuh ketenangan. "Tingkat kematangan gandumnya sempurna, manisnya pas, dan rasanya sangat memuaskan. Kinerja yang patut dipertahankan."
Aku menggigit bibir bawahku setengah mati, menahan tawa geli yang sudah berada tepat di ujung tenggorokanku. Melihat seorang CEO dingin pasang badan menggunakan bahasa korporat di depan ibunya sendiri.
Namun, Nyonya Sofia jelas bukan wanita yang mudah ditumbangkan begitu saja. Beliau menarik napas panjang, merapikan posisi berdirinya, lalu menatapku dari balik bahu Arlan dengan pandangan penuh tantangan.
"Baik. Kalau masalah makanan dan keterlibatan tim dapur kamu sebut sudah sesuai dengan dokumen konyolmu itu, Arlan," ujar Nyonya Sofia dengan nada dingin yang kembali terkontrol. "Lalu bagaimana dengan pemahaman istrimu soal selera dan detail kebiasaanmu? Apa dia tahu standar suhu penyeduhan teh Earl Grey favoritmu yang biasa kamu minta disajikan saat sarapan?"
BAB 7: Ujian Teh dan Biaya Kenyamanan
Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.
Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya.
"Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.
Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.
Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh hangat yang merebakkan aroma bergamot menenangkan.
Aku meletakkannya dengan perlahan dan penuh hormat di hadapan Nyonya Sofia. "Delapan puluh lima derajat Celsius, diseduh selama tiga menit empat puluh detik agar kadar taninnya pas dan aromanya keluar sempurna untuk Mas Arlan, Bu. Saya juga menambahkan sedikit perasan lemon segar untuk menyeimbangkan rasanya."
Nyonya Sofia menatap cangkir itu dengan tatapan sangsi. Ia mengangkat cangkir tersebut, menghirup aromanya sejenak, lalu menyesap cairan teh itu sedikit demi sedikit.
Selama beberapa detik, suasana ruang makan hening total. Mataku, Arlan, dan bahkan Pak Joko yang mengintip dari balik pintu pantry sama-sama menantikan reaksi Nyonya Sofia.
Nyonya Sofia mengedipkan matanya perlahan. Tidak ada kritikan pedas yang keluar dari bibirnya. Beliau hanya meletakkan kembali cangkir porselen itu ke atas tatakannya dengan suara denting halus.
"Lumayan," gumam Nyonya Sofia singkat, meskipun dari caranya kembali menyesap teh itu untuk kedua kalinya, aku tahu beliau sebenarnya terkesan. Beliau berdeham keras menjaga wibawanya. "Tapi ingat baik-baik, Maya. Menjadi istri dari Arlan Devan itu bukan cuma soal urusan dapur."
Pak Joko yang sejak tadi mengintip dari balik pintu pantry spontan berbisik dengan suara yang niatnya sepelan angin, tapi malah bergema halus di ruang makan. "Nah kan... Nyonya Besar kepancing juga sama racikan Nyonya Muda..."
Nyonya Sofia mendadak menoleh tajam dengan tatapan yang sanggup membekukan air panas. "Pak Joko! Kamu mau saya potong gaji enam bulan atau saya pecat hari ini?!"
Pak Joko tersentak kaget, matanya melotot panik. "E-eh... ampun, Nyonya Besar! Saya mendadak ingat ada rebusan air yang mau meledak di dapur!"
Tanpa menunggu balasan, Pak Joko langsung balik kanan dan lari ngibrit menghilang ke area belakang dengan langkah seribu. Aku setengah mati menekan mulutku agar tidak menyemburkan tawa di tempat.
Arlan kembali melirik jam tangan peraknya dengan santai, lalu menatap ibunya datar. "Ibu, berdasarkan dokumen SOP Bab Tujuh tentang Kunjungan Tamu, kedatangan tanpa pemberitahuan tertulis H-1 akan dikenakan potongan biaya kenyamanan. Lagipula, mobil jemputan Ibu di lobi bawah sepertinya sudah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu."
Nyonya Sofia mendelik tajam dan berdiri dari kursinya dengan napas terengah-engah karena kehabisan kata-kata atas kelakuan ajaib anaknya. "Kamu... benar-benar anak tidak berbakti, Arlan! Menagih dan mengusir ibumu sendiri?!"
"Aturan tetaplah aturan yang harus ditegakkan tanpa pandang bulu, Bu," jawab Arlan tenang.
Dengan mendengkus kesal, Nyonya Sofia akhirnya menyambar tas mewahnya dan melangkah lebar keluar dari rumah kami. Begitu pintu depan tertutup rapat, aku mendudukkan diri di atas kursi meja makan dengan lemas, lalu meledakkan tawa lepas yang sejak tadi kupendam setengah mati sampai mataku berair.
Arlan menyendok potongan pancake terakhirnya, lalu menatapku dengan wajah polos. "Kenapa kamu tertawa begitu keras, Maya? Evaluasi simulasi pagi ini menunjukkan kamu mendapat nilai A-plus."
Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap suamiku yang sangat ajaib ini dengan perasaan hangat. Pria kaku ini memang absurd setengah mati, tapi cara dia membela dan melindungiku sungguh berhasil membuat jantungku meleleh.
Arlan masih menatapku dengan wajah lempeng tanpa dosa, seolah baru saja menyelesaikan presentasi laporan keuangan bulanan, bukan mengusir ibu kandungnya sendiri dari penthouse.Arlan menggeser piring pancake-nya yang sudah bersih, lalu meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku rokku bergetar menyuarakan denting notifikasi perbankan.Aku merogoh saku, membuka kunci layar, dan seketika mataku membelalak lebar. Sebuah transferan dana masuk dalam jumlah yang sangat fantastis cukup untuk membayar cicilan operasional toko kueku selama tiga bulan ke depan."Arlan... ini uang apa?" tanyaku terbata-bata, menatap angka nol berderet di layar ponselku dengan pandangan tak percaya."Bonus insentif KPI," jawab Arlan tenang, merapikan letak jam tangan peraknya. "Berdasarkan SOP Rumah Tangga Devan Pasal Empat Ayat Dua, pencapaian Indikator Kinerja Utama yang melebihi target dalam situasi krisis berhak menerima insentif tunai
Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya."Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh
Keheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen PDF bertajuk resmi."Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan dat
Pusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahu
Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen."Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.Glek!Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku."Jaga keseimbanganmu," tegurnya
Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang."SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!""Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pri







