Catalog
57 chapters
1. Keberuntungan
“KAMU DIPECAT!”Lyn Liana kehilangan pekerjaan untuk untuk ke-10 kali. Sungguh Liana merasa tidak berguna, dipecat lagi.Untuk apa lulusan Sarjana Manajemen Bisnis? Jika setiap kali dia bekerja tidak bertahan sampai sebulan.Mendapat pekerjaan lalu,Dipecat?Ha-ha-ha. Menjadi pekerja tetap susah sekali. Liana hampir patah semangat. Mulai sekarang yang hanya dia lakukan mencari pekerjaan. Tentu saja dengan cara mengemis-ngemis pekerjaan.Liana berjalan menelusi toko jalanan sambil menatap dinding toko, siapa tau ada lowongan pekerjaan cocok untuknya.DIBUTUHKAN KASIR WANITA! Liana menggeleng mengingat saat dia kerja menjadi kasir. Sudah berapa kali aku dipecat menjadi kasir gara-gara membentak pembeli karena kesal sama mesin penghitung sering macet. Bahkan dia sempat memukul alat penghitung, saking gemasnya.Liana menendang sesuatu yang dia temui di jalan, entah itu batu kerikil atau kaleng minuman maupun botol minuman. Liana tidak peduli! Yang hanya aku inginkan adalah melampiaskan se
Read more
2. Dipindahkan
Kehidupan Liana sekarang. Sudah satu tahun bekerja di perusahaan Andromeda di departement fashion, kehidupan masih tidak berjalan mulus. Termasuk kisah cintanya dengan Revan. Liana sudah sangat lama menjalin cinta dengan Liana, lelaki yang sudah lima tahun menemani hidupnya, namun sedang dilanda masalah.Ya, tiga bulan lalu. Revan memaksa Liana bercinta. Tetapi Liana menolak keras, Revan memaksa. Itu yang membuat Liana kecewa dengan Revan, dia sekarang membenci Revan, cintanya perlahan sedikit mumudar, akan tetapi belum sepenuhnya bisa menghapus nama Revan di hati Liana."Liana...."Lamunan Liana buyar. "Ah, Ya?" Liana mencari suara yang memanggil dirinya. Hari ini sesi terakhir pemotretan, Liana menggunakan busana yang disediakan, menjadi model busana tersebut. Tidak hanya Liana saja yang menjadi model, tiga wanita yang menjadi model."Sekarang giliranmu.""A-aku?" tanya Liana kelagapan. "Oh, okay, wait!" Liana berdiri dan merapikan busana yang dia kenakan. Akibat melamun dia tidak sa
Read more
3. Terjebak
Hari pertama dipindahkan ke divisi sekretaris.Jujur, kenapa harus dipindahkan secara mendadak?Tidak mungkin dipindahkan tanpa alasan. Mungkin karena kritik dari sang fotografer? Rasanya tidak mungkin, pasalnya fotografer baru pertama kali ini mengkritik Liana. Lantas kenapa? "LIAN, BANGUN!"Sahabat Liana berteriak dari luar rumah kost Liana. Semalam Liana dan Fani berpesta di halaman rumah kost mereka sambil menikmati keindahan kota Jakarta di malam hari, melihat gedung tinggi yang satu per satu lampu meredup hingga gelap.Akibat semalam begadang, Lina belum terbangun dari mimpi. Fani berusaha keras membangunkannya, semalam Liana mengatakan padanya akan bekerja menjadi sekretaris Direktur. Jadi, Fani menyarankan agar Liana berangkat pagi. Untuk memberi kesan baik sebagai sekretaris baru, dimata boss baru dan senior sekretaris."LYN LIANA ..., BANGUN ...!"Fani mendecak kesal. Liana tidak kunjung bangun padahal Sally sudah berteriak sekencang mungkin. Andai pintu tidak dikunci, Fani
Read more
4. Ketakutan
Lelaki itu mengangkatkan kepala, melirik ke arah Liana. Ekspresi wajah menunjukkan keheranan. Liana menjadi salah tingkah ketika lelaki itu melihat ke arahnya. Astaga keberuntungan apa ini? Sudah terlambat berangkat kerja, eh berada dalam satu lift bersama pangeran .... Liana tidak tahu harus menyebut apa. Mungkin pangeran tampan.Liana merasa canggung, dia tersenyum paksa lalu mengangguk memberi hormat, bentuk kesopanan.Sungguh pria itu sangat menarik. Mengabaikan senyuman Liana, gayanya acuh, tetapi berhasil menarik perhatian dan Liana merasa terpesona. Baru pertama kali bertemu sudah terpesona? Haha. Bisa jadi, 'kan? Liana juga tidak menyangka akan terpesona kepada lelaki itu. Benar-benar tampan. Tubuhnya jangkung, tinggi dan berbadan atletis. Belum lagi bibirnya, ah ... sangat menggoda, tipis dan berwarna merah muda yang alami.Sempurna bukan?"Upss ..., idaman aku banget," batin Liana tergila-gila akan ketampanan lelaki itu. Astaga, dia berhasil menarik perhatian Liana hanya d
