Home / Urban / Manjanya Nyonyaku / Bab 6 Sini Masuk

Share

Bab 6 Sini Masuk

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-14 13:26:45

Malam itu juga, Dimas mengetik kata di amplop itu di ponselnya. Jawabannya cuma satu kalimat, air mani yang sama sekali tidak mengandung sperma.

Artinya, yang tidak bisa punya anak di rumah ini selama ini Reza sendiri?

Amplop itu dia selipkan di bawah buku saku cokelat di laci kamar belakang, tanpa cerita ke siapa pun.

Senin paginya, Dimas mengantar Laras ke klinik kandungan di Kemang. Di depan polisi tidur, Dimas mengerem mendadak sampai tas Laras tumpah ke karpet. Isinya tujuh testpack, empat strip obat, dan buku kecil penuh tanggal yang dilingkari.

Sambil memunguti isinya, Laras bercerita kalau Reza tidak pernah pulang di tanggal-tanggal itu. Padahal, tiap bulan Reza tetap marah karena dia belum hamil.

Di klinik, dr. Tasya bilang rahim Laras sehat, lalu menyarankan suaminya ikut periksa. Anehnya, dokter itu menatap Laras lebih lama waktu menyebut kata suami.

Apa dokter itu juga tahu sesuatu?

Pulangnya, Laras ketiduran sampai kepalanya merosot ke pangkuan Dimas.

Begitu klakson di belakang berbunyi, dia bangun dengan pipi yang menempel di celana Dimas yang sudah mengencang. Laras cuma tertawa kecil di balik punggung tangannya, sedangkan Dimas menyalahkan jalan yang goyang.

Di warung es dawet, Laras bertanya soal kuliahnya. Tanpa sadar, Dimas menyebut UKT-nya yang menunggak 8,3 juta.

Waktu Reza menelepon minta laporan dari sopir, Dimas cuma bilang Nyonya sehat. Soal suami ikut periksa tidak dia sebut, karena Laras menggeleng pelan.

Sabtu berikutnya, arisan keluarga besar pindah mendadak ke rumah Laras. Di depan lima belas tamu, Bu Henny bilang menantu yang rahimnya kering cocoknya di dapur. Semua tertawa canggung, kecuali Tante Meli di ujung sofa.

Sorenya, Dimas disuruh membawa baskom air hangat ke teras samping untuk memijat kaki Laras yang bengkak. Dari posisi jongkok, celana dalam renda krem di balik rok Laras sempat terlihat olehnya.

Laras sampai dua kali bertanya Dimas lihat apa. Sesudah itu, dia berterima kasih karena baru kali ini ada yang memijat kakinya.

Bi Inah sudah pamit pulang kampung dua hari karena cucunya sakit, sedangkan Reza mengirim pesan kalau dia menginap di Bogor. Membaca pesan itu, Laras naik ke kamarnya tanpa bilang apa-apa.

Jam setengah sembilan, ponsel Dimas bergetar.

[Dim, tolong bawain makan malam ke kamarku jam sembilan ya. Sama vitamin di laci dapur, sama air putih. Aku pusing banget, nggak kuat turun.]

Sup ayam sisa arisan Dimas panaskan di kompor, lalu dia tuang ke mangkuk. Sepiring nasi, dua butir vitamin, dan segelas air putih dia susun di samping mangkuk itu di atas nampan.

Tepat jam sembilan, Dimas naik ke lantai dua. Pintu kamar Laras terbuka sejengkal, dan dari celahnya keluar cahaya kuning lampu tidur.

Tok.

Tok.

Tidak ada jawaban.

Karena kedua tangannya memegang nampan, Dimas mendorong pintu itu pelan-pelan dengan bahu.

Langkahnya langsung berhenti di ambang pintu.

Laras berbaring di ranjang dengan mata terpejam rapat. Kancing piyama satin biru mudanya terbuka sampai perut, sementara kedua kakinya mengangkang di atas seprai krem. Tangan kirinya meremas dadanya sendiri.

Tangan kanannya bergerak di balik celana dalam renda krem yang sudah tergeser ke samping, sedangkan pinggulnya naik-turun pelan mengikuti gerakan itu. "Mmh... Mas Reza..."

Nama itu keluar sekali saja dari mulut Laras. Sesudahnya, tangannya berhenti bergerak, lalu dia menggeleng pelan dengan mata yang masih terpejam.

