Nukila Amal! Penulis ini emang jarang muncul di media, tapi karyanya selalu bikin gemas. Awalnya aku dikenalin sama temen kos yang jurusan sastra, katanya 'Isteri yang Tak Diinginkan' itu wajib dibaca. Gaya bahasanya itu lho, kadang puitis banget sampe bikin merinding, tapi di halaman berikutnya tiba-tiba nyerang pakai kalimat pendek yang menusuk. Aku suka caranya membongkar ekspektasi masyarakat terhadap peran istri tanpa merasa menggurui. Buku ini salah satu yang paling sering aku pinjemin ke temen-temen, dan selalu jadi bahan diskusi seru sampai larut.
Pernah nggak sih nemu buku yang bikin kamu merasa 'kok bisa ya ada orang yang ngerti banget perasaan tersembunyi kita'? 'Isteri yang Tak Diinginkan' karya Nukila Amal begitu buatku. Awalnya kupikir ini novel romansa biasa, eh ternyata lebih dalam dari itu. Nukila itu jenius dalam memotret konflik batin perempuan modern. Aku suka bagaimana dia tidak menjawab semua pertanyaan dalam ceritanya, justru membiarkan pembaca menarik kesimpulan sendiri. Karya-karyanya termasuk yang langka - bisa bikin marah, sedih, dan terinspirasi dalam satu bab yang sama. Baru-baru ini aku cari karya lain dia, ternyata dia juga menulis cerpen yang tak kalah powerful.
Kalau bicara penulis Indonesia yang berani sentuh tema-tema tidak populer, Nukila Amal pasti masuk list. 'Isteri yang Tak Diinginkan' itu buktinya. Aku baca buku ini tiga tahun lalu dan sampai sekarang masih ingat betul beberapa adegan yang bikin trenyuh. Yang bikin Nukila spesial adalah kemampuannya menulis dengan emosi tapi tanpa melodrama. Ceritanya realistis banget, sampai kadang uncomfortable to read. Tapi justru itu kekuatannya - membuat kita confront realities yang sering dihindari.
Buku 'Isteri yang Tak Diinginkan' adalah karya penulis Indonesia yang cukup kontroversial, Nukila Amal. Aku pertama kali menemukan bukunya di rak rekomendasi toko buku lokal, dan sampulnya yang minimalis langsung menarik perhatian. Nukila punya gaya bercerita yang puitis namun tajam, seperti pisau yang menyayat pelan. Aku ingat betapa terkejutnya aku saat membaca bagaimana dia menggambarkan dinamika hubungan pernikahan dengan begitu raw dan tanpa filter.
Yang bikin karyanya unik adalah cara dia mengeksplorasi psikologi perempuan dalam budaya patriarki. Aku pernah baca wawancaranya di sebuah majalah sastra, dan ternyata inspirasi bukunya datang dari observasi dia terhadap fenomena sosial di sekitar. Keren banget bagaimana dia bisa mengangkat tema 'tabu' jadi sesuatu yang bisa didiskusikan dengan terbuka.
2026-07-13 08:23:27
2
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya
Pena ngkap
0
370
Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya
Pernikahan yang kujalani bertahun-tahun kupikir dibangun dari kepercayaan dan pengorbanan. Aku istri yang sah, perempuan yang menjaga rumah, nama, dan harga diri suaminya. Hingga suatu hari aku sadar, status sebagai istri tak lagi menjadikanku satu-satunya.
Kehadiran perempuan lain memecah hidupku menjadi dua: sebelum aku tahu, dan setelah aku tak bisa lagi berpura-pura. Aku dipaksa berdamai dengan kenyataan bahwa cintaku tak cukup untuk membuatku dipilih. Di antara pengkhianatan yang dibungkus dalih tanggung jawab, aku dan perempuan itu sama-sama menjadi korban dari seorang lelaki yang ingin memiliki segalanya tanpa kehilangan apa pun.
Ketika keadilan tak pernah benar-benar berpihak, aku dihadapkan pada pilihan paling kejam: bertahan dan perlahan menghilang, atau pergi dengan membawa luka yang tak pernah sembuh. Dalam pernikahan yang melibatkan tiga hati, tak ada pemenang—hanya perempuan yang dipatahkan, dan cinta yang berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut rumah.
"Kita hanya punya satu urusan. Aku hanya butuh keturunan darimu. Setelah itu, kita akan bercerai.“
Sandra pernah berpikir bahwa pernikahan adalah awal dari kebahagiaan, tapi realita justru menamparnya. Hidupnya berubah menjadi penjara, dengan suami yang tak pernah menginginkannya, dan cinta yang tak pernah ia terima.
