Mag-log in"Ka-kaget, Nya. Terus... deg-degan. Terus, anu..." Suara Dimas habis di situ, sedangkan tangan kanannya refleks menutupi depan celana.
Laras melirik ke bawah, ke tangan yang menutupi celana itu. "Terus apa? Diterusin dong ngomongnya. Aku aja udah ketahuan sampai begini, masa kamu nggak mau ngaku?"
"Ce-celana saya kekecilan, Nya. Udah lama nggak beli yang baru."
Tawa Laras keluar sebentar, lalu dia gigit bibir bawahnya supaya berhenti. "Tadi sore pas kamu mijit kakiku, celana itu masih muat-muat aja, kok."
Laras cepat-cepat membuang muka ke lampu tidur, lalu duduk lagi di tepi ranjang. Sesudah itu, suaranya dia buat setenang mungkin. "Ya udah, aku yang ngajarin, sini masuk..."
Karena terpaksa, Dimas pun masuk ke kamar Laras.
"Sebelum kamu aku ajari, pastikan kamu bersih dulu. Pertama, cuci tangan dulu. Pakai sabun. Tangan kamu habis pegang nampan, tadi sore pegang baskom."
Tanpa membantah, Dimas masuk ke kamar mandi. Air keran dia nyalakan deras, kemudian sabun dia gosok sampai ke sela kuku.
Dari ranjang, Laras memanggil dengan suara yang masih serak. "Kamu cuci tangan atau mandi, sih? Lama banget. Nggak tau aku udah pingin apa ini!"
"Bekas olinya susah ilang, Nya! Masa saya mainin punya Nyonya tangan saya masih bau oli?" balas Dimas, lantas terkekeh.
Begitu Dimas keluar, tangannya masih meneteskan air ke lantai.
Melihat itu, Laras menahan senyum sambil menunjuk tetesan air di dekat kakinya. "Handuknya di balik pintu kamar mandi. Nggak usah buru-buru. Aku nggak ke mana-mana, kok."
Setelah tangannya kering, Dimas duduk di tepi ranjang, di sisi kanan Laras yang sudah berbaring lagi. Piyama satin biru muda itu masih terbuka sampai perut, sehingga dua dada Laras naik-turun pelan di depan matanya.
Tangan kanan Dimas Laras raih, lalu dia taruh di atas perutnya. "Setelah udah di perut, masuk tahap kedua. Usap pelan dari sini ke bawah. Biar tangan kamu nggak dingin dulu, nyesuaiin sama suhu badanku."
Telapak Dimas bergerak dari perut Laras turun ke pangkal paha, lalu naik lagi ke perut. Kulit di bawah tangannya halus dan hangat, sedangkan telapaknya sendiri kasar dan penuh kapalan bekas cangkul.
Bulu halus di lengan Laras berdiri. Napasnya mulai berat, dan perutnya naik-turun di bawah tangan Dimas. "Ta-ta-tangan kamu... kasar banget."
Dimas langsung berhenti. "Sakit? Saya angkat aja, ya?"
Mendengar itu, Laras menahan tangan itu di perutnya. "Jangan, kamu kalau main, kasarnya enak... kasar-kasar tangan pekerja keras, mpphh..."
Muka Dimas panas. Tangannya dia gerakkan lagi, kali ini lebih pelan.
"Kamu tahu kenapa aku suruh cuci tangan, terus masuk ke kamarku?" tanya Laras dengan mata setengah terpejam.
Karena tidak tahu jawabannya, Dimas menjawab asal sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Biar tangan saya bersih dan steril, Nya?"
"Biar aku nggak kaget. Udah dua tahun nggak ada tangan yang nyentuh bagian ini. Baru kamu. Dan tangan kamu, ka-ka-kasar... ahh..."
Lutut kanan Laras tertekuk naik, sehingga betisnya menempel ke paha Dimas, tepat di sebelah tonjolan celana itu. Senyum Laras ikut naik walau matanya masih setengah terpejam. "Yang di celana kamu udah keras, loh. Kerasa sampai betisku."
"Ma-maaf, Nya! Itu nggak bisa saya atur."
"Kalau kamu nggak enak, geser aja duduknya. Tapi aku sih nggak keberatan, malah seneng ngerasainnya."
Dimas tetap duduk di tempatnya. Betis itu pun sesekali menekan pelan setiap kali tangan Dimas turun ke pangkal paha. Alhasil, celana Dimas makin sesak.
Celana dalam renda krem yang tadi tergeser itu Laras rapikan sendiri. Setelah itu, dia menuntun dua jari Dimas ke atas kainnya. "Ketiga, gosok dari luar dulu. Dari atas ke bawah, pelan, nggak usah ditekan."
Dua jari Dimas mulai bergerak. Dahinya berkerut, sementara matanya tidak lepas dari jarinya sendiri. "Begini?"
"Iya... pelan lagi."
Laras membuka mata sedikit, lalu menahan senyum melihat muka Dimas. "Dahinya nggak usah dikerutin gitu. Aku nggak lagi nguji kamu."
