Sang Panglima Perang

Sang Panglima Perang

Oleh:  Cristi Rottie  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
8.7
Belum ada penilaian
211Bab
203.6KDibaca
Baca
Tambahkan
Report
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Zhang Yuan, anak kedua dari jenderal besar kerajaan Song terkenal dengan pemuda tampan yang suka berhura-hura di rumah bordil dan berganti-ganti wanita cantik. Kehidupannya yang bebas dan santai akhirnya berubah saat kematian kakaknya di medan perang dan kabar tentang titah eksekusi seluruh keluarga yang dikeluarkan oleh kaisar baru atas pengkhianatan yang dilakukan ayahnya. Dalam kejatuhan itu, Zhang Yuan mendapatkan keringanan dari kaisar mengingat konstribusi yang telah diberikan ayahnya terhadap kerajaan Song dengan membuangnya di tempat perbudakan dan menjadi seperti rakyat musuh yang diperkerjakan di pertambangan logam. Kehidupan keras yang dialami Zhang Yuan membuatnya tersiksa hingga akhirnya tak mampu bertahan di tempat perbudakan. Namun takdir berkata lain. Zhang Yuan yang sekarat dan hampir mati malah ditolong oleh seorang lelaki tua yang mengasingkan diri di pegunungan. Mendapatkan kesempatan untuk hidup setelah sekarat membuatnya memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan dan membersihkan nama baik keluarga, serta menjadi jenderal perang sesuai dengan harapan terakhir ayahnya.

