
Dibuang Saat hamil, Dicari Saat MelahirkanGhea Paramita baru saja mengakui kehamilannya kepada Arishen Mahendra. Tanpa membuang waktu, sang CEO langsung membawanya ke Kantor Catatan Sipil hari itu juga. Malamnya, Ghea resmi pindah ke mansion mewah milik keluarga Mahendra yang luasnya lebih dari 1.000 meter persegi.
Sebagai sekretaris utama, Ghea sangat mengenal tabiat bosnya. Ia sadar betul bahwa di dunia bisnis Arishen, tidak ada yang namanya makan siang gratis.
"Setelah anak ini lahir, kita akan bercerai. Hak asuh sepenuhnya ada di tangan saya," ucap Arishen dingin.
Ghea, yang saat itu berada dalam posisi sulit, sadar ia tak punya kekuatan untuk melawan dominasi sang CEO. Ia tahu Arishen tidak akan pernah melepaskan darah dagingnya, jadi ia hanya bisa mengangguk setuju.
Namun, seiring pertumbuhan bayi di kandungannya, sikap CEO Mahendra itu berubah drastis dari hari ke hari:
Bulan Pertama: "Sekretaris Ghea, jangan lupa jadwal pemeriksaan kandungan bulan ini. Minta seseorang menemani Anda."
Bulan Ketiga: "Ghea, tanggal berapa jadwal kontrolmu bulan ini? Kabari saya, jangan sampai lupa."
Bulan Keenam: "Ghea, aku sendiri yang akan menemanimu ke dokter tanggal 15 nanti."
Menjelang Persalinan: "Sayang, aku sudah siapkan semua kebutuhan untuk pemeriksaan besok. Kamu tidak perlu khawatir apa pun."
Saat Arishen pertama kali merasakan gerakan bayi dalam perut Ghea, ekspresi gembira dan haru di wajah sang CEO yang biasanya kaku membuat Ghea merasa sedikit konyol.
Arishen kemudian menatap Ghea dalam-dalam dan berkata, "Istriku, jangan pernah berpikir soal cerai lagi. Kamu boleh mengasuh anak kita, asalkan aku juga tetap bisa bersamamu."