Contoh Geguritan Gagrag Lawas

ABO 성격 퀴즈
빠른 퀴즈를 통해 당신이 Alpha, Beta, 아니면 Omega인지 알아보세요.
테스트 시작하기

관련 작품

Gelora Hasrat Sang Ipar

Gelora Hasrat Sang Ipar

Berita kematian Ayahanda membuat Gaby melangkahkan kakinya kembali ke tanah air. Meski tahun berganti, namun perasaan yang dimiliki Gaby pada Mike—sang ipar tak pernah berubah hingga membuatnya goyah dan kembali hanyut dalam asmara yang kini terlarang baginya. Semakin lama perasaan Gaby semakin tak terbendung meskipun ia tahu, ada sosok Ibu dan saudara tiri yang akan berusaha keras menghancurkan cintanya seperti yang mereka lakukan di masa lalu. Di tengah kebimbangan hatinya, Harry—sang kekasih memintanya kembali. Kini, Gaby berdiri di jembatan dengan dua sisi yang berlawanan. Apakah ia harus kembali pada sang kekasih ataupun mengejar sang ipar—cinta pertamanya.
10 30 챕터
Lingsir Wengi -Tembang jawa

Lingsir Wengi -Tembang jawa

Di sebuah desa Jawa yang masih memegang erat adat dan kepercayaan leluhur, sebuah rumah tua menjadi pusat teror yang tak pernah selesai. Rumah itu dulunya milik seorang sinden yang dikenal memiliki suara indah, namun mati dengan cara tragis saat sedang membawakan tembang "Lingsir Wengi". Arwahnya dipercaya gentayangan, menjerat siapa pun yang berani melantunkan lagu itu di malam hari. Satu per satu orang yang menyepelekannya, ditemukan mati dengan wajah pucat, telinga berdarah, dan tubuh membeku seperti sedang mendengar sesuatu yang tak kasat mata. Dan ketika seorang gadis bernama Ratna pindah ke desa itu, suara tembang "Lingsir Wengi" kembali terdengar dari rumah kosong tersebut setiap malam menjelang jam dua belas. Ratna harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi—atau ia akan menjadi korban berikutnya.
0 7 챕터
Sang Gula Kelapa di Langit Kahuripan

Sang Gula Kelapa di Langit Kahuripan

Konon, di jaman Kerajaan Kahuripan ada seorang pangeran dari Sunda Galuh yang melepaskan haknya sebagai Putra Mahkota dan memilih menjadi seorang Wiku, kemudian mengembara ke Kahuripan. Sepanjang pengembaraannya, ia lebih suka memberi pertolongan kawulo alit dengan kemampuannya menyembuhkan berbagai penyakit dengan ramuan dedaunan tanpa mau menerima upah. Karena kebersihan dan kesucian hatinya, hatinya diibaratkan sangatlah putih dan suci. Ia mempunyai adik seperguruan. Seorang putri Mahkota Kahuripan yang karena situasi sedari kecil sudah dikepung bahaya maka dididik keras agar memiliki ilmu untuk membela diri dan berpakaian seperti laki-laki sampai remaja. Ternyata ia sangat berbakat menjadi orang sakti Mandraguna dan sedari kecil sudah menunjukkan keberaniannya. Karena ia seorang yang berani maka diibaratkan ia berjiwa merah. Pada jilid-jilid awal ditunjukkan mereka baru pulang dari Sunda Galuh menuju ke padepokan gurunya dan bermalam di sebuah kabuyutan. Mulai dari sana mereka menjumpai peristiwa yang menyingkap gerombolan besar yang akan memberontak kepada kerajaan. Apalagi kemudian ada utusan dari kerajaan yang hendak menjemput kepulangannya. Ternyata dari penuturan sang putri mahkota mengisyaratkan bahwa hati mereka sudah saling tertarik semenjak menerima pelajaran di kelas. Hanya karena sang putri mahkota belum jujur bahwa ia seorang wanita maka perasaan mereka masih terpendam. Apakah sang putri mahkota akan mengungkap jati diri yang sebenarnya?
0 12 챕터
Gurauan yang Berakhir Tragis

