LOGIN"Aku seharusnya hanya figuran. Hanya nama yang lewat dan dilupakan pembaca. Tapi bagaimana mungkin aku tinggal diam… saat lelaki kedua yang selalu kucintai bahkan tidak diberi hak untuk bahagia?" Laurenta Wallace terbangun di dunia novel favoritnya dan menjadi Lady Elaria Thorne—putri bangsawan kaya pemilik anggur kebanggaan Nightborne. Di dunia ini, cinta pertamanya, Duke Kaelion Vaelhardt, ditakdirkan menjadi pemeran kedua yang patah hati. Diabaikan. Dicampakkan. Dan selamanya tidak mendapatkan akhir bahagia. Tidak jika ia bisa mencegahnya. Dengan tekad mengubah alur yang sudah ditulis, Elaria mengejar cintanya sekalipun harus menantang takdir dan melawan tokoh utama sendiri. Walaupun takdir berusaha menghapus keberadaannya… Namun, kisah ini bukanlah kisah mereka yang sempurna sejak awal… Ini adalah kisah Duke Kaelion dan Elaria si figuran tanpa suara, yang memilih untuk menuntut akhir bahagianya.
View MoreSiang itu di penjara Albis—tempat para narapidana kelas kakap dan penjahat berbahaya ditempatkan, seorang pria berada di Ruang Pembebasan setelah selesai melakukan pemeriksaan medis di Ruang Kesehatan.
“Apakah ini sudah semuanya?” Suara bariton keluar dari narapidana yang hari itu dibebaskan, lebih cepat dari tuntutan 5 tahun yang seharusnya, dikarenakan berkelakuan baik dan mendapatkan remisi.
Dia merupakan sosok pria setinggi 187 cm yang bertubuh atletis meski tidak memiliki massa otot berlebihan. Wajahnya memiliki gurat ketampanan maskulin dengan kulit warna cokelat terang. Rambut lurus sepanjang tengkuknya tertata asal-asalan. Mata tajamnya selaras dengan aura wibawa dan juga berbahaya yang menguar darinya.
“Sudah, Jay.” Sipir penjara menjawab.
Kemudian, Jay melangkah keluar setelah berganti pakaian ke baju kasual dan pergi dengan perahu motor yang akan membawanya keluar pulau.
Penjara Albis terletak di Pulau Kaswatu, pulau khusus di Negara Astronesia untuk bangunan penjara terbesar dan paling ditakuti banyak narapidana. Selain sebagai sarang penjahat besar dan berbahaya, juga sipirnya dikenal yang paling kejam.
Perahu motor melaju ke destinasi yang diinginkan hingga akhirnya bertemu dengan perahu motor lebih besar yang sudah menunggu di tengah selat. Dengan kedua tangan ada di belakang punggung, dia melompat menggunakan ilmu kanuragannya. Jay berpindah ke perahu motor besar tersebut tanpa banyak upaya. Gerakannya elegan namun gagah.
“Selamat atas pembebasannya, Bos Jek Jon!” seru salah satu orang di perahu motor besar itu sambil membungkuk, diikuti belasan anak buah lainnya.
Jay mengangguk santai dan masuk ke ruang duduk. Segera saja perahu itu melaju ke Pulau Cendana, pulau terbesar di Astronesia.
Dia adalah orang yang dipanggil Bos Jek Jon, sosok yang ditakuti sekaligus disegani banyak kaum old money dan petinggi di Astronesia. Nama aslinya Jay Mahawira. Saat ini usianya 32 tahun.
“Bos, kami sudah menyiapkan pakaian yang lebih patut untuk Anda!” Si anak buah maju sambil menyodorkan baki dengan setelan jas mahal di atasnya.
Sedangkan anak buah lainnya menyodorkan baki berisi sepatu mahal yang sudah disemir sampai mengkilat hingga Jay bisa melihat pantulan wajahnya di sana.
“Tak perlu. Pakaian ini saja sudah cukup.” Jay menaikkan tangan, memberi gestur penolakan.
Kemudian pemuda yang sepertinya paling berkuasa atas mereka, menyodorkan sekotak cerutu. Kali ini Jay tidak menolak dan mengambil 1 batang. Tak berapa lama, asap cerutu sudah dihembuskan dari mulutnya sambil dia duduk santai tanpa menghilangkan sikap jumawanya.
“Kita ke markas dulu?” tanya Jay pada salah satu orang kepercayaannya.
