بيت / Urban / Manjanya Nyonyaku / Bab 5 Rahasia Reza

مشاركة

Bab 5 Rahasia Reza

مؤلف: Callme_Tata
last update تاريخ النشر: 2026-10-14 13:26:27

Di luar, langit di atas Pondok Indah sudah gelap, padahal baru jam dua.

Begitu masuk ke sedan hitam itu, Laras memilih duduk di jok depan, di samping Dimas. Begitu pintu tertutup, dia menarik sabuk pengaman, namun sabuk itu berhenti di tengah dada dan tidak mau turun lagi.

"Loh, kok nyangkut? Ini gimana, sih?"

Dimas menjulurkan badannya ke arah Laras untuk menarik sabuk itu dari gulungannya. Wajahnya lewat tinggal sejengkal di depan wajah Laras, sehingga wangi sampo dari rambut Laras tercium jelas.

Sabuk itu dia tarik ke bawah dengan satu sentakan. Sialnya, punggung tangannya ikut menyapu dada Laras yang empuk di balik blus tipis itu.

Laras menahan napas.

"Ma-maaf, Nya! Sabuknya, itu, sabuknya yang macet!"

Klik.

Sabuk itu akhirnya terpasang. Dimas buru-buru kembali ke kursinya, lalu memegang setir dengan dua tangan, padahal mobilnya belum dinyalakan.

Dari kursinya, Laras menatap Dimas sambil menggigit bibir bawah supaya tidak tertawa. "Oke, sabuknya yang macet. Terus kenapa yang merah malah muka kamu?"

"Ini... AC-nya belum nyala. Panas."

"Ya udah, nyalain dong AC-nya. Biar mukanya nggak merah lagi."

Dimas menyalakan mesin dan AC sekaligus. Sepanjang jalan ke supermarket, Laras bersenandung pelan sambil menatap jendela, sedangkan Dimas menatap jalan lurus-lurus.

Belanjaan Laras ternyata cuma dua kantong kecil, isinya sayur, telur, dan sebungkus kopi. Begitu mereka keluar dari pintu kaca supermarket, hujan turun deras sekali.

Payung lipat di tas Laras cuma satu, dan ukurannya kecil. "Dempetan aja. Rapetan sini, nanti kamu kehujanan!"

Mau tidak mau, Dimas memegang payung itu tinggi-tinggi, sementara Laras merapat ke sisinya. Begitu mereka mulai melangkah ke parkiran, tangan Laras melingkar di pinggang Dimas.

"Pegangan, ya. Aku pakai sandal, takut kepeleset."

Dimas cuma mengangguk, karena mulutnya mendadak kering. Lengan Laras di pinggangnya terasa hangat, dan sisi dada Laras menempel ke lengannya tiap kali mereka melompati genangan.

"Pinggang kamu keras banget. Pantes karung kompos kamu angkat sendirian terus."

"I-itu... perut saya lagi nahan lapar. Makanya kenceng."

Tawa Laras langsung pecah di bawah payung, sampai pegangannya di pinggang Dimas makin erat.

Toh, payung kecil itu tidak banyak membantu. Sampai di mobil, mereka berdua sudah basah kuyup dari kepala sampai kaki.

Kantong belanjaan dan payung yang meneteskan air Dimas lempar ke jok belakang, lalu dia cepat-cepat masuk ke kursi sopir. Di sampingnya, Laras sudah duduk dengan napas terengah-engah.

Blus katun putih Laras menempel ke kulitnya dari bahu sampai pinggang. Tali bra krem di baliknya terlihat jelas, begitu juga bentuk cup-nya yang ikut tercetak di kain basah itu. Rambutnya lepek menempel di leher, sementara air masih menetes dari ujungnya ke belahan dada.

Dimas langsung membuang muka ke kaca jendela.

Laras melihat arah mata Dimas, lalu menunduk ke blusnya sendiri. Kain yang menempel itu sempat dia tarik menjauh dari kulit. Begitu dilepas, kain itu menempel lagi, dan Laras membiarkannya.

"Basah semua, ya. Udah, nggak usah lihat jendela terus. Leher kamu nanti kaku."

"Sa-saya lagi lihat spion tengah."

"Spion tengah di atas kepala kamu. Yang kamu lihat itu kaca samping." Laras mencondongkan badan sedikit. "Kamu tuh ya, semalam disuapin aja malu. Sekarang lihat aku aja nggak berani."

"Saya takut dosa..."

"Takut dosa, tapi tadi sempat lihat juga, kan? Aku lihat, loh, matamu ke dada aku dulu, baru pindah ke jendela."

"Ketahuan," batin Dimas sambil buru-buru menyalakan mesin.

Mobil keluar dari parkiran pelan-pelan. Belum jauh, bahu Laras mulai bergetar, lalu giginya bergemeletuk pelan, karena AC mobil menyembur tepat ke blusnya yang basah.

Di lampu merah pertama, Dimas mematikan AC, lalu mengambil jaket parasut yang tadi pagi dia taruh di bawah jok. Jaket itu dia selimutkan ke bahu Laras, kemudian kerahnya dia rapatkan supaya menutup leher.