Lihat lebih banyak

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

Komen
Tidak ada komentar
211 chapters
Kematian jenderal muda
    “Tidak! Ini tidak mungkin!”     Siang hari itu utusan istana datang membawa pesan dari medan peperangan. Surat yang baru saja dilihat oleh lelaki bertubuh besar dan berwajah tegas membuat mata yang tajam itu berkaca-kaca. Tubuhnya menjadi lemas dan tersungkur pasrah di atas kursi.     “Ada apa, suamiku? Apa yang terjadi pada Zhang Fei?” Melihat ekspresi dari suaminya, Wu Huan yang adalah nyonya besar kediaman Jenderal Zhang Jin merasa khawatir dengan anaknya yang ada di medan pertempuran.     “Istriku ... Zhang Fei, telah gugur di medan tempur.”     Wu Huan yang tak bisa menahan kesedihannya malah jatuh pingsan saat mendengar anak sulung mereka meninggal di medan perang. Sedangkan Zhang Jin hanya menahan tangisnya di dalam hati, karena sejak awal dia telah tahu risiko menjadi seorang jenderal muda ada di antara ketenaran dan kematian.     “Pelayan! Cepat p
Baca selengkapnya
Kereta penjemputan
    Zhang Yuan, anak kedua dari jenderal Zhang Jin sudah terkenal dengan kehidupan bebas dan santai. Dia bahkan tak peduli jika setiap hari harus berdebat dengan ayahnya karena hanya mabuk-mabukan. Keberanian ini dia dapatkan dari Wu Huan yang selalu menuruti keinginan dan membela setiap tindakkan salah yang dilakukan oleh Zhang Yuan.     “Apa maksud Ayah?” Zhang Yuan menoleh lagi ke samping di mana papan roh yang bertuliskan nama jenderal muda Zhang Fei membuat matanya berkaca-kaca.     Tamparan dari Zhang Jin sepertinya telah menyadarkan dia dari pengaruh alkohol. Sosok kakak yang selalu pulang dengan kemenangan peperangan kali ini hanya membawa tubuh tanpa jiwa.    Zhang Yuan berjalan kaku. Dia tersungkur di samping Wu Huan yang sedang terisak menahan tangis.      “Ibu ... apa dia benar kakakku?” Zhang Yuan menoleh ke samping dan menoleh lagi melihat kediamannya yang dipenuhi dengan suasana duk
Baca selengkapnya
Paksaan ke barak militer
    “Ke barak militerku!”     Zhang Yuan terperangah mendengar perkataan ayahnya. Hal yang paling dia tidak mau adalah pergi ke tempat membosankan yang hanya dihuni oleh semua pria dan tidak ada arak.     “Tidak mau!” bantah Zhang Yuan membalikkan badannya.     “Suamiku, tidak boleh!” sambung Wu Huan memegang lengan Zhang Jin dengan wajah memelas.     “Keputusanku sudah bulat. Meski kau memohon tak ada gunanya.” Zhang Jin menatap lurus ke depan dengan wajah dingin. Keputusannya kali ini agar Zhang Yuan bisa mengubah seluruh perilakunya yang buruk.     “Zhang Jin! Aku sudah kehilangan satu anakku, apa kau mau aku kehilangan anakku yang terakhir?” Wu Huan membentak dengan tangisannya yang mengingat bagaimana Zhang Fei meninggal di medan perang.     “Zhang Jin, aku mohon. Jangan memaksa Zhang Yuan, dia tidak terbiasa dengan kehidupan yang keras seperti itu.” 
Baca selengkapnya
Kerasnya kehidupan militer
    “Aku setuju!” teriaknya sekeras mungkin untuk membuang rasa terpaksa.    Tangan Zhang Yuan segera dilepaskan begitu dia telah setuju untuk ikut dengan ayahnya. Dengan wajah yang babak belur dia berjalan mengikuti Zhang Jin dan masuk ke dalam kereta.    Di dalam kereta wajah bersalah Zhang Jin terlihat jelas saat memperhatikan Zhang Yuan yang mengelus-ngelus lebam di wajahnya.   “A-apa itu sakit?” tanya Zhang Jin kaku.   Zhang Yuan menatapnya kesal dan membuang pandangan tak ingin melihat sosok kasar dan jahat terhadap anak sendiri. “Tidak perlu bertanya, Ayah cukup melihatnya saja sudah tahu, bukan?”      Zhang Jin menarik napas agar tenang. Mungkin saat ini tidak baik untuk bercerita dengan Zhang Yuan yang masih kesal dengan perlakuannya tadi.    “Tak peduli bagaimana kau menilaiku aku tetap akan terima, karena semua yang aku l
Baca selengkapnya
Hukuman Militer yang keras
    Zhang Yuan tersentak, dia hanya memandang Jing Lei dengan santai sambil menunjukkan telunjuk ke arahnya sendiri, “aku?”    “Zhang Yuan! Keluar dari barisanmu!” Dengan wajah tak bersalah Zhang Yuan keluar dari barisan itu dan berjalan meninggalkan lapangan.    “Berhenti!” Zhang Yuan berbalik dan menatapnya kesal. “Bersihkan kamar mandi dan penuhi bak air! Itu hukumanmu,” lanjut Jing Lei dengan wajah tegas.    Zhang Yuan hanya mengangguk, menyetujui lalu meninggalkan Jing Lei dengan napas kesalnya mengatasi anak jenderal besar mereka.    Selama pelatihan di luar, Zhang Yuan hanya tertidur. Dia bangun kembali saat hari mulai sore dan pergi ke sudut perbatasan kamp. Di sana dia menemui pelayan pribadinya yang datang membawa uang dan sesuatu di dalam kereta. Sebelumnya dia juga sudah memerintahkan pelayan itu untuk melaksanakan hukuman yang seharusnya dia lakukan.    “Apa yang kau bawa? Kenapa kemari meng