Di tengah rasa sakit dan penolakan, Sandra harus memutuskan bertahan atau melepaskan seseorang yang sejak awal memang tak pernah menjadi miliknya.
Bisakah Sandra mempertahankan pernikahannya? Ataukah hatinya akan terus hancur dalam pernikahan tanpa cinta ini?
"Kamu sudah ga punya dua keistimewaan sebagai wanita! Kamu pikir aku dan keluargaku gila mau menjadikanmu istriku, hmm?"
Jika Aida Tazkia bukan anak orang kaya, dirinya juga tak memiliki bentuk tubuh yang sesuai dengan kriteria Reiko Byakta Adiwijaya, apalagi keluarga Reiko juga bukan orang gila yang mau menjadikannya istri Reiko, lalu kenapa pria itu tetap menikahinya?
Banyak pertanyaan di benak aida tentang rahasia Reiko
Ada juga ketakutan yang hinggap dalam benaknya tentang biduk rumah tangga yang akan dijalaninya.
Akankah Aida bisa lepas dari belenggu keluarga Adiwijaya? Akankah dia menemukan kebahagiaan dan cinta dalam hidupnya? Dapatkah seorang survivor kanker merasakan kebahagiaan dengan pasangannya seperti wanita normal?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam novel romance: Istri yang Tak Sempurna
info lengkap ig @ri.chi_rich
Hasrat Bukan Menantu Idaman
Jovan bukanlah menantu yang diidamkan oleh keluarga istrinya. Sejak awal pernikahan, ia dihina, direndahkan, dan dianggap tak pantas berdampingan dengan Nayla. Namun, waktu mengubah segalanya. Tiga tahun berlalu, Jovan kembali—bukan sebagai pria terpuruk yang mereka usir, melainkan sebagai sosok yang berkuasa, dihormati, dan memikat.
Bu Intan, yang dulu menolaknya mentah-mentah, kini tak bisa mengalihkan pandangannya. Ada daya tarik yang tak terbantahkan dalam diri Jovan—lelaki yang pernah ia hina, kini berdiri sejajar dengan orang-orang terpandang, dengan sorot mata penuh rahasia dan senyum yang mengundang bahaya.
Apakah ini kesempatan Jovan untuk membalas dendam? Ataukah ia justru akan terjerat dalam permainan hasrat yang lebih berbahaya?
Saat dendam dan godaan bertaut, batas antara balas sakit hati dan hasrat terlarang semakin kabur. Siapa yang akan jatuh lebih dalam—Jovan atau mereka yang dulu menganggapnya rendah?
Feli tak menyangka menikah dengan pria yang ramah dan baik seperti Archer adalah mimpi buruk baginya. Kata cinta yang keluar dari mulut pria itu hanya sandiwara belaka. Archer menikahinya demi membalas dendam atas kesalahan Feli tiga tahun lalu.
Perlakuan dingin dan semena-mena suaminya membuat Feli berkali-kali mencoba lari dari jerat pernikahan itu. Feli tak tahan. Setiap harinya seperti berada di neraka. Namun, sekeras apapun Feli meminta dilepaskan, sekeras itu pula Archer 'menggenggamnya'.
"Tidak ada perceraian. Kamu akan selalu ada dalam genggamanku, Feli, hanya untuk memastikan kamu tidak bahagia seumur hidupmu." -Archer-
Lilis disilaukan oleh kemewahan, semantara Hendra hanya seorang buruh pabrik yang tidak mampu memenuhi semua keinginan istrinya.
"Aku gila karena hidup miskin, maka itu... kamu harus nikah dengan Juwita!"
"Nggak, aku nggak bisa." Hendra menolak keras, hidupnya bukan seperti barang yang rela ditukar dengan harta. Meski selamanya hidup pas-pasan, Hendra tidak akan pernah mau menikah dengan wanita kaya yang menawarkan setengah dari hartanya.
"Kalau gitu ceraikan aku sekarang juga, dan Alan ikut denganku!" ancam Lilis tak main-main.
Alan adalah putra mereka satu-satunya. Alan lah alasan Hendra selalu bersemangat meski harus membanting tulang setiap hari. Dengan desakan seperti ini, apakah Hendra harus menerima tawaran wanita kaya itu, dan menggadaikan harga dirinya demi keinginan sang istri?