Kasihan, sungguh kasihan! Dua tahun memanggil nama suami di kamar sendirian, padahal amplop di laci kamar belakang sudah menjelaskan siapa yang bermasalah di rumah ini.

Sialnya, tangan Dimas gemetar. Gelas di nampan bergeser, lalu berdenting ke pinggir piring.

Ting.

Laras membuka mata. Tangannya membeku di tempat. Mukanya pucat sebentar, lalu merah sampai ke leher.

"Ma-maaf, Nya! Saya udah ketuk, tapi..." Dengan buru-buru, Dimas menaruh nampan di meja rias, lalu berbalik ke pintu tanpa berani menoleh lagi.

Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, suara Laras menahannya dari belakang. Suaranya lirih, putus-putus di sela napas yang belum teratur. "Kamu nggak kasihan sama Nyonya, Dim? Udah 2 tahun aku kayak gini, dicuekin suami, terus nggak ada yang bantu. Kalau kamu bisa bantu, aku kasih tambahan buat biaya UKT kamu..."

Tangan Dimas tetap di gagang pintu, sementara matanya terpejam. Angka 8,3 juta di buku saku cokelatnya langsung terbayang, lalu menyusul muka Laras di gazebo malam itu, lengkap dengan bekas jari di pipinya.

Dibayar untuk membantu? Membantu yang seperti tadi, maksudnya?

Pelan-pelan, Dimas menoleh ke ranjang. "Nyonya yakin?"

Laras sudah menarik selimut sampai ke perut, tetapi matanya menatap Dimas lurus-lurus. Dia mengangguk. "Yakin. Kamu boleh berhenti kapan aja. Aku juga bakal bilang kalau mau berhenti."

"Soal uangnya..."

Sambil meremas ujung selimut, Laras memotong. "Nanti aja itu. Sekarang aku cuma nanya, kamu mau atau nggak?"

Dimas menggaruk tengkuknya. Umurnya sudah 23 tahun, tetapi pengakuan berikutnya dia ucapkan sambil menunduk ke lantai. "Mau. Tapi saya... belum pernah megang perempuan sama sekali."

Di sela malunya, Laras tertawa kecil. Selimut yang tadi dia pegang erat pun mulai longgar. "Ya ampun. Pantesan dari tadi berdiri kaku di situ."

"Saya nggak bakal bilang siapa-siapa."

"Aku tahu. Kamu orangnya gitu. Tapi tetep aja aku malu banget kamu lihat yang tadi."

Dimas buru-buru mengangkat dua tangannya. "E-eh, saya baru masuk, kok. Yang tadi itu saya udah lupa."

"Bohong. Baru masuk, tapi celananya udah begitu. Ngaku aja, gimana perasaanmu barusan pas lihat aku di posisi kayak gitu?" Laras berdiri dan berhadapan langsung dengan Dimas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 12 Nyonya Belum Puas

    [Pembayaran berhasil. Tagihan UKT Anda LUNAS.]Tunggakan yang membuat Dimas cuti 2 semester itu beres dalam satu menit. Setelah itu, dia mengirim 500 ribu dari tabungan gajinya ke rekening Pak Lik.[Pak Lik, Dimas kirim 500 ribu buat tebus obat Kirana bulan ini. UKT Dimas juga udah lunas, jadi Pak Lik nggak usah mikirin itu lagi. Salam buat Bulik sama Kirana, ya.]Dari sudut mata, Dimas melihat Laras ikut memandangi layar ponselnya. Begitu Dimas menoleh, Laras sudah menghadap jendela dengan bibir tersenyum. "Selamat, ya. Habis ini kamu bisa lanjut skripsi lagi, kan? Waktu di warung es dawet kamu bilang tinggal bab hasil.""Iya, Nya. Datanya udah ada semua, tinggal saya tulis. Minggu ini saya urus surat aktif kuliah dulu ke kampus."