Gurauan yang Berakhir Tragis

Begitu mulai makan, suamiku langsung tidak dapat mengendalikan mulutnya. Pengalaman tragisku saat masih sekolah pun menjadi “obrolan” dia dan teman-temannya. “Dulu, dia ditelanjangi di kamar mandi. Habis itu, dia dipukul sampai merangkak di lantai, tapi tetap nggak berani bersuara. Kalau bukan karena aku baik hati ....” Kesabaranku akhirnya sudah habis. Aku pun mengajukan cerai. Namun, dia tidak peduli. “Ini cuma candaan kok. Lagian, kejadian itu sudah berlalu begitu lama. Kok kamu kecil hati banget! Kami cuma mau senang-senang kok!” Mau senang-senang? Memangnya hanya aku sendiri yang punya masa lalu? Kenapa dia tidak mengungkit tentang skandal teman semasa kecilnya? Baiklah. Hanya “mau senang-senang”, ‘kan? Aku harap teman semasa kecilnya itu juga berpikiran sama!
10 9 챕터
GAIRAH YANG TERTAHAN

GAIRAH YANG TERTAHAN

Tiga tahun menikah, tiga tahun pula aku dituntut untuk segera memberikan seorang cucu oleh Ibu Mertuaku. Mau pecah rasanya kepalaku karena selalu hal itu yang dibahas disetiap pertemuan kami. Sampai akhirnya, selain ujian belum juga mempunyai keturunan. Tiba-tiba ekonomi kami goyah, disaat yang berbarengan istri mantan suamiku kembali. Aku memutuskan untuk kembali bekerja. Semua bermula dari sana. Awal mula aku bermain di belakang Suamiku. Sebab yang tak kudapatkan dari Suamiku, nyatanya bisa dengan mudah aku dapatkan dari atasanku, entah perihal ranjang apalagi materi.
9.7 181 챕터
GAIRAH MASA LAJANG

GAIRAH MASA LAJANG

Aku dimaki dan diperlakukan tidak manusiawi di rumah Om ku sendiri oleh Tante Dewi, hingga aku memutuskan untuk mencari kos-kosan dan tinggal di sana demi melanjutkan pendidikanku di kota itu. Untuk menutupi kekurangan kebutuhan sehari-hari, aku rela menjadi kuli angkat di pasar sepulang dari sekolah. Meskipun hidup pas-pasan namun aku lebih nyaman ketimbang harus tinggal di rumah Om Ramlan, namun masalah kembali datang ketika aku terjebak oleh birahi liar Bu Dola Guruku sendiri hingga membuat aku ketagihan untuk selalu melakukannya setiap kali Bu Dola mengajakku berhubungan badan. Masalah semakin runyam ketika hadir rasa nyaman di antara kami, hingga tumbuh benih-benih cinta. Akankah hubungan gelapku dengan Bu Dola terus berlanjut? Atau aku hanya sebatas pelampiasan nafsunya saja karena Bu Dola diketahui telah bersuami?
10 224 챕터

Apa contoh geguritan gagrag lawas paling terkenal di Jawa?

1 답변2026-05-29 11:37:51
Geguritan gagrag lawas yang paling terkenal di Jawa mungkin adalah 'Serat Centhini'. Karya sastra Jawa klasik ini bukan sekadar kumpulan puisi, tapi semacam ensiklopedia budaya yang ditulis dalam bentuk tembang. Dibuat sekitar abad ke-18 atas perintah Sunan Pakubuwono IV dari Surakarta, isinya mencakup segala hal mulai dari spiritualitas, seksualitas, hingga resep masakan tradisional.

Yang bikin 'Serat Centhini' istimewa adalah cara penyampaiannya yang puitis namun sangat detail. Bayangkan sebuah perjalanan spiritual tiga pemuda yang mengelana sepanjang Pulau Jawa, belajar tentang kehidupan dari berbagai guru. Setiap pengalaman mereka diceritakan melalui syair-syair indah berbahasa Jawa Kuna yang sarat makna. Konon naskah aslinya mencapai 12 jilid tebal!

Kalau mau contoh geguritan yang lebih pendek, ada 'Serat Kalatidha' karya Ranggawarsita. Isinya lebih filosofis, membahas tentang zaman edan dimana orang kehilangan pegangan hidup. Bait-baitnya sering dikutip sampai sekarang karena dianggap masih relevan dengan kondisi modern. Misalnya bagian yang bilang 'amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi' - menghadapi zaman gila, serba salah dalam bertindak.