“Benar, Bos!” Pemuda itu menjawab sambil mengangguk hormat. Sangat kentara rasa hormatnya pada Jay.
Maka, usai perahu mendarat di dermaga, Jay bersama semua anak buahnya berjalan ke mobil mahal yang sudah menanti. Tak lama, mobil yang membawa Jay sudah melaju di jalanan Kota Jatayu.
Kota Jatayu merupakan kota metropolitan dan ibu kota Astronesia. Markas yang disebut Jay berada di sana, di tempat yang tak mudah dijangkau.
Mobil pun tiba di kawasan perbukitan dekat kota. Di sana merupakan daerah tersembunyi yang cukup jauh dari pusat kota. Lahan seluas 3 hektar berdiri kokoh bagaikan benteng modern. Tak sembarangan orang bisa melintas begitu saja di dekatnya karena itu merupakan properti pribadi atas nama Jay.
“Silakan, Bos!” Si pemuda membukakan pintu.
Jay keluar dan semua anak buah yang berjumlah lima ratusan sudah berbaris rapi membentuk lorong panjang dari gerbang depan hingga pintu depan bangunan utama, sebuah mansion megah.
Menggunakan golf car, Jay melaju pelan menuju rumahnya. Di kanan dan kirinya, semua anak buah berpakaian setelan jas hitam membungkuk untuknya.
Setelah Jay masuk ke bangunan utama, ada anak buah yang baru bergabung beberapa bulan ini melongok meski sosok Jay yang sudah menghilang.
“Jadi itu Bos Jek Jon?” tanya si anak baru. “Rupanya dia yang disebut Raja Bengis Jek Jon. Auranya luar biasa!”
Wajahnya menyiratkan kekaguman pada Jay.
Plak! Seniornya menampar belakang kepalanya sampai dia meringis.
“Jangan sembarangan menoleh ke Bos! Kalau dia lagi nggak senang hati, bisa-bisa kepalamu langsung menggelinding, lepas dari badanmu!” Rekannya menakuti.
Si anak baru tidak menyembunyikan rasa takut mendengar ancaman itu.
“Nggak berani! Aku akan bersikap sangat hormat kalau ada di dekatnya!” janji si anak baru sambil menggerak-gerakkan kedua tangan sebagai gestur penyangkalan.
Rekannya yang lebih senior tersenyum sombong karena berhasil menakuti si anak baru.
“Kakak, benarkah Bos Jek Jon bisa menguasai berbagai ilmu bela diri?” tanya si anak baru.
“Tentu saja!” jawab seniornya. “Selain bela diri, Bos juga hebat dalam ilmu kanuragan. Jangan salah, dia juga piawai di ilmu medis tradisional. Dan apa kau tau yang paling hebat sekaligus mengerikan dari Bos?”
Si anak baru hanya melongo sembari menggelengkan kepala. Hal hebat apalagi yang melebihi ketiga hal yang telah disebutkan tadi?
“Bos sangat hebat dalam ilmu kamuflase!” Seniornya memberikan suara bombastis untuk menekankan apa yang sedang dia bicarakan.
Kekaguman semakin kentara di wajah si anak baru. Rasanya dia semakin bangga bisa bergabung ke organisasi PhantomClaw yang dipimpin oleh Jay. Tak mudah menjadi anggota organisasi tersebut.
“Sebenarnya Bos Jek Jon dulunya anak buah seperti kita ini,” sahut senior lainnya. “Karena kemampuan hebat dia disukai pemimpin terdahulu semenjak mereka bertemu di penjara, makanya dia diangkat jadi Bos yang sekarang setelah Bos terdahulu tewas dibunuh rivalnya.”
“Ah, aku masih merinding jika ingat itu.” Anak buah lainnya mendekat setelah mereka bisa bersantai. “Aku melihat sendiri bagaimana Bos Jek Jon mengamuk dan menewaskan puluhan anggota Dark Viper seorang diri. Dia dengan keji mencincang hidup-hidup tubuh pemimpinnya sebagai balas dendam untuk Bos terdahulu!”
“Bocah, kau harus tau, betapa hebatnya Bos kita saat beraksi. Dia bisa membunuh lawan dalam hitungan detik, bahkan matamu tak bisa mengikuti kecepatan tangannya.”
“Dan Bos Jek Jon juga satu-satunya orang di sini yang paling cepat menuntaskan banyak misi dari Bos lama.”