**
Selamat datang di novel ke 4 aku, dan semoga kakak semua menyukainya. Jangan lupa masukkan ke rak dan tinggalkan komentar ya, kak. Ikuti juga media sosial author di F*B Butiran Debu, dan I*G @butiran_debugn
Ada satu buku yang cukup sering dibahas di komunitas pembaca lokal, terutama yang suka cerita-cerita tentang dinamika rumah tangga. 'Istri yang Tak Dicintai' ditulis oleh Indah Riyana, seorang penulis Indonesia yang karyanya banyak menyentuh tema hubungan percintaan dan keluarga. Aku pertama kali menemukan bukunya di rak rekomendasi toko buku online, dan langsung tertarik karena judulnya yang provokatif. Gaya penulisannya sangat menggambarkan konflik batin dengan detail yang emosional, membuat pembaca bisa merasakan pergolakan dalam ceritanya.
Indah Riyana memang punya ciri khas dalam mengangkat kisah sehari-hari tapi dibumbui dengan ketegangan psikologis. Buku ini salah satu yang sering direkomendasikan untuk mereka yang suka cerita realistis tapi dalam. Nggak heran kalau banyak yang bilang karyanya cocok buat bahan diskusi book club.
Ada satu novel yang cukup menggelitik perhatianku beberapa waktu lalu, judulnya 'Istri yang Tak Dianggap'. Awalnya kupikir ini karya penulis lokal karena tema rumah tangganya sangat relate dengan budaya kita. Ternyata setelah kubaca-baca, penulisnya adalah Iwan Setyawan, seorang penulis Indonesia yang juga dikenal lewat novel '9 Summers 10 Autumns'. Gayanya khas banget, bisa bikin pembaca terbawa emosi tapi tetap disajikan dengan bahasa yang ringan.
Yang menarik, Iwan ini punya latar belakang sebagai profesional di bidang TI sebelum beralih ke dunia sastra. Mungkin itu yang bikin tulisannya nggak melulu soal drama, tapi juga ada unsur logika dan struktur cerita yang rapi. Novel 'Istri yang Tak Dianggap' sendiri bercerita tentang perselingkuhan dengan sudut pandang yang jarang diangkat - dari sisi istri yang justru sadar tapi memilih diam. Duh, bacanya bikin geram sekaligus miris!
Novel tentang pernikahan yang tidak diinginkan tuh banyak banget yang bikin nagih, tapi penulis yang paling sering ku temuin ngehandle tema ini dengan apik itu Helen Hoang. Dia bikin 'The Kiss Quotient' dan 'The Bride Test' yang dua-duanya punya premis pernikahan atau hubungan terpaksa tapi berakhir manis. Karakter-karakternya selalu punya depth, nggak cuma sekadar 'oh kita nikah karena terpaksa lalu jatuh cinta' gitu aja.
Selain itu, ada juga penulis seperti Jasmine Guillory yang lewat 'The Proposal' ngangkat cerita pacaran terpaksa karena tekanan sosial. Yang bikin karyanya special itu cara dia masukin isu ras dan gender dengan ringan tapi impactful. Buat yang suka sesuatu lebih dark, Colleen Hoover di 'It Ends with Us' juga nyentuh tema pernikahan complicated, meskipun nggak 100% tentang pernikahan terpaksa.
Membaca novel 'Isteri yang Tak Diinginkan' itu seperti menyelami rollercoaster emosi yang intens. Di akhir cerita, tokoh utama akhirnya menemukan kekuatan untuk melepaskan diri dari hubungan toxic yang selama ini membelenggunya. Proses penyembuhan dirinya digambarkan dengan sangat realistis—tidak instan, tapi penuh langkah kecil yang bermakna. Adegan penutupnya menunjukkan dia mulai membangun hidup baru, dengan pekerjaan yang dicintai dan lingkaran pertemanan yang mendukung. Yang paling kusuka, ending ini tidak terjebak dalam klise 'happy ending ala dongeng', tapi justru memberi ruang untuk harapan yang lebih autentik.
Aku sempat merenung lama setelah menutup buku ini. Endingnya mengingatkanku bahwa kadang, 'kemenangan' terbesar justru terletak pada keberanian memilih diri sendiri. Novel ini cukup berani menolak narasi romansa konvensional dan memilih fokus pada pertumbuhan personal. Meski beberapa pembaca mungkin kecewa karena tidak ada rekonsiliasi, menurutku justru ini kekuatan ceritanya.