LOGINArlan masih menatapku dengan wajah lempeng tanpa dosa, seolah baru saja menyelesaikan presentasi laporan keuangan bulanan, bukan mengusir ibu kandungnya sendiri dari penthouse.Arlan menggeser piring pancake-nya yang sudah bersih, lalu meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku rokku bergetar menyuarakan denting notifikasi perbankan.Aku merogoh saku, membuka kunci layar, dan seketika mataku membelalak lebar. Sebuah transferan dana masuk dalam jumlah yang sangat fantastis cukup untuk membayar cicilan operasional toko kueku selama tiga bulan ke depan."Arlan... ini uang apa?" tanyaku terbata-bata, menatap angka nol berderet di layar ponselku dengan pandangan tak percaya."Bonus insentif KPI," jawab Arlan tenang, merapikan letak jam tangan peraknya. "Berdasarkan SOP Rumah Tangga Devan Pasal Empat Ayat Dua, pencapaian Indikator Kinerja Utama yang melebihi target dalam situasi krisis berhak menerima insentif tunai
Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya."Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh
Keheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen PDF bertajuk resmi."Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan dat
Pusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahu
Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen."Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.Glek!Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku."Jaga keseimbanganmu," tegurnya
Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang."SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!""Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pri