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 11 Cemburu sama Dewi

    "Saya cuma ngikutin yang Nyonya bilang, satu-satu. Yang kanan dari bawah, yang kiri ikut napas."Laras tertawa setengah, lalu menahannya karena jempol Dimas kembali mengusap pentilnya. Tangannya mencengkeram bahu Dimas, dan kepalanya mendongak ke lampu ruang ganti.Celana Dimas sudah mengencang dari tadi, tetapi kedua tangannya tetap di dada itu.Tiba-tiba…Tok, tok.Sekat di samping tirai diketuk dari luar. Napas Laras tertahan. Kedua tangan Dimas masih menempel di dadanya.Deg!Gimana ini?Kalau Dewi tahu Dimas dan Laras sedang bermain di ruang ganti, bisa-bisa, Dewi akan menertawa

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 10 Sensasi di Fitting Room

    Laras tak berkedip menatap Dimas. “Suami Kakak kan nggak mungkin mau nganter belanja beginian. Dulu Kakak sering telepon aku tengah malam gara-gara dia nggak pulang-pulang. Hayoo, ini siapa?"Laras menjawab pendek. "Yah, suamiku masih sama aja kayak gitu. Udah 4 tahun, nggak berubah-berubah. Terus, cowok itu namanya Dimas, sopir aku sekarang."Dewi memiringkan kepala. "Kak, ini nyopirin Kakak apa ngawal Kakak? Umurku udah 28, baru kali ini lihat sopir yang lengannya segede itu."Dewi orangnya cukup centil. Dengan rambut cepol dan kacamata kuda, wajahnya mengingatkan Dimas pada artis kesayangan warga pos ronda di desa. Mirip seperti Fuua Kaede.Dan ketika bapak-bapak di pos ronda bahas itu, selalu ada sisipan kata ‘info kode nuklir’ atau ‘mana kode

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 9 Cari Bra Baru

    "Minggu lalu saya yang disuapin. Sekarang gantian, biar kita impas 1-1 ya, perihal suap-menyuap..."Setelah dua suap, Dimas menyodorkan dua butir vitamin dan gelas air putih. "Vitaminnya diminum dulu. Kata Nyonya, tadi kepalanya pusing.""Kamu cerewet banget, sih." Toh, vitamin itu Laras telan juga sampai airnya habis setengah gelas."Supnya keasinan.""Itu masakan Bi Inah. Saya cuma manasin aja. Jangan bilang saya kebelet nikah loh, bukan saya yang masak loh, Nya!" ujar Dimas seraya terkekeh.Beberapa suap kemudian, Laras menahan tangan kiri Dimas. "Dim... kamu jangan nganggap aku murahan, ya."Dimas menaruh sendok di mangkuk. Matanya dia arahkan lurus ke mata Laras. "Saya nggak

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 8 Melonku gimana rasanya?

    Terkejut, Dimas buru-buru memelankan gerakannya. "Ma-maaf. Segini?"Laras menuntun sendiri pergelangan Dimas. Sekali, dua kali, jempol itu dia putar dengan tempo yang dia mau, lalu tangannya dia lepaskan begitu Dimas sudah bisa mengikuti. "Iya... segitu. Ahh... iya, gitu terus, enak kalau pelan-pelan gini. Ahh..."Masih dengan napas tersendat, Laras menambahkan aturan. "Kalau aku diem, berarti enak. Kalau aku pegang tangan kamu, berarti pelanin, ya!""Kalau Nyonya nendang?"Seketika Laras menatap Dimas tajam. "Ya berarti kamu lancang dan ngawur, nggak mau jadi goodboy! Berondong nggak boleh banyak protes ya..."Dimas mengangguk, lalu terus memutar jempolnya mengikuti ke mana klitoris Laras bergerak. Lama-lama, desahan Laras m

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 7 Enak...

    "Ka-kaget, Nya. Terus... deg-degan. Terus, anu..." Suara Dimas habis di situ, sedangkan tangan kanannya refleks menutupi depan celana.Laras melirik ke bawah, ke tangan yang menutupi celana itu. "Terus apa? Diterusin dong ngomongnya. Aku aja udah ketahuan sampai begini, masa kamu nggak mau ngaku?""Ce-celana saya kekecilan, Nya. Udah lama nggak beli yang baru."Tawa Laras keluar sebentar, lalu dia gigit bibir bawahnya supaya berhenti. "Tadi sore pas kamu mijit kakiku, celana itu masih muat-muat aja, kok."Laras cepat-cepat membuang muka ke lampu tidur, lalu duduk lagi di tepi ranjang. Sesudah itu, suaranya dia buat setenang mungkin. "Ya udah, aku yang ngajarin, sini masuk..."Karena terpaksa, Dimas pun masuk ke kamar Laras.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status