LOGINLaras memegang pipi kirinya, lalu menunduk lebih dalam. Jari-jari tangannya yang lain meremas kain gaun di paha.
Reza mengangkat tangan lagi. Melihat itu, Dimas langsung menuruni dua anak tangga sekaligus. Begitu tangan Reza mulai turun, pergelangan itu sudah dia tangkap di udara.
Grep!
Dari bawah tangga, Laras berbisik dengan suara gemetar. "Udah... lepasin, nanti kamu yang kena."
Reza menyentak tangannya, namun genggaman Dimas tidak bergeser sedikit pun.
Wajah Reza merah sampai ke leher. Laki-laki itu menarik napas dua kali lewat hidung, lalu bilang Dimas dipecat malam ini juga.
"Dasar tukang kebun tak tahu diuntung! Dulu, aku yang membawamu bekerja di sini. Jadi, sekarang kau berani melawanku, ya? Sudah bisa sombong kamu? Malam ini, kemasi juga barang-barangmu, kamu harus keluar dari kamar belakang sebelum matahari terbit!"
Seketika, perut Dimas mulas begitu kata dipecat itu sampai di telinganya. Tanpa gaji bulan depan, obat Kirana tidak akan terbeli.
Meski begitu, Dimas menunggu sampai lengan Reza berhenti menegang. Setelah itu, jarinya dia buka pelan-pelan, lalu dia mundur satu langkah dan menunduk dengan kedua tangan rapat di samping badan.
"Maaf, saya lancang megang tangan Bapak. Saya nggak suka lihat perempuan dikerasi, siapa pun orangnya. Barang-barang saya nanti malam saya beresin sendiri. Sekali lagi, maaf atas kelancangan saya."
Tiba-tiba hening.
Di bawah tangga, Laras masih memegang pipinya. Matanya bolak-balik dari wajah suaminya ke wajah Dimas, sedangkan bibirnya terbuka tanpa suara.
Reza menatap Dimas lama. Matanya mulai dari wajah, turun ke bahu dan lengan kaus, lalu ke pinggang dan paha. Sesudah itu, matanya naik lagi ke wajah Dimas, dan makiannya berhenti begitu saja.
Yang ada di pikiran Dimas hanyalah, bagaimana cara bisa bertahan hidup untuk biaya Kirana. Dia boleh saja ambil cuti 2 semester, pun lulus di semester 14 tidak masalah asal dirinya bisa bekerja dan mengusahakan yang terbaik untuk adiknya. Pun kalau dipecat, masih banyak pekerjaan lain di ibu kota. Tukang, kuli, dan sejenisnya.
Tapi itu hanya pikiran Dimas saja, karena detik berikutnya Reza merapikan lengan kemejanya.
Dengan suara yang jauh lebih pelan, Reza bertitah. "Hmm, nggak jadi. Aku punya pekerjaan lain yang cocok untukmu. Besok jam 12 siang, jemput aku di kantor, kita ada agenda!"
Kenapa? Kenapa Reza tiba-tiba berubah? Dari yang dipecat, malah ditawari pekerjaan baru?
Lalu, apa yang dia lihat waktu menatap badan Dimas selama itu? Aneh, sungguh aneh!
Memikirkan itu terlalu berat untuk seorang tukang kebun.
Reza berbalik, naik ke teras, lalu masuk ke rumah tanpa menoleh ke istrinya. Tak lama, lampu kamar di ujung lantai dua menyala, lalu padam lagi.
Dimas masih berdiri di bawah tangga gazebo. Colokan lampu itu belum sempat dia cabut, sehingga bola-bola kuning tetap menyala di atas meja.
Sementara itu, Laras sudah naik lagi ke gazebo dan duduk di depan kue yang belum dipotong. Tangan kirinya menempel di pipi, sedangkan tangan kanannya memegang garpu tanpa memakainya. Tali gaunnya kembali melorot ke lengan, dan kali ini Laras membiarkannya.
Pelan-pelan, Dimas mendekat ke anak tangga terbawah. "Nyonya nggak apa-apa?"
Tanpa mengangkat kepala, Laras menjawab pelan. "Kamu tahu, nggak, Mas Reza kalau udah diam begitu, pasti ada sesuatu. Dia pasti kasih kamu pekerjaan, tapi entah pekerjaan apa..."