Cerita mengenai kehebatan Jay sebagai pemimpin muda di PhantomClaw secara bergiliran diceritakan anggota senior ke anak baru, membuatnya semakin kagum dan menghormati Jay.
Sementara di dalam rumah besar itu, Jay baru saja menyesap teh jahe hangat yang disiapkan pelayan. Di sebelahnya ada pria tua yang seluruh rambutnya sudah memutih, tapi tubuhnya masih terlihat bugar.
“Ini hadiah dari Halim Group.”
Pria tua itu menaruh map berisi akta tanah seluas 1 hektar.
“Lalu ini dari Shangrila Group. Vila utama perumahan paling elit di Pulau Kesturi untukmu.”
Pria tua menaruh sebuah kunci di meja, bersebelahan dengan map tadi.
“Dan ini … hadiah dari Terra Automotive. Kau mendapatkan 100 supercar mereka.”
Pria tua menaruh kotak kayu berisi kunci-kunci dengan lambang supercar ternama. Jay melirik semua yang ada di atas meja sambil menyesap pelan tehnya.
“Ini … ada beberapa pemilik korporasi raksasa yang menghadiahimu saham cukup besar di perusahaan mereka.”
Pak tua meletakkan beberapa map sekaligus di meja kaca.
“Ah, dan ada juga ini.” Pria tua itu berbalik sebentar ke rak kaca di belakangnya dan mengambil patung giok murni berbentuk kuda gagah dengan pahatan rumit dan tentunya harganya susah dijangkau orang kaya biasa. “Ini hadiah dari pemilik Diamond Vogue Company.”
Jay melirik ke semua hadiah untuknya.
“Pak Atin, apakah mereka memberikan ini semua karena tau aku keluar dari penjara?” tanyanya ke pria tua.
Atin menggeleng sebelum berkata, “Mereka hanya diberitahu bahwa kau sedang berulang tahun.”
Jay manggut-manggut puas.
“Mereka nggak tau wajah asliku, kan?” Jay memastikan. “Hanya kalian yang tau. Benar?”
Sekali lagi Atin mengangguk, melegakan hati Jay.
“Selama ini setiap kamu melakukan misi atau beraksi di luar, selalu berkamuflase, alhasil mereka nggak ada yang tau wajah aslimu. Mereka hanya tau bahwa kamu, Raja Bengis Jek Jon sangat berbahaya dan nggak boleh dijadikan musuh. Banyak orang terkaya di Astronesia dan juga pejabat level 1 negara ini segan pada figur Jek Jonmu.” Atin menjabarkan.
Dari sana sudah jelas bahwa ada banyak pengusaha besar dan petinggi Astronesia berusaha menjilat Jek Jon si Raja Bengis pemimpin baru PhantomClaw, organisasi gelap yang kuat dan tak boleh disinggung atau mereka bisa tamat di tangan Jay.
“Bagus! Aku memang ingin tetap begitu. Nanti sore aku ingin kembali ke rumah mertuaku,” putus Jay. “Jangan ada yang mengawal.”
Pada sore harinya, menggunakan motor listrik disertai penampilan setelan kaos dan jins biasa, Jay pergi ke rumah mertuanya di kompleks perumahan elit. Dia ingin memberi kejutan pada mereka karena dia keluar penjara lebih cepat dari yang seharusnya.
Tapi alangkah kagetnya ketika dia melihat rumah itu sudah berganti pemilik.
“Oh, kamu nyari keluarga Sagara? Mereka udah bangkrut! Katanya sih sekarang tinggal di perumahan belakang sini,” ucap satpam penjaga rumah tersebut.
Perumahan belakang? Seingat Jay, itu merupakan kompleks perumahan kecil yang mirip perkampungan. Jay bergegas melajukan motor listriknya ke perumahan yang dimaksud. Hanya perlu menyebut nama keluarga Sagara saja, banyak warga di sana yang langsung menunjukkan lokasi rumah yang dimaksud.
Ketika Jay tiba di depan rumah petak tipe 36 yang terlihat sangat biasa, dia berjumpa dengan ayah mertuanya yang sedang bersantai minum kopi di teras sembari menatap layar ponselnya. “Papa?”
Pria paruh baya di depannya langsung menyemburkan kopinya akibat terlalu terkejut akan kemunculan Jay yang tak terduga. Dia berteriak memanggil istrinya.
Tak lama, muncul perempuan dengan dandanan ala kadarnya dan memakai daster lusuh. Matanya melotot saat melihat Jay dan berseru, “Mau apa kamu datang ke sini? Dasar menantu sampah!”