Read more
5. Are You Okay?
Jarak antara mereka berdua sungguh dekat sampai Liana merasakan detak jantung lelaki itu, aroma parfum maskulin menyeruak indra penciuman Liana. Harum, Liana sangat menyukai aroma ini. Semakin lama Liana semakin nyaman berada dalam pelukan.Beberapa menit kemudian, tiba-tiba lampu menyala terang. Pandangan pertama yang Liana liat, di sampingnya, ada dua mata hitam menatap penuh kekhawatiran. Mereka berdua saling menatap lekat, bertukar pandangan.Sepersekian detik, barulah sadar, dia segara melepaskan pelukan itu karena tubuh Liana yang menolak pelukan. Liana menjauh dan tangan mengelus leher yang terasa kotor."Are you okay?" tanya lelaki itu masih dengan khawatir.Liana sudah menjauhkan tubuhnya, masih dengan mengelus leher yang terasa kotor. Bukannya Liana menjawab pertanyaan itu, melainkan Liana meminta maaf, "Maaf, aku tadi panik. Sejak kecil aku tidak menyukai kegelapan seperti tadi," tutur Liana jujur.Lelaki itu mengangguk, memakluminya. "It's okay. Tidak apa-apa."Liana melih
Read more
6. DIA?!!!
Liana menaiki lift nomor sepuluh. Liana tahu, Liana merasa kalau dirinya sedang digosipkan para karyawan tadi. Namun Liana sama sekali tidak peduli dengan ocehan mereka. Pintu lift terbuka. Saat sudah masuk ke ruangan sekretaris, tanggapan dingin yang dia dapatkan. Tetapi, Liana tak patah semangat. Ya, Liana tidak ingin dihari pertama sudah patah semangat, lelucon apa itu? Harus tetap bersiap sopan kepada senior sekretaris. Lagipula, senior sekretaris tidak seharusnya bermuka masam dan bermuka sinis. “Salam kenal semua, saya Liana. Sekretaris baru di sini. Mohon bantuannya.” Liana memperkenalkan dirinya dengan nada ceria. Tidak ada yang merespon. Waduh, nasib Liana. Belum mulai bekerja sudah mendapatkan kesan buruk dari senior. Sekretaris lainnya mencoba mengacuhkan Liana. Liana tersenyum paksa. Liana tersenyum kecut. Dia berjalan dengan bingung. Liana belum tahu dimana meja kerjanya. “Permisi, saya–" Liana tidak melanjutkan ucapannya karena sekretaris itu mengganggap seolah tidak a
Read more
7. Mood Buruk
DIA?!!!!Mata Liana membelalak terkejut, menatap tidak percaya dengan apa yang dia liat sekarang. Hampir saja Liana memekik, untungnya dua telapak tangan siap membekap mulut. Liana berharap cemas, dalam hati berdoa. Somoga boss barunya tidak mengingat kejadian tiga bulan lalu. Sebentar .... Bukankah sebelum kejadian tiga bulan lalu, Liana pernah bertemu dengan Nova? Liana tidak ingat jelas, tetapi dia sangat yakin bernah bertemu dengan Nova pertama kali. Sekitar satu tahun yang lalu?Ingatan Liana melayang, ketika satu tahun lalu. Dimana waktu itu Liana sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Yaps, Liana dulu mendapatkan mengalaman pahit di dalam dunia pekerjaan, dia dipecat puluhan kali. Dan, Liana dipecat terakhir kalinya saat menjadi seorang waiters di salah satu restourant. Liana dipecat tanpa mendapatkan gaji terakhir. Sepanjang jalan, Liana membaca kertas lowongan pekerjaan yang menempel di dinding toko di tepi jalan. Sialnya, tidak ada salah satu pekerjaan yang cocok untuknya. Kes
Read more