"Takut salah, Nya... i-i-ini, ini baru pertama kali saya..."
"Kalau salah, aku bilang." Laras seketika memotong. Senyum kecil tersungging di bibirnya, pertanda bahwa dia sangat memaklumi kejujuran Dimas yang masih sangat-sangat polos.
"Kalau kekencengan, Nyonya juga bilang, ya. Saya hanya membantu Nyonya, tidak mau membuat Nyonya sakit atau apa."
"Iya, bawel. Udah, cepetan, nggak usah banyak omong!" ucap Laras sambil menekan punggung tangan Dimas ke kainnya.
Sesudah itu, Laras melirik dada Dimas yang tidak bergerak sama sekali. "Kamu dari tadi nahan napas, ya? Napas dong, kalau kamu pingsan di sini, barabe nanti!"
"Lupa napas, Nya, maaf. Sa-sa-saya... saya baru pertama kali megang anu, i-itu... itulah maksudnya. Nyonya tahu sendiri, saya belum pernah. Sekalinya pernah, langsung dinodain kayak gini."
Tawa Laras keluar sebentar, kemudian berhenti sendiri karena jari Dimas turun lagi. "Dinodain, dinodain. Emangnya kamu nggak mau? Yaudah, kalau nggak mau!"
"Eh, mau, Nya. Maksudku..." Dimas coba mengalihkan topik, tapi matanya tak berpaling dari milik Nyonya-nya yang mengkal dan ranum. "Mau bantuin Nyonya aja. Katakanlah, ini tugas saya sebagai sopir yang baik buat Nyonya, kali aja saya dapat bonus nanti, hehe."
Kain renda di bawah jari Dimas lama-lama basah. Pinggul Laras pun mulai bergerak mengikuti gosokan itu, naik sedikit setiap jari Dimas turun.
Tiba-tiba, Laras menangkap pergelangan Dimas dan menahannya di tempat. Napasnya masih tersendat, tetapi nadanya sengaja dia buat menantang. "Berhenti dulu. Di jari kamu sekarang rasanya gimana?"
"Re-rendanya, Nya. Basah. Makin lama makin basah."
"Terus, mau lanjut ke yang keempat, atau cukup segini? Kamu yang bilang."
"La-lanjut, Nya. Saya mau."
Laras tertawa kecil sampai perutnya berguncang di bawah tangan Dimas. Begitu tawanya reda, dia menyingkap celana dalamnya sendiri ke samping, lalu telunjuknya menunjuk ujung atas miliknya, tepat di klitorisnya. "Keempat, di situ. Kamu tahu namanya?"
"Kli... klitoris?"
Mendengar itu, Laras tersenyum. "Loh tahu? Goodboy. Aku kira kamu sepolos itu loh, ternyata tahu juga istilah dalam wanita. Nah, itu bagian yang paling enak, puter pelan pakai jempol, diteken dikit."
Jempol Dimas menempel di situ, lalu langsung berputar cepat karena sudah terlanjur nafsu. Akalnya sudah hilang, apalagi melihat Nyonya Laras yang cantik ini, sangat kesepian dan haus akan sentuhan lelaki.
Karena putarannya terlalu cepat, Laras tersentak, kemudian buru-buru mencengkeram pergelangan tangan Dimas. "Ah, Dim, ah, ah, pe-pelan... pelan, ahh. Kamu kok buru-buru banget, mmphhh? Pe-pe-pelan…"
Terkejut, Dimas buru-buru memelankan gerakannya. "Ma-maaf. Segini?"Laras menuntun sendiri pergelangan Dimas. Sekali, dua kali, jempol itu dia putar dengan tempo yang dia mau, lalu tangannya dia lepaskan begitu Dimas sudah bisa mengikuti. "Iya... segitu. Ahh... iya, gitu terus, enak kalau pelan-pelan gini. Ahh..."Masih dengan napas tersendat, Laras menambahkan aturan. "Kalau aku diem, berarti enak. Kalau aku pegang tangan kamu, berarti pelanin, ya!""Kalau Nyonya nendang?"Seketika Laras menatap Dimas tajam. "Ya berarti kamu lancang dan ngawur, nggak mau jadi goodboy! Berondong nggak boleh banyak protes ya..."Dimas mengangguk, lalu terus memutar jempolnya mengikuti ke mana klitoris Laras bergerak. Lama-lama, desahan Laras m
"Ka-kaget, Nya. Terus... deg-degan. Terus, anu..." Suara Dimas habis di situ, sedangkan tangan kanannya refleks menutupi depan celana.Laras melirik ke bawah, ke tangan yang menutupi celana itu. "Terus apa? Diterusin dong ngomongnya. Aku aja udah ketahuan sampai begini, masa kamu nggak mau ngaku?""Ce-celana saya kekecilan, Nya. Udah lama nggak beli yang baru."Tawa Laras keluar sebentar, lalu dia gigit bibir bawahnya supaya berhenti. "Tadi sore pas kamu mijit kakiku, celana itu masih muat-muat aja, kok."Laras cepat-cepat membuang muka ke lampu tidur, lalu duduk lagi di tepi ranjang. Sesudah itu, suaranya dia buat setenang mungkin. "Ya udah, aku yang ngajarin, sini masuk..."Karena terpaksa, Dimas pun masuk ke kamar Laras.
