Pria Sampah Tak Terduga

Pria Sampah Tak Terduga

By:  Fikul 07  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.3
Not enough ratings
155Chapters
119.0Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Juan adalah seorang pria yang di juluki sampah karna sejak pertama lahir kedunia Juan tak memiliki inti spritual,membuatnya dan sang ibu di asingkan dan di kucilkan,hingga suatu hari Juan menemukan sebuah buku kuno kosong yang membuat Juan kecewa hingga darahnya mengenai buku itu dan memunculkan sosok naga yang besar,apakah kehidupan Juan akan berubah?

View More

Latest chapter

    Interesting books of the same period

    Comments
    No Comments
    155 chapters
    01
    Happy reading Juan adalah seorang remaja yang berusia 14 tahun yang tak memiliki  inti spiritual. Ibunya bilang bahwa dia terlahir hanya sebagai manusia biasa. Berbeda dengan anak lainnya yang sudah memiliki inti spiritual sejak mereka lahir, Terkadang rasa memenuhi hatinya, namun apa daya takdir berkata lain.   Sejak kecil kerap di hina dan dilecehkan, bahkan teman-teman sebayanya menjulukinya  sampah yang tak berguna, dia juga  kerap menjadi  samsak hidup oleh anak sebaya  dengannya yang bernama Suma. Padahal Juan bukanlah satu-satunya anak di desa yang terlahir sebagai manusia biasa. Suma iri terhadap
    Read more
    02
      Pria itu terus menatap lekat padanya, membuat Juan merasa risih.   " Kenapa? tuan menatapku seperti itu? "    Pria itu diam sesaat, " ulurkan tangan mu," pinta pria itu.   Juan mengerutkan dahinya seraya bertanya curiga, menyembuyikan tangannya, " untuk apa? "    'ck' pria itu berdecak, " ulurkan saja, kamu tenang saja aku tak akan melukaimu, aku berjanji atas nama ibuku. "   " Siapa nama ibu anda? " tanya nya polos.   Pria itu menjadi kesal, mendengar pertanyaan dari Juan. " Berikan, atau aku akan menariknya secara paksa. " pria itu berkata.   Walau sedikit ragu, akhirnya Juan mengulurkan tangan nya pada pria itu dengan enggan, kesal. Pria itu menarik tangannya secara kasar, jari jemarinya yang lentik, dia letakkan di atas urat nadi tangan Juan. Matanya terpejam, mencoba mencari sesuatu pada tubuh Juan, detik ber
    Read more
    03
    " Anda yakin guru? "tanyanya.   " Tentu saja aku sangat yakin lagi pula aku merasa nyaman seperti ini dari pada harus  terjebak dalam buku itu,"ungkap Gentala.   Juan terdiam sesaat " Tapi bagaimana jika ibuku menanyakan dari mana aku mendapatkan kalung ini? "tanyanya polos, tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal, " lalu apa yang harus aku katakan padanya? " sambungnya.   Gentala yang berada didalam dimensi lain  mendengus frustasi. "Hadeuhhhh mengapa aku harus memiliki murid bodoh sepertimu? " jedanya, apa ibumu  tak pernah mengajari mu cara berbohong?! " bentaknya.    Beberapa jam sebelumnya.   " Maafkan saya yang tidak sopan ini hingga diri ini lupa untuk memperkenalkan. Nama saya adalah Juan Purwadi dan ibu saya adalah Dewi Ayu, umur saya empat belas tahun, dan saya seorang piatu, "   " Bagus, bagus sangat bagus, aku menyuka
    Read more
    04
      Juan menatap penuh  benci kearah  mereka, kedua tanganya mengepal kuat, kedua matanya melotot. " Mengapa kau begitu jahat pada kami? apa salah kami? bukankah  urusan kita sudah selesai, mengapa kamu masih melecehkan kami?  jangan kira aku tak berani hanya karena paman Ranu tak ada disini! " " Kau ...tidak sopan, apa ibumu tak mengajari sopan santun! "  Pekiknya.   Juan terkekeh " Sopan santun? " menatapnya remeh, " siapa disini yang sebenarnya yang tak memiliki sopan santun?  Aku atau kau yang sedang melecehkan seorang janda? pantas saja suamimu tak menginginkan dirimu yang memiliki tempramental yang begitu buruk. "   Gigi Bratawati bergemertak mendengar penghinaan yang di lontarkan dari mulut Juan, kedua  tangan nya mengepal kuat, lupakan tentang Ranu, hari ini dirinya akan menggali kuburan untuk mereka berdua dan mengubur keduanya sekaligus.   "Kau dasar bocah b
    Read more
    05
    " Kalian tak apa-apa? "tanya Ranu   Dewi Ayu menggelengkan kepalanya kedua tangannya  memeluk putranya erat.   Ranu kembali berbalik ke arah Bratawati.   "Bukan kah aku pernah memperingatkan mu untuk berhenti menindas Dewi Ayu dan putranya! " menatapnya dingin.   " Ta-tapi tuan. .    ' sret ' sesuatu tak kasat mata menambah luka padda wajah cantik Bratawati.   " Jika aku masih melihat kalian masih menindas mereka berdua,  ada atau tidak ada aku , akan ku musnahkan semua klan mu, KAU MENGERTI!"    Tubuh Bratawati bergetar  setelah mendengar ancaman yang keluar dari dalam mulut Ranu, dia pun bergegas pergi men
    Read more