"Waktu hanyalah deretan angka bagi mereka yang tak mengerti arti menunggu, namun bagi dua jiwa yang pernah terpisah dimensi, waktu adalah sebuah kanvas yang kini mereka warnai dengan kebebasan. Di antara baris-baris kalimat yang pernah memenjarakan mereka sebagai figuran, kini tumbuh sebuah narasi baru—sebuah kisah yang tak lagi butuh pena penulis untuk bergerak, karena cinta telah menjadi tinta yang takkan pernah mengering hingga akhir zaman." ***Beberapa tahun kemudian... Matahari sore di atas ladang anggur Vaelhardt tampak lebih hangat dari biasanya, memberikan rona kemerahan pada bangunan mansion yang kini berdiri kokoh seperti istana kecil di tengah hamparan hijau. Di kejauhan, bagian depan area mansion yang telah diubah menjadi museum botani dan perpustakaan kuno tampak ramai oleh beberapa pengunjung yang mengagumi koleksi bunga-bunga langka milik Nyonya Vaelhardt. Di tengah ketenangan itu, seorang gadis kecil dengan rambut perak yang berkilau seperti rembulan berlari mel
"Cinta adalah sebuah perjalanan yang melintasi ribuan bahasa, ribuan dunia, dan ribuan kemungkinan, hanya untuk berhenti pada satu titik yang disebut rumah. Di sela tangis pertama seorang bayi dan tawa seorang kakak, takdir tak lagi ditulis dengan tinta yang dingin, melainkan dengan hangatnya napas kehidupan. Kesempurnaan bukanlah tentang ketiadaan celah, melainkan tentang bagaimana kepingan-kepingan yang pernah retak menyatu kembali dalam balutan kasih yang tanpa syarat." *** Mansion Vaelhardt belum pernah terlihat seindah ini. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca setinggi langit-langit, memantulkan cahaya pada ribuan kuntum mawar putih yang didatangkan khusus dari toko Gardenia. Aroma persalinan yang steril telah berganti dengan wangi bayi yang lembut dan bedak lavender. Elias berdiri di depan lobi, tangannya dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Eliana. Ia menggendong bayi perempuan mereka, Aura, yang terbungkus selimut kasmir merah muda yang sangat halus. Elian
"Waktu meluncur seperti arus sungai yang tak terbendung, membawa perubahan pada raga namun memperkuat akar pada jiwa. Perut yang dulu hanya berupa tonjolan kecil kini telah menjadi rahim yang megah, menyimpan janji tentang tangis pertama yang akan mengubah dunia. Di ambang penantian yang mendebarkan, cinta bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sebuah kesiapan untuk menyambut fajar yang baru." *** Beberapa bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang indah itu. Musim telah berganti, dan kini Mansion Vaelhardt diselimuti udara yang lebih sejuk. Perut Eliana kini sudah sangat besar, menandakan bahwa waktu melahirkan sudah sangat dekat. Ia duduk di kursi goyang di balkon kamar, menatap dedaunan anggur yang mulai menguning. Setiap gerakannya kini terasa berat, namun ada rasa bahagia yang tak terlukiskan setiap kali ia merasakan tendangan dari dalam rahimnya. "Lagi-lagi kau duduk di luar saat udara dingin, Sayang," suara Elias terdengar penuh kekhawatiran yang lembut. Elia
"Cahaya pagi bukan sekadar tanda berakhirnya malam, melainkan saksi bisu atas dimulainya sebuah babak yang baru. Di bawah atap yang kini tak lagi terasa dingin, aroma kopi dan tawa seorang anak menyatu menjadi harmoni yang menenangkan jiwa. Takhta telah berganti menjadi kursi kayu di meja makan, dan perintah kaku telah melunak menjadi percakapan hangat yang mengeja makna sebuah rumah." *** Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap melalui celah gorden sutra, membelai wajah Eliana yang masih terlelap. Ia mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di pinggangnya. Elias masih di sana, memeluknya dari belakang dengan napas yang teratur dan tenang. Eliana tersenyum, menyentuh tangan besar suaminya yang melingkar protektif di perutnya. "Sayang... bangun, ini sudah pagi," bisiknya lembut sambil mencoba berbalik. Elias bergumam rendah, bukannya melepaskan, ia justru mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Eliana. "Lima menit lagi, Sayang. Ini adalah tidur pali
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore