Catalog
24 chapters
Prolog
Ratih tidak menyangka jika hidupnya akan semakin sulit selepas melalui pertengkaran dengan Suga. Tak pernah terbayangkan ia akan menjadi sekretaris dari pria itu, bahkan bukan hanya di kantor saja, melainkan pribadi termasuk mengurus segala keperluan Suga. Bagi Ratih, seorang sekretaris tidak lebih dari seorang pembantu, hanya saja memiliki sebutan dan jaminan yang lebih tinggi. Dengan pemikiran itu, tentu saja ia menganggap jika saat ini jabatannya telah diturunkan.Kini, Ratih hanya bisa mematung di hadapan Suga. Kendati begitu, matanya tak lepas menatap tajam ke arah pria itu. Ingin sekali, Ratih menghantam wajah Suga pada tembok pembatas antar ruangan, atau setidaknya menguliti atasannya tersebut. Bagaimana tidak, jika saat ini ia justru dipermainkan tanpa adanya kesempatan melawan.Suga menghela napas sembari bergerak dengan malas. Tak berselang lama, ia melepas kacamatanya.Tentu saja mata elangnya terlihat dengan jelas.“Kenapa?” tanya Suga den
Read more
Episode 1-Rahasia Sugantara
Namanya Suga, lengkapnya Sugantara Lesmana Dewa. Pria 32 tahun yang memiliki tubuh tinggi sekaligus kekar, dibarengi dengan otaknya yang cemerlang. Namun ... terlepas dari beberapa segi sempurnanya itu, Suga bukanlah tipikal pria idaman. Dengan kacamata tebal ia dikenal CEO culun oleh banyak orang. Pria yang merupakan pewaris utama perusahaan milik ayah angkatnya—Daichi Lesmana—itu, sering menjadi bahan gunjingan para karyawannya. Tidak hanya satu atau dua orang, melainkan ribuan! Itulah sosok Suga yang dikenal secara umum. Di balik itu semua, ada sebuah rahasia besar. Tak akan ada yang menyangka jika dirinya merupakan ... ketua mafia! Ia memimpin sebuah perkumpulan gelap yang sering memperjualbelikan barang-barang atau data secara ilegal. Tidak ada yang tahu! Karena itu memang rahasia, kecuali beberapa orang kepercayaannya. Hidup Suga selalu diselimuti kekerasan, ia tidak pernah gentar ketika melihat darah. Bah
Read more
Episode 2-Ketahuan
Kekesalan hati Suga yang sudah ada, kini dibuat semakin membuncah saja. Kehadiran Ratih secara tiba-tiba membuatnya tidak menyangka. Karena mendapati keterkesiapan wanita yang tidak ia ketahui namanya itu, Suga segera menyambar kacamatanya dari atas meja. Lalu, ia menata rambutnya ke depan dan kembali culun seperti yang orang tahu! Suga berjalan tegas menghampiri Ratih yang masih mematung. Ia masih berdecak beberapa kali, bahkan mengumpat. Pria itu benar-benar tidak habis pikir atas ketidaksopanan sang wanita. “Apakah kamu tidak memiliki sopan santun? Masuk ruangan orang tanpa permisi?” tanya Suga setelah sampai di hadapan Ratih. Ratih mundur satu langkah. Ia menelan saliva dengan susah payah. Kendati tertutup kacamata tebal, nyatanya wajah Suga masih terlihat sangat seram, ditambah dinginnya sikap atasannya tersebut. Ratih menghela napas beberapa kali untuk meluruhkan ketegangan tub
Read more
Episode 3-Perasaan Tak Sampai
Ketika hendak melakukan absen pulang menggunakan id-cardnya, gerakan Ratih menjadi terhenti karena segerombolan orang yang menabrak dirinya. Awalnya ia ingin marah dan meneriaki mereka, tetapi sosok Suga justru ada di antara gerombolan itu. Tak ada yang bisa Ratih lakukan kecuali mendengkus diam-diam. Bukan tidak berani, tetapi tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. “Ck, sialaaan ...!” ucap Ratih dengan geram. Tiba-tiba Suga menghentikan langkahnya, sementara enam orang yang mengawal dirinya tetap melanjutkan langkah. Enam orang tersebut merupakan beberapa dewan petinggi sekaligus pemegang saham lain di bawah naungan perusahaan Daichi Lesmana. “A-apaan dia?” gumam Ratih dengan heran, sedang matanya tengah mengamati punggung Suga. Beberapa detik kemudian, Suga menengok ke kanan maupun ke kiri dengan gaya elegan. Setelah memastikan se
Read more
Episode 4-Aturan Daichi Lesmana
Ratih melambaikan tangannya pada Gatra, sesaat setelah turun dari mobil pria itu. Tak berselang lama, ia bergegas memasuki pekarangan rumah sederhananya. Sementara Gatra, ia menuju rumahnya sendiri yang berlantai dua di samping rumah Ratih. Setiap kali berhasil menjemput Ratih, perasaan Gatra seketika menghangat. Meski ia tahu jika sampai saat ini, perasaannya tak tersampaikan dengan baik. Namun dengan begitu, tentu tidak ada kecanggung ketika sedang bersama Ratih. Hubungan baik itupun akan terjalin dalam kurun waktu yang lama, tanpa mengkhawatirkan perihal perpisahan karena cinta. Baru saja turun dari mobilnya, Gatra sudah dihadang oleh ibu tercinta. Hesvi namanya. Wanita paruh baya itu tengah berkacak pinggang dengan raut yang penuh kemarahan. “Gatra! Mama 'kan udah bilang, jangan deket-deket sama Ratih. Kamu ngeyel banget, sih!” omel Hesvi pada putra pertamanya tersebut.Read more
