Keesokan harinya,"Pegang tanganku, Kavyanna."Langkah Kavyanna terhenti di puncak tangga marmer. Dia menoleh, menatap Ganendra yang mengulurkan telapak tangannya dengan santai. Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas mewah, memancarkan aura dominan khas pria matang yang tenang dan tak tersentuh."Kenapa, Om?" bisik Kavyanna ragu, melirik jemari tegap itu."Sandiwara kita dimulai dari detik ini," balas Ganendra datar tanpa mengubah ekspresi dinginnya. "Satu hal lagi, panggil aku 'Mas', bukan 'Om'. Jangan sampai ada kecanggungan antara kita nanti, oke?"Kavyanna menelan ludah, menyenggol pelan lengan Ganendra untuk menutupi rasa gugupnya. "I-iya, Mas Ganendra.""Bagus," sahut Ganendra pendek. Tanpa menunggu lama, jemarinya langsung menggenggam erat telapak tangan Kavyanna, menariknya perlahan untuk melangkah bersama. "Ayo turun."Di meja makan panjang berbahan kayu jati, seluruh keluarga Wiryadiningrat sudah berkumpul. Nadir membatu di kursinya. Dadanya berdenyut hebat. Satu ta
최신 업데이트 : 2026-11-02 더 보기