8. Memory
Nova berpikir, sikap kemarin sudah keterlaluan, mengusir sekretaris baru dengan tidak sopan. Bukannya menyesal telah membentak, tetapi Nova tersenyum miring. Lelaki itu senang, sudah dipastikan ketika datang ke kantor—sekretaris barunya sudah tidak ada lagi dan sudah mengundurkan diri.Pagi ini Nova pergi ke kantor dengan ceria, pintu lift terbuka, saatnya masuk ke ruangan miliknya dan Nova kaget melihat Liana di sana. Ternyata pikiran Nova mengenai sekretaris barunya akan mengundurkan diri, itu salah. “Okay, tenang. Baru satu hari,” batin Nova.“Selamat pagi, Pak Nova,” sapa Liana.Nova tetap mengacuhkan. Hari kedua, Nova melihat Liana di meja kerja. Hari-hari berikutnya, Nova tidak menggublis Liana, Liana menyapa Nova dengan sopan. Nova pikir dengan mengacuhkan Liana, Liana akan menyerah untuk menjadi sekretarisnya. Karena kesal, dia menyuruh Liana masuk.“Masuk dan bawa CV kamu.”Liana sempat tidak percaya dan mungkin salah dengar. Tidak! Liana tidak salah dengar. Dia menurut dengan
Read more
9. Lelaki Brengsek
Flashback On.Liana berlari dengan bertelanjang kaki dan dress di atas lutut. Bagian dadanya sedikit robekan, sambil berlari Liana terus memegangi robekan agar tidak memperlihatkan belahan payudara. Liana berlari sekuat tenaga dan berhasil kabur dari pacarnya. Liana merasa lelah, dia menghentikan larinya untuk mengatur napas, kepalanya menoleh ke belakang.Tiba-tiba pacarnya muncul dengan cepat. Liana kembali berlari sekuat-kuatnya. Dia menyesali kenapa koridor malam ini sepi, Liana sudah berteriak namun tidak ada seorangpun yang merespon. Akhirnya Liana berlari ke pintu apartement dengan cepat dan hati-hati. Di halaman apartemen, Liana melihat sinar lampu mulai mendekat, pastinya dia akan selamat. TINNNNN !!!Pengemudi mobil menekan klakson panjang. Seorang wanita melintas di depannya begitu saja membuat pengemudi mengerem mobilnya secara mendadak hingga menimbulkan bunyi decitan memekik telinga. Liana sudah merentangkan kedua tangannya seolah ingin bunuh diri. “STOP! STOP!” jerit L
Read more
10. Penagih Hutang
Liana masih tidak percaya yang telah terjadi, kenyataan bahwa Nova adalah boss baru dan sebelumnya pernah bertemu. Tiga bulan yang lalu? Satu tahun lalu? Apa mungkin Liana akan bernostalgia? Kenangan cukup melekat di memory otaknya, yaitu insiden pertama kali dan kedua kali. Seakan takdir mempertemukan mereka berdua dengan tidak terduga.Begitu juga dengan Nova, lelaki itu tidak habis pikir akan bertemu lagi dengan wanita yang pernah mengatakan dirinya brengsek, hanya karena Nova mengusir dan menyuruh Liana turun dari mobil. Di insiden itulah Liana memberi salam untuk Nova.Setelah pulang bekerja, sore menjelang malam. Liana melepaskan kekesalan kepada sahabatnya, bernama Selly. Ini adalah hari pertama resmi menjadi sekretaris Direktur Nova dan hari pertama Liana bekerja sebagai tangan kanan Boss. Liana merasa lelah dan letih. Otaknya terasa sudah mengepulkan asap panas. Selly, sahabat Liana mulai menghibur, hiburan itu bermaksud sekedar melepaskan penat.Huh. Liana menghela napas kasa
Read more
DMCA.com Protection Status