Bedanya dengan geguritan modern, karya-karya lawas ini biasanya pakai metrum macapat yang ketat. Ada aturan khusus tentang jumlah baris, suku kata, dan bunyi akhir dalam setiap bait. Tapi justru disitulah keindahannya - dibatasi aturan justru melahirkan kreativitas luar biasa. Sampai sekarang geguritan lawas tetap dipelajari bukan cuma sebagai sastra, tapi juga sebagai panduan hidup.

Bagaimana contoh geguritan gagrag anyar yang populer?

2 답변2026-05-25 20:45:21
Geguritan gagrag anyar itu seperti puisi modern yang mengangkat isu-isu kekinian dengan bahasa yang lebih santai tapi tetap punya kedalaman. Salah satu contoh yang sempat viral di media sosial adalah karya bernama 'Ruang Rindu' yang bercerita tentang kesepian di tengah keramaian digital. Pengarangnya memakai metafora layar ponsel sebagai 'jendela tanpa tepi', menggambarkan bagaimana kita terhubung tapi tetap merasa sendiri.

Yang menarik dari geguritan semacam ini adalah permainan kata-katanya yang segar. Misalnya ada baris 'like tanpa jejak, love sekadar sticker' yang dengan jenak mengkritik hubungan permukaan di era media sosial. Beberapa pengarang muda bahkan menyelipkan istilah populer seperti 'ghosting' atau 'flexing' tapi diolah dengan indah dalam struktur tembang Jawa modern.

Di komunitas sastra daring, geguritan gaya baru seperti 'Instagramming ati' juga banyak dibicarakan. Karya ini memadukan bahasa Jawa kromo inggil dengan slang anak muda, menciptakan kontras menarik antara tradisi dan modernitas. Bait terakhirnya yang berbunyi 'dhuh instagram, mugo-mugo sing sampeyan like iku dudu wajah nanging jiwa' menjadi semacam sindiran halus tentang budaya selfie.

Bagaimana ciri-ciri geguritan gagrag lawas yang autentik?

1 답변2026-05-29 08:24:40
Geguritan gagrag lawas itu punya karakteristik unik yang bikin kita langsung bisa ngeh, 'Oh ini karya jaman dulu banget!' Pertama, dari segi bahasa, biasanya pakai Bahasa Jawa Kuna atau Kawi yang sarat dengan kata-kata klasik. Diksi yang dipilih itu berat, filosofis, dan sering nyerempet-nyerempet sama kosakata sastra keraton. Misalnya nih, penggunaan kata 'sanghyang' atau 'pandhita' yang sekarang jarang banget dipake dalam geguritan modern.

Strukturnya juga khas, biasanya nggak terikat sama pola rima ketat seperti parikan, tapi lebih free-flowing dengan alunan yang puitis. Ada semacam 'lir-ilir' dalam bahasanya - kalau dibaca keras-keras bakal kedengeran kayak mantra atau doa. Beberapa karya lawas bahkan sengaja dibikin untuk dinyanyikan, makanya punya irama natural yang enak di kuping.

Tema yang diangkat biasanya berat-barat: filsafat hidup, hubungan manusia dengan alam, atau kritik sosial halus yang diselipin dalam simbolisme. Nggak jarang nemu referensi ke cerita pewayangan atau babad kerajaan. Ini beda banget sama geguritan modern yang lebih personal dan eksperimental. Yang lawas itu rasanya seperti dongeng yang ditulis buat generasi mendatang, bukan sekadar ekspresi individu.

Yang paling gampang dikenali sih dari 'rasa'-nya. Geguritan lawas itu selalu meninggalkan aftertaste tertentu setelah dibaca - semacam biji kopi yang nggak langsung terasa tapi meninggalkan rasa di lidah lama setelah diminum. Biasanya endingnya nggak gratisan, tapi bikin mikir dan pengen baca ulang buat nangkep makna tersembunyinya.

Di mana bisa menemukan buku kumpulan geguritan gagrag lawas?