Kalimat Laras menggantung begitu saja. Kepalanya tetap menunduk ke kue, sementara tangan kirinya masih menempel di pipi yang barusan ditampar suaminya sendiri.
"Nya... udah ya, nggak usah mikirin saya dulu. Nyonya lebih butuh perhatian itu. Udah, Nyonya sekarang istirahat," balas Dimas pelan.
Karena Laras tak kunjung menjawab, Dimas inisiatif mengambil es batu dari freezer dapur. Lima butir es dia bungkus dengan saputangan biru, lalu ujung kainnya dia pilin supaya tidak ada air yang menetes.
Di gazebo, Laras masih duduk di kursi yang sama. Dimas berhenti satu langkah dari meja, kemudian menyodorkan buntelan biru itu dengan dua tangan.
"Ini, buat ngompres pipi Nyonya, sayang kalau cantik-cantik gitu pipinya merah. Ditempel di pipi ya, Nya, biar besok pagi nggak bengkak. Saputangannya masih bersih, belum pernah saya pakai."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri, kamu istirahat aja," jawab Laras tanpa menoleh. Toh, tangannya terulur juga.
Jari-jari Laras gemetar waktu menyentuh saputangan itu, sampai buntelannya miring dan satu butir es meluncur keluar ke taplak.
Melihat itu, Dimas menarik buntelan itu kembali. "Saya pegangin, ya. Kalau kedinginan, bilang aja. Nanti saya angkat. Yang penting Nyonya nyaman dulu, nggak usah terlalu dipikirin."
Es itu dia tempelkan ke pipi kiri Laras.
Laras memejamkan mata begitu dingin itu menyentuh kulitnya. Bahunya yang sejak tadi terangkat pelan-pelan turun, lalu napasnya keluar panjang lewat hidung. Tangan kanannya yang tadi meremas gaun pun ikut terbuka di pangkuan.
Dari jarak sedekat itu, Dimas bisa melihat bekas jari di pipi Laras. Ada empat garis merah memanjang dari tulang pipi sampai ke rahang, dan di ujung garis paling bawah kulitnya tergores sedikit oleh cincin.
"Maaf ya, kamu jadi lihat dapur rumah tanggaku. Aku masih nggak habis pikir sama Mas Reza, masih ada ternyata suami seperti itu..."
Sambil menahan saputangan di tempatnya, Dimas menjawab tanpa berpikir. "Saya pura-pura tutup mata, Nya. Udah, nggak usah terlalu dipikir. Fokus ke pipinya dulu, biar sembuh, besok nggak bengkak."
Beberapa menit kemudian, Laras menurunkan tangan Dimas dari pipinya. Saputangan itu dia ambil, lalu dia berdiri sambil merapikan gaun.
"Aku masuk dulu. Makasih esnya."
Namun, baru satu anak tangga dia turuni, lututnya tertekuk sendiri. Untungnya, Dimas sempat menangkapnya dari depan.
Pluk!
Dada Laras menempel di dadanya, sedangkan kedua tangan Dimas mendarat di pinggang yang terbungkus satin licin.
[Pembayaran berhasil. Tagihan UKT Anda LUNAS.]Tunggakan yang membuat Dimas cuti 2 semester itu beres dalam satu menit. Setelah itu, dia mengirim 500 ribu dari tabungan gajinya ke rekening Pak Lik.[Pak Lik, Dimas kirim 500 ribu buat tebus obat Kirana bulan ini. UKT Dimas juga udah lunas, jadi Pak Lik nggak usah mikirin itu lagi. Salam buat Bulik sama Kirana, ya.]Dari sudut mata, Dimas melihat Laras ikut memandangi layar ponselnya. Begitu Dimas menoleh, Laras sudah menghadap jendela dengan bibir tersenyum. "Selamat, ya. Habis ini kamu bisa lanjut skripsi lagi, kan? Waktu di warung es dawet kamu bilang tinggal bab hasil.""Iya, Nya. Datanya udah ada semua, tinggal saya tulis. Minggu ini saya urus surat aktif kuliah dulu ke kampus."