Ujung jarinya sempat menyentuh leher Laras. Kulit di situ dingin, bahkan bulu halusnya berdiri.

"Hmm..." Laras memejamkan mata sebentar, lalu merapatkan jaket itu dengan dua tangan.

"Maaf, tangan saya..."

"Nggak papa. Makasih jaketnya."

Lampu berganti hijau. Sepanjang jalan pulang, hujan tidak juga berhenti, sehingga jalanan di Fatmawati macet.

Di lampu merah berikutnya, kepala Laras rebah pelan ke bahu kiri Dimas.

Dimas membeku. Tangan kirinya dia turunkan dari setir supaya bahunya tidak bergerak, sehingga sekarang dia menyetir dengan tangan kanan saja. Napasnya pun dia atur pelan-pelan.

"Badan kamu anget banget, Dim," bisik Laras dengan mata terpejam. "Aku nyandar sebentar, ya. Sampai lampunya hijau aja."

Dimas menelan ludah. Dari jarak sedekat itu, napas Laras terasa di lehernya, sementara rambutnya yang basah menempel di bahu kemeja Dimas.

Masih dengan mata terpejam, Laras bertanya lagi. "Pacar kamu pernah nyandar begini juga?"

"Saya nggak punya pacar, Nya."

"Masa, sih? Cewek-cewek di kampus kamu pada ke mana?"

"Pada sibuk ngurusin skripsi. Saya juga, sebenarnya."

"Berarti mereka yang rugi."

Lampu sudah hijau, tetapi kepala Laras belum juga terangkat.

"Itu... lampunya udah hijau..."

"Ssst. Belum. Itu masih kuning."

Laras tertawa kecil di bahu Dimas. Sesudah itu, kepalanya dia angkat pelan-pelan, lalu dia menoleh ke jendela di sisinya.

Dari pantulan kaca yang berembun, Dimas bisa melihat Laras tersenyum.

Sampai di rumah, Laras turun lebih dulu dengan jaket Dimas masih membungkus bahunya. Dua kantong belanjaan dia bawa masuk sendiri, sedangkan Dimas tinggal di garasi untuk mengurus mobil yang basah.

Karpet jok belakang basah kuyup bekas payung dan kantong belanjaan tadi. Karena itu, Dimas mengambil penyedot debu basah dari gudang, lalu menyedot air hujan dari karpet itu sedikit demi sedikit.

Waktu ujung selangnya masuk ke celah di bawah jok, ada sesuatu yang tersangkut.

Dimas menarik benda itu keluar. Ternyata, itu amplop putih yang ujungnya sudah lembap, mungkin jatuh dari tas Reza tadi siang.

Di pojok kiri atas amplop itu tercetak kop sebuah klinik di Kuningan. Kertas di dalamnya sudah keluar separuh, sehingga Dimas bisa membaca nama Reza Hadikusuma di bagian atas, lalu satu kata yang dicetak tebal di bawahnya.

Kata yang belum pernah Dimas dengar seumur hidupnya. [Azoospermia.]

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 8 Melonku gimana rasanya?

    Terkejut, Dimas buru-buru memelankan gerakannya. "Ma-maaf. Segini?"Laras menuntun sendiri pergelangan Dimas. Sekali, dua kali, jempol itu dia putar dengan tempo yang dia mau, lalu tangannya dia lepaskan begitu Dimas sudah bisa mengikuti. "Iya... segitu. Ahh... iya, gitu terus, enak kalau pelan-pelan gini. Ahh..."Masih dengan napas tersendat, Laras menambahkan aturan. "Kalau aku diem, berarti enak. Kalau aku pegang tangan kamu, berarti pelanin, ya!""Kalau Nyonya nendang?"Seketika Laras menatap Dimas tajam. "Ya berarti kamu lancang dan ngawur, nggak mau jadi goodboy! Berondong nggak boleh banyak protes ya..."Dimas mengangguk, lalu terus memutar jempolnya mengikuti ke mana klitoris Laras bergerak. Lama-lama, desahan Laras m

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 7 Enak...

    "Ka-kaget, Nya. Terus... deg-degan. Terus, anu..." Suara Dimas habis di situ, sedangkan tangan kanannya refleks menutupi depan celana.Laras melirik ke bawah, ke tangan yang menutupi celana itu. "Terus apa? Diterusin dong ngomongnya. Aku aja udah ketahuan sampai begini, masa kamu nggak mau ngaku?""Ce-celana saya kekecilan, Nya. Udah lama nggak beli yang baru."Tawa Laras keluar sebentar, lalu dia gigit bibir bawahnya supaya berhenti. "Tadi sore pas kamu mijit kakiku, celana itu masih muat-muat aja, kok."Laras cepat-cepat membuang muka ke lampu tidur, lalu duduk lagi di tepi ranjang. Sesudah itu, suaranya dia buat setenang mungkin. "Ya udah, aku yang ngajarin, sini masuk..."Karena terpaksa, Dimas pun masuk ke kamar Laras.