Episode 5-Derita
Ratih terpekik ketika kepalanya baru saja dilempar sebuah gelas plastik oleh bibinya. Ia mengusap bekas lemparan itu sembari mengumpat pelan. Kekesalan membuncah di hatinya, menambahi warna kelelahan. Semestinya, ia sudah terbaring dengan nyaman tanpa harus menghadapi wanita paruh baya yang ketus itu. “Kamu mengumpat lagi sama bibimu sendiri, hah?!” Suara sang bibi begitu lantang penuh amarah. Ia sudah benar-benar tidak habis pikir atas sikap Ratih yang kurang ajar. “Ingat, Ratih, dari kecil siapa yang ngurus kamu!” “Aaaaa! Stop bahas hal yang sama, Bi Kani!” balas Ratih dengan sengit. Kani tersentak. Ia memasang wajah memelas seketika. “Nasibku kenapa begini? Ngurus anak adikku yang durhaka ketika sudah besar.” Ia berucap sembari mengelus dadanya. “Sudah deh, Bibi enggak usah sok menderita lagi. Harusnya Bibi tuh
Read more
Episode 6-Percobaan Penculikan
Hujan deras turun ketika malam telah larut. Dingin menerpa tubuh Ratih yang saat ini meringkuk di atas kasurnya. Tak ada penghangat selain selimut tebal yang ia beli sejak satu tahun yang lalu. Tak ada teman pengisi sepi kecuali bisingnya suara hujan itu. Dalam kesendirian itu, Ratih tengah merindu. Bukan pada seorang kekasih, melainkan kedua orang tuanya. Pengandaian pun ia lakukan di dalam otaknya, andai ayah dan ibunya masih ada. Ah, tentu saja hidupnya tak sesepi sekaligus semiris sekarang ini. Ia tidak perlu bersikeras menyempurnakan diri hanya untuk melindungi diri sendiri. “Ayah, Ibu, Ratih kangen,” gumam wanita itu sembari meneteskan air mata. Terkadang nasib seseorang memang tidak seberuntung orang lain. Pun pada Ratih yang selalu menanggung nestapa hidup sendirian. Masih hangat dalam ingatan ketika ia mendapat cerca karena tidak punya orang tua. Cemoohan anak-anak sebaya ta
Read more
Episode 7-Tak Menyangka
Baru memasuki pintu utama perusahaannya sendiri, Suga sudah dikejutkan dengan sesuatu yang seharusnya menjadi kemustahilan. Sosok cantik tengah berjalan begitu tegas sesaat setelah melakukan scan absen. Bagaimana bisa wanita itu masuk hari ini? Pertanyaan itu terlintas di benak Suga bersama pemberhentian laju kakinya. “Apa rencana itu nggak berhasil?” gumam Suga sembari memicingkan mata memastikan kembali jika wanita itu adalah Ratih Kembang. Namun sama seperti penglihatan Suga, ia memang Ratih! Suga segera menepis keterpanaan itu dan kembali melaju kakinya. Seiring langkah yang ia ambil, pikirannya dibuat kacau atas keberadaan Ratih di perusahaannya. Tampaknya dugaan yang ia berikan memang benar, bahwasanya kedua bawahannya tidak berhasil membawa Ratih. Suga mengira jika ada orang yang menyelamatkan wanita itu ketika misi sedang dijalankan. Hanya saja te
Read more
Episode 8-Jadi Sekretaris?
Ratih tidak menyangka jika hidupnya akan semakin sulit selepas melalui pertengkaran dengan Suga. Tak pernah terbayangkan ia akan menjadi sekretaris dari pria itu, bahkan bukan hanya di kantor saja, melainkan pribadi termasuk mengurus segala keperluan Suga. Bagi Ratih, seorang sekretaris tidak lebih dari seorang pembantu, hanya saja memiliki sebutan dan jaminan yang lebih tinggi. Dengan pemikiran itu, tentu saja ia menganggap jika saat ini jabatannya telah diturunkan. Kini, Ratih hanya bisa mematung di hadapan Suga. Kendati begitu, matanya tak lepas menatap tajam ke arah pria itu. Ingin sekali, Ratih menghantam wajah Suga pada tembok pembatas antar ruangan, atau setidaknya menguliti atasannya tersebut. Bagaimana tidak, jika saat ini ia justru dipermainkan tanpa adanya kesempatan melawan. Suga menghela napas sembari bergerak dengan malas. Tak berselang lama, ia melepas kacamatanya.Tentu saja mata elangnya terlihat dengan jela
Read more
Episode 9-Hari Pertama
Ratih hanya bisa menghela napas. Bagaimana tidak, baru pukul enam pagi ia justru harus hadir di sebuah apartemen elit. Selain enggan bertemu Suga, ia tidak bisa bangun siang. Rasanya sungguh memuakkan, tetapi Ratih tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu selalu mengancamnya dengan dua milyar sebagai ganti rugi atas penalti itu sendiri. Lalu-lalang beberapa orang yang tidak dikenal oleh Ratih menghiasi suasana pagi ini. Mereka merupakan pemilik bahkan penghuni unit-unit dari gedung apartemen itu. Tentu saja, mereka orang-orang kaya yang memiliki banyak harta. Oleh sebab itu, Ratih menjadi ciut hati. Ia merasa seperti pasir di antara berlian yang bersinar. Kebiasaannya yang sering mengumpat masih saja dilakukan, meski Ratih hanya sebatas menggumamkan. “Aku ... sangat benci padanya. Demi Tuhan! Oh, Si Culun Sugantara,” ucapnya. “Hei!” Tiba-tiba suara berat dan dingin berseru di
Read more
DMCA.com Protection Status