    06
    Esokan harinya Juan pun pergi meninggalkan sang ibu walau dengan berat hati dan  enggan untuk meninggalkannya. Namun, sebagai anak yang baik, ia harus mengikuti keinginan  dari sang ibu. Sebelum melakukan perjalanan. Dewi Ayu  mengatakan kalau ia  harus melewati dua kota besar, dan satu makam keramat jika ingin pergi ke Akademi Kancah Nangkub. Berbekal tekad dan beberapa bekal makanan dari sang ibu, Juan pun melakukan perjalanannya bersama guru rahasianya. Gentala. Di sela perjalannya. Juan menggunakan waktunya untuk berlatih ilmu bela diri, dan melakukan bertapa  setiap malam untuk meningkatkan daya tubuhnya, Namun,  Ia tak menyangka kalau gurunya ternyata  sangat kejam dalam mengajarinya cara teknik bela diri. Setiap hari ia harus berlatih sepuluh jam lamanya dengan menggunakan  beberapa beban di tubuhnya, dan  setelah selesai berlatih ia harus melanjutkannya dengan bertapa
    Read more
    07
    Langkah nya terhenti, kedua bola matanya terbeliak ketika melihat murid nya. Juan yang tadinya tak sadarkan diri akibat serangan yang di terima oleh rubah itu tiba-tiba terbangun dengan kedua bola  mata yang sudah  memutih. Gentala bahkan bisa merasakan aura yang kuat dari tubuh muridnya.   Di depan matanya, Juan, muridnya mulai menyerang rubah berekor sembilan itu dengan bringas tanpa menggunakan senjata apa pun.   Gentala hanya bisa berdiam berdiri seraya menatap muridnya dengan tatapan tak percaya. Lalu tiba-tibanya  kepalanya didera rasa sakit yang luar biasa, kemudian  muncul beberapa kenangan yang melintas dalam benaknya.    Seketika tubuhnya ambruk ke atas tanah, seluruh tubuhnya gemetar, kedua bola matanya mengeluarkan air mata tanpa sebab, merasa bingung dengan apa yang baru saja ia lihat dan di rasakannya.   Meski hanya  sepintas, namun  ia bisa melihat de
    Read more
    08
    Beberapa hari setelah luka Juan dan Rengganis sembuh,mereka  bertiga memutuskan untuk kembali melanjutkan  perjalanan mereka untuk menuju kota yang akan mereka tuju yaitu kota Gedugan.   Selama masa penyembuhan, Juan dan Rengganis semakin akrab setiap harinya, namun berbeda dengan Gentala yang semakin tak akur dengan Rengganis.   Meski awalnya Juan, merasa takut. Namun seiring dengan berjalannya waktu, membuat Juan mulai menerima keberadaanya, dan menamainya dengan nama Widura, yang sesuai dengan bulunya yang seindah batu permata.    Widura yang senang telah di akui oleh tuannya membuatnya semakin manja dan menempeli kemana pun tuannya pergi, terkadang ia akan  melingkarkan tubuhnya pada leher tuannya   Rengganis yang melihat rubah itu semakin manja pada Juan, membuatnya merasa kesal, terkadang dirinya selalu berpikir untuk mengubahnya menjadi sup rubah, namun itu hanyalah angan-a
    Read more
    09
    Juan masih membawa gadis itu berlari. Namun langkahnya terhenti oleh dua pria, mereka memakai pakaian pengawal dan mereka adalah salah satu orang yang Juan tendang tadi" Mau kemana kalian?," Ucap salah satu pria.Juan meneguk salivanya, tangannya mencengkram kuat tangan gadis itu. ia berbalik namun mereka sudah memblokir jalan keluar." Tuan muda, sepertinya kamu baru menginjakkan kaki di kota ini,"" . . . "" Akan ku beri saran, kita tak saling kenal jadi aku sarankan untuk tidak ikut campur  urusan orang lain . . .  lebih baik kamu berikan gadis itu pada ku ,"Tangan gadis itu berbalik mencengkram kuat tangan Juan." Tidak akan!"" Tuan muda kamu tahu sedang berurusan dengan siapa? "" . . . ,"" Aku adalah Bismo ,putra dari seorang gubernur daerah ini "Juan menyunggingkan senyumnya" Lantas kenapa? " " Hahaha , apa kamu berani MELAWAN KU?!!"" . . . "" Ku beri kamu
    Read more
    10
    ' Hoek ' Juan memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya. Monster itu terus menyerangnya dengan membabi buta, bahkan Juan tak memiliki kesempatan untuk membalas serangannya.  Setiap kali tubuhnya terpental jauh dari arena membuat penonton heboh dan ricuh. Semua orang bahagia melihatnya yang sudah babak belur. " Bunuh ! Bunuh ! Bunuh ! " " Suasana semakin memanas saudara-saudara, apakah bocah itu bisa selamat dari sini? Atau arena ini akan menjadi kuburannya sendiri. Kita tidak tahu, takdir apa yang menunggunya di depan? Jadi jangan beranjak dari kursi anda ," seru pembawa Acara. Juan mengabaikan sorak sorai penonton, ia harus cepat  berfikir bagaimana caranya melawan kecepatan dan kekuatan monster itu. Jika dia kalah maka Widura dan Gurunya akan jatuh ke tangan Bismo, dan ia tak menginginkan hal itu terjadi. Maka semua usaha yang ia lakukan akan terbuang percuma padahal ia hanya ingin bisa
    Read more
    DMCA.com Protection Status