2 답변2026-05-29 10:50:09
Pertanyaan tentang geguritan lawas ini mengingatkanku pada perburuan harta karun sastra Jawa yang sering kulakukan di sudut-sudut kota. Ada beberapa tempat menarik untuk mencari buku semacam itu - pasar loak seperti Pasar Triwindu Solo atau Pasar Beringharjo Jogja sering menjadi surga tak terduga. Aku pernah menemukan 'Geguritan Basa Jawi' terbitan 1950-an di lapak pedagang tua yang ternyata menyimpan banyak koleksi langka di balik tumpukan koran bekas.

Kalau mau yang lebih terjamin, coba datangi perpustakaan khusus seperti Perpustakaan Sanabudaya Jogja atau Rekso Pustaka Mangkunegaran. Mereka biasanya punya arsip digitalisasi naskah-naskah kuno termasuk geguritan. Temanku yang peneliti filologi sering memesan fotokopi naskah abad 19 dari sana. Untuk pembelian online, grup-grup Facebook seperti 'Jual Beli Buku Antiquariat' atau toko daring 'Buku Langka Djoko' secara berkala menawarkan koleksi serupa.

Siapa pengarang geguritan gagrag lawas yang legendaris?

2 답변2026-05-29 03:59:06
Membahas geguritan gagrag lawas selalu bikin aku merinding. Ada satu nama yang terus muncul dalam obrolan pecinta sastra Jawa klasik: Raden Ngabehi Ronggowarsito. Kalau ngomongin legenda, karyanya seperti 'Serat Kalatidha' atau 'Serat Sabdajati' itu bukan sekadar tulisan, tapi semacam ramalan sosial yang relevan sampai sekarang. Aku pertama kali kenal karyanya waktu masih SMP lewat guru bahasa Jawa yang super passionate. Yang bikin kagum, geguritan-gubahannya itu padat makna, penuh kritik halus terhadap pemerintahan kolonial, tapi dibungkus dengan metafora alam dan falsafah hidup yang dalam.

Dulu sempet mikir, kok bisa ya orang zaman dulu nulis sesuatu yang timeless banget? Ronggowarsito itu kayak kombinasi antara pujangga, filsuf, dan peramal. Gaya bahasanya yang khas—pakai 'basa rinengga' (bahasa berhias)—bikin pembaca harus menikmati setiap baris pelan-pelan. Aku pernah coba terjemahkan 'Serat Wedharaga' bareng teman komunitas sastra Jawa, dan rasanya kayak ngobrol sama orang bijak dari abad ke-19. Karyanya itu warisan budaya yang harusnya lebih banyak dibaca generasi muda.

Bagaimana cara menulis geguritan gagrag anyar untuk pemula?

3 답변2026-05-25 16:45:45
Geguritan gagrag anyar itu seperti mencicipi es krim rasa baru—seru tapi butuh keberanian untuk eksplorasi! Awalnya aku bingung karena struktur tradisional Jawa biasanya ketat, tapi gaya kontemporer ini justru memberi kebebasan. Kuncinya adalah memulai dengan tema sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti 'senja di warung kopi' atau 'keriuhan angkringan'. Jangan terpaku pada guru lagu dan guru wilangan dulu, biarkan kata-kata mengalir natural seperti obrolan.

Aku sering memanfaatkan diksi modern seperti 'gawai' atau 'streaming' untuk memberi nuansa kekinian. Contohnya, geguritanku tentang mudik lebaran memadukan kata 'macet tol' dengan 'kentongan masjid'. Penting juga bermain dengan enjambemen—pemotongan baris yang menciptakan ritme tak terduga. Setelah draft jadi, baru dirapikan dengan mempertimbangkan musikalitas bahasa Jawa. Justru kejutan inilah yang membuat gagrag anyar terasa segar!

Bagaimana cara membuat contoh geguritan yang baik?

2 답변2026-06-03 23:07:05
Geguritan itu seperti lukisan kata yang mengalir dari hati. Aku ingat pertama kali mencoba menulis satu tahun lalu—sama sekali tak mudah! Tapi setelah membaca banyak karya penyair Jawa seperti R. Ng. Ranggawarsita, baru paham bahwa rahasianya ada di permainan bunyi dan kedalaman makna. Contohnya, aku suka menulis tentang alam dengan diksi sederhana: 'Angin mbeguri/ ning wanci subuh/ kaya bisikane embun/ marang kembang kang lagi turu.' Kuncinya: biarkan kata-kata bernapas dalam irama natural, jangan dipaksa rimanya.