Malam itu juga, Dimas mengetik kata di amplop itu di ponselnya. Jawabannya cuma satu kalimat, air mani yang sama sekali tidak mengandung sperma.Artinya, yang tidak bisa punya anak di rumah ini selama ini Reza sendiri?Amplop itu dia selipkan di bawah buku saku cokelat di laci kamar belakang, tanpa cerita ke siapa pun.Senin paginya, Dimas mengantar Laras ke klinik kandungan di Kemang. Di depan polisi tidur, Dimas mengerem mendadak sampai tas Laras tumpah ke karpet. Isinya tujuh testpack, empat strip obat, dan buku kecil penuh tanggal yang dilingkari.Sambil memunguti isinya, Laras bercerita kalau Reza tidak pernah pulang di tanggal-tanggal itu. Padahal, tiap bulan Reza tetap marah karena dia belum hamil.Di klinik, dr. Tasya bilang rahim Laras sehat, lalu menyarankan suaminya ikut periksa. Anehnya, dokter itu menatap Laras lebih lama waktu menyebut kata suami.Apa dokter itu juga tahu sesuatu?Pulangnya, Laras ketiduran sampai kepalanya merosot ke pangkuan Dimas.Begitu klakson di be
Di luar, langit di atas Pondok Indah sudah gelap, padahal baru jam dua.Begitu masuk ke sedan hitam itu, Laras memilih duduk di jok depan, di samping Dimas. Begitu pintu tertutup, dia menarik sabuk pengaman, namun sabuk itu berhenti di tengah dada dan tidak mau turun lagi."Loh, kok nyangkut? Ini gimana, sih?"Dimas menjulurkan badannya ke arah Laras untuk menarik sabuk itu dari gulungannya. Wajahnya lewat tinggal sejengkal di depan wajah Laras, sehingga wangi sampo dari rambut Laras tercium jelas.Sabuk itu dia tarik ke bawah dengan satu sentakan. Sialnya, punggung tangannya ikut menyapu dada Laras yang empuk di balik blus tipis itu.Laras menahan napas."Ma-maaf, Nya! Sabuknya, itu, sabuknya yang macet!"Klik.Sabuk itu akhirnya terpasang. Dimas buru-buru kembali ke kursinya, lalu memegang setir dengan dua tangan, padahal mobilnya belum dinyalakan.Dari kursinya, Laras menatap Dimas sambil menggigit bibir bawah supaya tidak tertawa. "Oke, sabuknya yang macet. Terus kenapa yang merah
Laras diam lama.Matanya menatap Dimas tanpa berkedip, sementara tangannya yang tadi menahan pergelangan Dimas turun ke pangkuan. Setelah itu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik dan lesung pipi kirinya muncul."Kamu ngomong gitu karena kasihan sama aku, ya?""Saya nggak pinter bohong. Kalau saya bohong, kuping saya langsung merah.""Kuping kamu dari tadi merah terus, loh."Refleks, Dimas memegang telinganya sendiri. Telinga itu memang panas. Melihat itu, Laras menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa sampai matanya basah.Empat tahun Laras menikah, dan yang bilang dia cantik di malam ulang tahun pernikahannya justru tukang kebun suaminya.Cantik luar dan dalam bak bidadari, mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan Laras malam ini.Laras menunduk ke kuenya, lalu menyendok krim yang tersisa di piring dengan ujung garpu. "Kamu tahu nggak, dua tahun ini aku tidur sendiri. Mas Reza pindah ke kamar ujung lorong, katanya dia nggak bisa tidur kalau ada orang di sebelahnya. Rumah
Mereka diam dua detik.Napas Laras terasa hangat di kerah kaus Dimas. Jantung Dimas sendiri berdetak keras, sampai dia yakin Laras bisa merasakannya lewat kain.Laras mundur selangkah, lalu satu tangannya menahan tiang gazebo. "Maaf, maaf. Kakiku lemes, soalnya dari siang aku belum makan apa-apa. Makasih, ya, Dim.""Nya, jangan dipaksakan. Tangga di dalem lebih tinggi, terus di sana nggak ada yang jaga. Saya antar aja kalau gitu, sambil saya bawain kue biar Nyonya keisi dikit perutnya."Laras menggeleng pelan, kemudian berjalan pelan-pelan ke pintu belakang. Tak lama, lampu tangga di dalam menyala, disusul lampu kamarnya di lantai dua. Sementara itu, kamar Reza di ujung lorong sudah gelap sejak tadi.Akhirnya, Dimas membereskan meja sendirian. Piring, gelas, serta pisau kue dia bawa ke dapur, lalu kue yang masih utuh itu dia tutup dengan tudung saji di meja makan. Terakhir, colokan lampu bola-bola di gazebo itu dia cabut.Selesai beres-beres, Dimas kembali ke kamar belakang. Namun, le