"Saya cuma ngikutin yang Nyonya bilang, satu-satu. Yang kanan dari bawah, yang kiri ikut napas."Laras tertawa setengah, lalu menahannya karena jempol Dimas kembali mengusap pentilnya. Tangannya mencengkeram bahu Dimas, dan kepalanya mendongak ke lampu ruang ganti.Celana Dimas sudah mengencang dari tadi, tetapi kedua tangannya tetap di dada itu.Tiba-tiba…Tok, tok.Sekat di samping tirai diketuk dari luar. Napas Laras tertahan. Kedua tangan Dimas masih menempel di dadanya.Deg!Gimana ini?Kalau Dewi tahu Dimas dan Laras sedang bermain di ruang ganti, bisa-bisa, Dewi akan menertawa
Laras tak berkedip menatap Dimas. “Suami Kakak kan nggak mungkin mau nganter belanja beginian. Dulu Kakak sering telepon aku tengah malam gara-gara dia nggak pulang-pulang. Hayoo, ini siapa?"Laras menjawab pendek. "Yah, suamiku masih sama aja kayak gitu. Udah 4 tahun, nggak berubah-berubah. Terus, cowok itu namanya Dimas, sopir aku sekarang."Dewi memiringkan kepala. "Kak, ini nyopirin Kakak apa ngawal Kakak? Umurku udah 28, baru kali ini lihat sopir yang lengannya segede itu."Dewi orangnya cukup centil. Dengan rambut cepol dan kacamata kuda, wajahnya mengingatkan Dimas pada artis kesayangan warga pos ronda di desa. Mirip seperti Fuua Kaede.Dan ketika bapak-bapak di pos ronda bahas itu, selalu ada sisipan kata ‘info kode nuklir’ atau ‘mana kode
"Minggu lalu saya yang disuapin. Sekarang gantian, biar kita impas 1-1 ya, perihal suap-menyuap..."Setelah dua suap, Dimas menyodorkan dua butir vitamin dan gelas air putih. "Vitaminnya diminum dulu. Kata Nyonya, tadi kepalanya pusing.""Kamu cerewet banget, sih." Toh, vitamin itu Laras telan juga sampai airnya habis setengah gelas."Supnya keasinan.""Itu masakan Bi Inah. Saya cuma manasin aja. Jangan bilang saya kebelet nikah loh, bukan saya yang masak loh, Nya!" ujar Dimas seraya terkekeh.Beberapa suap kemudian, Laras menahan tangan kiri Dimas. "Dim... kamu jangan nganggap aku murahan, ya."Dimas menaruh sendok di mangkuk. Matanya dia arahkan lurus ke mata Laras. "Saya nggak
Terkejut, Dimas buru-buru memelankan gerakannya. "Ma-maaf. Segini?"Laras menuntun sendiri pergelangan Dimas. Sekali, dua kali, jempol itu dia putar dengan tempo yang dia mau, lalu tangannya dia lepaskan begitu Dimas sudah bisa mengikuti. "Iya... segitu. Ahh... iya, gitu terus, enak kalau pelan-pelan gini. Ahh..."Masih dengan napas tersendat, Laras menambahkan aturan. "Kalau aku diem, berarti enak. Kalau aku pegang tangan kamu, berarti pelanin, ya!""Kalau Nyonya nendang?"Seketika Laras menatap Dimas tajam. "Ya berarti kamu lancang dan ngawur, nggak mau jadi goodboy! Berondong nggak boleh banyak protes ya..."Dimas mengangguk, lalu terus memutar jempolnya mengikuti ke mana klitoris Laras bergerak. Lama-lama, desahan Laras m
"Ka-kaget, Nya. Terus... deg-degan. Terus, anu..." Suara Dimas habis di situ, sedangkan tangan kanannya refleks menutupi depan celana.Laras melirik ke bawah, ke tangan yang menutupi celana itu. "Terus apa? Diterusin dong ngomongnya. Aku aja udah ketahuan sampai begini, masa kamu nggak mau ngaku?""Ce-celana saya kekecilan, Nya. Udah lama nggak beli yang baru."Tawa Laras keluar sebentar, lalu dia gigit bibir bawahnya supaya berhenti. "Tadi sore pas kamu mijit kakiku, celana itu masih muat-muat aja, kok."Laras cepat-cepat membuang muka ke lampu tidur, lalu duduk lagi di tepi ranjang. Sesudah itu, suaranya dia buat setenang mungkin. "Ya udah, aku yang ngajarin, sini masuk..."Karena terpaksa, Dimas pun masuk ke kamar Laras.