Yang kubaca dari buku 'Geguritan: Teori dan Praktik', struktur 4 baris per bait itu paling fleksibel untuk pemula. Baris pertama biasanya pengantar suasana, kedua-tiga inti cerita, lalu baris terakhir berisi 'sasmita' (pesan tersirat). Jangan lupa gunakan sarana sastra seperti 'sasmita gending' (kiasan musikal) atau 'purwakanthi' (pengulangan bunyi konsonan/vokal). Aku sering dengar di komunitas pecinta sastra Jawa bahwa geguritan bagus itu seperti gending—terdengar merdu bahkan sebelum dipahami artinya.

Contoh geguritan dan ciri khasnya apa saja?

4 답변2026-05-26 19:54:44
Geguritan itu seperti puisi dalam bahasa Jawa yang punya keunikan tersendiri. Aku suka banget lihat bagaimana tiap barisnya bisa bercerita dengan irama yang khas, biasanya pakai tembang atau pola tertentu. Misalnya nih, geguritan 'Kurung Baku' karya R. Ng. Ranggawarsita itu punya ciri khas penggunaan bahasa Jawa kuno yang puitis banget, plus ada unsur filosofis kehidupan.

Yang bikin menarik, geguritan sering pakai simbol alam—kayu, angin, atau banyu—untung ngungkapin perasaan. Bedanya sama puisi modern, diksinya lebih halus dan banyak majas, kayak parikan atau sasmita. Aku selalu nemuin kedalaman makna di balik kata-kata sederhananya, kayak ada 'rasa' Jawa yang autentik.

Apa perbedaan geguritan gagrag lawas dan modern?

2 답변2026-05-29 22:26:00
Ada sesuatu yang magis ketika membicarakan geguritan gagrag lawas—seperti menyelami sumur tua yang masih memancarkan kejernihan. Bentuknya seringkali terikat ketat dengan aturan 'tembang', dengan pola guru lagu dan guru wilangan yang saklek. Misalnya, 'Dhandhanggula' atau 'Sinom' punya pakem sendiri yang harus diikuti, dari jumlah baris hingga vokal akhir setiap suku kata. Isinya biasanya berkisar pada falsafah hidup, nasihat moral, atau kisah epik seperti 'Bharatayuddha'. Bahasanya lebih klasik, penuh dengan kiasan dan simbol-simbol budaya Jawa yang dalam. Keindahannya terletak pada disiplin strukturalnya, seolah setiap kata adalah tarian yang terukur.

Sementara itu, geguritan modern lebih seperti graffiti di tembok kota—bebas dan personal. Aturan tembang sering diabaikan demi ekspresi individu. Bahasanya lebih lentur, kadang mencampur Bahasa Indonesia atau bahkan slang. Tema yang diangkat pun lebih beragam: dari kritik sosial, keresahan pribadi, hingga absurditas sehari-hari. Contohnya, karya-karya Sosiawan Leak atau Binhad Nurrohmat sering memecah tradisi dengan metafora yang provokatif. Yang menarik, justru dalam 'pelanggaran' aturan inilah modernitas menemukan kekuatannya—sebuah pemberontakan kreatif yang masih menghormati akar, tapi tak mau terpenjara olehnya.

Siapa pencipta geguritan gagrag anyar terkenal?

2 답변2026-05-25 12:07:25
Geguritan gagrag anyar adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang mengalami modernisasi, dan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam menghidupkan kembali bentuk ini adalah Mpu Tanakung. Karyanya tidak hanya mempertahankan estetika klasik tetapi juga menyuntikkan nuansa kontemporer yang membuatnya lebih mudah dinikmati generasi sekarang.

Yang menarik dari Mpu Tanakung adalah kemampuannya menggabungkan filosofi Jawa kuno dengan isu-isu modern, seperti lingkungan atau teknologi, tanpa kehilangan esensi sastra. Geguritan-guritannya sering dibawakan dalam acara budaya atau bahkan diadaptasi menjadi lagu, menunjukkan betapa karyanya masih relevan. Kreativitasnya dalam memainkan diksi dan ritme membuat karyanya cocok baik untuk dibaca sendiri maupun dipertunjukkan.

관련 검색

인기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status