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 6 Sini Masuk

    Malam itu juga, Dimas mengetik kata di amplop itu di ponselnya. Jawabannya cuma satu kalimat, air mani yang sama sekali tidak mengandung sperma.Artinya, yang tidak bisa punya anak di rumah ini selama ini Reza sendiri?Amplop itu dia selipkan di bawah buku saku cokelat di laci kamar belakang, tanpa cerita ke siapa pun.Senin paginya, Dimas mengantar Laras ke klinik kandungan di Kemang. Di depan polisi tidur, Dimas mengerem mendadak sampai tas Laras tumpah ke karpet. Isinya tujuh testpack, empat strip obat, dan buku kecil penuh tanggal yang dilingkari.Sambil memunguti isinya, Laras bercerita kalau Reza tidak pernah pulang di tanggal-tanggal itu. Padahal, tiap bulan Reza tetap marah karena dia belum hamil.Di klinik, dr. Tasya bilang rahim Laras sehat, lalu menyarankan suaminya ikut periksa. Anehnya, dokter itu menatap Laras lebih lama waktu menyebut kata suami.Apa dokter itu juga tahu sesuatu?Pulangnya, Laras ketiduran sampai kepalanya merosot ke pangkuan Dimas.Begitu klakson di be

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 5 Rahasia Reza

    Di luar, langit di atas Pondok Indah sudah gelap, padahal baru jam dua.Begitu masuk ke sedan hitam itu, Laras memilih duduk di jok depan, di samping Dimas. Begitu pintu tertutup, dia menarik sabuk pengaman, namun sabuk itu berhenti di tengah dada dan tidak mau turun lagi."Loh, kok nyangkut? Ini gimana, sih?"Dimas menjulurkan badannya ke arah Laras untuk menarik sabuk itu dari gulungannya. Wajahnya lewat tinggal sejengkal di depan wajah Laras, sehingga wangi sampo dari rambut Laras tercium jelas.Sabuk itu dia tarik ke bawah dengan satu sentakan. Sialnya, punggung tangannya ikut menyapu dada Laras yang empuk di balik blus tipis itu.Laras menahan napas."Ma-maaf, Nya! Sabuknya, itu, sabuknya yang macet!"Klik.Sabuk itu akhirnya terpasang. Dimas buru-buru kembali ke kursinya, lalu memegang setir dengan dua tangan, padahal mobilnya belum dinyalakan.Dari kursinya, Laras menatap Dimas sambil menggigit bibir bawah supaya tidak tertawa. "Oke, sabuknya yang macet. Terus kenapa yang merah

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 4 Aku Cantik, Nggak?

    Laras diam lama.Matanya menatap Dimas tanpa berkedip, sementara tangannya yang tadi menahan pergelangan Dimas turun ke pangkuan. Setelah itu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik dan lesung pipi kirinya muncul."Kamu ngomong gitu karena kasihan sama aku, ya?""Saya nggak pinter bohong. Kalau saya bohong, kuping saya langsung merah.""Kuping kamu dari tadi merah terus, loh."Refleks, Dimas memegang telinganya sendiri. Telinga itu memang panas. Melihat itu, Laras menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa sampai matanya basah.Empat tahun Laras menikah, dan yang bilang dia cantik di malam ulang tahun pernikahannya justru tukang kebun suaminya.Cantik luar dan dalam bak bidadari, mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan Laras malam ini.Laras menunduk ke kuenya, lalu menyendok krim yang tersisa di piring dengan ujung garpu. "Kamu tahu nggak, dua tahun ini aku tidur sendiri. Mas Reza pindah ke kamar ujung lorong, katanya dia nggak bisa tidur kalau ada orang di sebelahnya. Rumah

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 3 Disuapin Nyonya

    Mereka diam dua detik.Napas Laras terasa hangat di kerah kaus Dimas. Jantung Dimas sendiri berdetak keras, sampai dia yakin Laras bisa merasakannya lewat kain.Laras mundur selangkah, lalu satu tangannya menahan tiang gazebo. "Maaf, maaf. Kakiku lemes, soalnya dari siang aku belum makan apa-apa. Makasih, ya, Dim.""Nya, jangan dipaksakan. Tangga di dalem lebih tinggi, terus di sana nggak ada yang jaga. Saya antar aja kalau gitu, sambil saya bawain kue biar Nyonya keisi dikit perutnya."Laras menggeleng pelan, kemudian berjalan pelan-pelan ke pintu belakang. Tak lama, lampu tangga di dalam menyala, disusul lampu kamarnya di lantai dua. Sementara itu, kamar Reza di ujung lorong sudah gelap sejak tadi.Akhirnya, Dimas membereskan meja sendirian. Piring, gelas, serta pisau kue dia bawa ke dapur, lalu kue yang masih utuh itu dia tutup dengan tudung saji di meja makan. Terakhir, colokan lampu bola-bola di gazebo itu dia cabut.Selesai beres-beres, Dimas kembali ke kamar belakang. Namun, le

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status