Ini daftar tokoh yang selalu bikin aku kagum karena serba bisa dan sering dijadiin contoh "jack of all trades" — orang yang bisa banyak hal, sering lintas disiplin, dan kadang juga punya kedalaman di beberapa bidang.
Kalau mau mulai dari sejarah, nama yang paling klop buat deskripsi ini adalah Leonardo da Vinci. Dia melukis, merancang mesin, mengamati anatomi, sampai menulis catatan ilmiah yang mengagumkan; jelas contoh klasik "Renaissance man". Benjamin Franklin juga cocok: penerbit, penemu, ilmuwan, diplomat, bahkan politikus. Thomas Jefferson bukan cuma presiden, dia juga arsitek amatir, petani eksperimen, dan penulis ide-ide politik. Mereka menunjukkan sisi positif jadi serba bisa—bisa menghubungkan bidang-bidang berbeda dan menciptakan hal baru dari persimpangan itu.
Di era modern, aku suka pakai contoh yang lebih pop-culture karena terasa lebih relate. Donald Glover (alias Childish Gambino) adalah paket lengkap: penulis skenario, aktor, komedian, sutradara, dan musisi yang sukses. David Bowie juga menarik—dia bukan cuma penyanyi, tapi aktor, produser, dan ikon visual yang terus berevolusi. Elon Musk sering disebut modern polymath bisnis/teknik karena terlibat di banyak proyek teknis dan bisnis seperti roket, mobil listrik, dan energi. Oprah Winfrey juga masuk kategori ini: pembawa acara, produser, aktris, dan filantropis—bisa bergerak di berbagai ranah dengan pengaruh besar.
Kalau mau
contoh fiksi yang sering dipakai buat gambarin tipe ini, ada Tony Stark alias 'Iron Man' — ilmuwan, insinyur, pengusaha, dan bilioner yang jago publik speaking juga. Batman alias 'Bruce Wayne' juga asyik sebagai contoh: detektif, pebisnis, ahli teknologi, dan taktik tempur sekaligus. Di ranah sci-fi/TV, tokoh dari 'Doctor Who' sering tampil sebagai individu yang harus menguasai banyak disiplin—bahasa, ilmu pengetahuan, sejarah, diplomasi—sesuai kebutuhan situasi.
Di komunitas aku, sering ada diskusi soal pro dan kontra jadi jack of all trades. Kelebihannya jelas: fleksibilitas, kemampuan menggabungkan ide lintas bidang, dan seringnya menemukan solusi kreatif. Kekurangannya bisa berupa risiko nggak mendalami satu bidang sampai tingkat ahli, atau kesan "cukup bisa banyak, tapi nggak jago satu"—itu stigma yang harus dilawan dengan bukti hasil kerja. Aku suka jadi orang yang menerapkan pendekatan serba bisa dalam proyek kreatif: kadang perlu ilham visual, storytelling, dan sedikit coding buat mewujudkan ide—dan melihat semuanya nyatu itu bikin puas.