Baca selengkapnya
Titah eksekusi atas pengkhianatan
    “Baik! Jika aku berhasil melewati hukuman ini, maka tidak ada alasan lagi untuk menahanku di sini. Jangankan tiga hari, bahkan empat hari bisa aku lakukan jika kau berani menepati janjimu!" tantang Zhang Yuan dengan lantang.    Dari jauh, Zhang Jin tertawa keras mendengar keberanian anaknya menantang di luar batasannya sendiri. Dia tahu kalau tubuh yang tak terlatih dari Zhang Yuan pasti hanya akan tahan sampai besok hari.    “Janji seorang lelaki adalah mutlak! Berhati-hatilah saat membuat janji, Zhang Yuan. Jangan sampai kau harus menjilati ludah yang sudah kau buang!”    “Langit menjadi saksi! Aku akan melewati empat hari di sini!”    Untuk melepaskan rasa kesalnya terhadap sang ayah, Zhang Yuan telah bertekad agar bisa melewati hukuman yang baru saja dijatuhi oleh ayahnya sendiri. Dia ingin terbebas dari penjara neraka yang mengurungnya.    Dua hari telah berlalu. Apa yang mustahil bagi pandangan
Baca selengkapnya
Malam terakhir
    Titah yang baru saja didengarkan membuat semua jantung terpukul. Semua pelayan yang ada di dalam kediaman saling melemparkan pandangan seakan tak percaya jika jenderal besar mereka  melakukan pengkhianatan.    Berbeda dengan Zhang Jin, dia sama sekali tidak berekspresi dengan hukuman eksekusi tersebut. Sorot mata kosong itu hanya memaku ke depan tanpa berkedip.    “Jenderal Zhang Jin, apa kau tidak mau menerima titah kaisar?”    Pandangan mata Zhang Jin kini menengadah ke atas melihat tajam ke arah kasim yang tersenyum samping memandangnya. Dia mengangkat tangannya sambil mengeraskan rahang untuk menahan semua kegeraman yang tak sanggup untuk dia lampiaskan.    “Ayah! Tidak! Jangan menerimanya!” Zhang Yuan yang sejak tadi tak percaya jika hari-hari bahagianya akan berakhir memberanikan dirinya untuk menyela utusan kaisar.    “Ayahku adalah jenderal besar k
Baca selengkapnya
Panggung Eksekusi
    Pedang terlempar ke tanah begitu saja karena sambaran satu batu kerikil kecil yang kuat dari arah lain. Mata Zhang Yuang terbuka menyadari dirinya masih hidup.    Di depan gerbang, Zhang Jin berdiri dengan wibawanya sebagai jenderal besar. Semua prajurit pengawas yang tadinya begitu angkuh menertawakan Zhang Yuan kini terdiam dengan wajah gugup.    “Je-jenderal, kami hanya menerima perintah dari kaisar untuk membunuh setiap orang yang mencoba untuk keluar dari kediamanmu.”    “Titah kaisar ada di tanganku, apa ucapanmu lebih penting dari titah yang tertulis? ... lagi pula aku melihatmu sendiri menyeretnya keluar,” ucap Zhang Jin membuat prajurit menundukkan wajah mereka, menahan kesal yang bercampur takut.    “Bahkan sampai sekarang aku masih jenderal besar kerajaan Song. Aku bisa mengambil kepala kalian jika tidak melepaskannya sekarang juga!&r
Baca selengkapnya
Nyawa yang Diampuni
    “Tunggu!” teriak Zhang Jin menghentikan ayunan pedang yang hampir memisahkan bagian tubuh istrinya.    Atas perintah dari sang kaisar dengan tangan yang terangkat, eksekusi itu dijeda. Kedua orang yang berdiri di sampingnya terlihat begitu tak senang dengan penjedaan itu.    “Saya mohon kaisar memberikan kemurahan hati terhadap keturunanku yang terakhir, mengingat akan kontribusiku terhadap kerajaan dan janji lisan yang diberikan kaisar sebelumnya untuk memberikan pengampunan terhadap keturunan terkahirku jika di masa depan didapati ada kesalahan yang aku lakukan,” jelas Zhang Jin membuat semua yang mendengar berbisik-bisik menganggukkan kepala.    Memang sebelumnya, Zhang Jin adalah jenderal yang membantu kaisar terdahulu naik takhta. Oleh sebab itu kaisar mengucapkan janjinya di hadapan semua mentri dan bahkan hal ini telah diketahui oleh seluruh kerajaa
Baca selengkapnya
Perjalanan ke Kanguan
    Di dalam kegelapan, aura dingin dan bau busuk, Zhang Yuan meringkuk beralaskan jerami yang tak tahu sudah berapa banyak ditempati oleh para tahanan. Kehidupannya benar-benar telah hancur. Hari-hari bahagia dan bebasnya telah berakhir. Keluarga, kekayaan, dan ketenarannya di kalangan para wanita menghilang dalam sekejab.    Dalam lamunan pikirannya tentang ucapan sang ayah dan kasih sayang sang ibu, dia terlelap. Batinnya begitu letih untuk memikirkan semua kenyataan menyedihkan yang datang secara tiba-tiba itu....    “Ah Ibu, berhentilah menggangguku. Aku sangat mengantuk,” gumam Zhang Yuan yang merasakan seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Namun suara tawa dari beberapa lelaki menyadarkannya kalau kebiasaan itu telah berakhir.    Zhang Yuan membuka matanya yang masih terasa berat dan memfokuskan penglihatannya ke depan. Mata sembab itu terlihat sangat men
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status